My Boss, Is My Husband

My Boss, Is My Husband
Very Busy


__ADS_3

Grrtt.....


Hanna menoleh, ke arah ponsel Rey yang bergetar. Ada panggilan dari nomor yang tak dikenal.


"Siapa?" Tanya Rey, yang masih sedang disibukkan dengan perlengkapan make up Hanna. Ia sedang memasukkan satu persatu benda benda itu kedalam tas make up.


"Nomor tak dikenal." Imbuh Hanna, memberitahu Rey.


"Angkat saja." Rey kembali melanjutkan.


Hanna meraih ponsel Rey, lalu menerima panggilan itu.


"Hallo.." Imbuh Hanna lembut.


"Selamat siang, apa benar ini dengan kontak Pak Rey?" Tanya seseorang dari balik telpon itu.


"Iya benar." Jawab Hanna.


"Apa bisa saya berbicara langsung dengan Pak Rey?"


"Tentu.." Hanna bangkit dari duduknya, lalu menyerahkan ponsel pada Rey. "Dia ingin berbicara langsung denganmu." Imbuh Hanna, setelahnya kembali ke posisi duduknya saat Rey mulai berbicara dengan si penelpon.


"Baiklah, aku akan menemuinya besok." Ucap Rey, lalu mengakhiri panggilan itu.

__ADS_1


"Apa katanya?" Hanna menjadi sangat penasaran, sedari tadi ia hanya memperhatikan Rey yang tampak serius bercakap dengan si penelpon.


"Katanya dia sudah memikirkan kopensasi apa yang ingin ia minta. Dan besok akan membertahukannya secara langsung."


"Kenapa tak beritahu saja sekarang di telpon?" Imbuh Hanna agak jutek.


"Entah.." Imbuh Rey sambil menaikkan kedua bahunya, lalu terkekeh. Ia pun tak mengerti, mengapa gadis itu sangat merepotkan.


*


"Apa sudah dipastikan tidak ada yang tinggal?" Tanya Hanna, ketika mereka sudah bersiap untuk keluar dari apartemen dan menuju bandara.


"Sudah.. Lagi pula kalau ada yang ketinggalan kau bisa beli lain disana." Jawab Rey santai. Lalu meraih tangan Hanna.


"Apa kau tidak lelah? Kau baru saja sampai, dan sekarang sudah harus melakukan penerbangan lagi." Tanya Hanna, pada Rey yang kini sedang tampak sibuk dengan iPad nya.


"Tidak, asal ada kau disampingku." Tampa menoleh, Rey berucap sambil menggeggam jari jemari Hanna. Mengenggamnya seakan tak ingin lepas


Hanna tersenyum, sesibuk apapun Rey ia selalu mengutamakan Hanna. Hanna patut bersyukur dengan itu, ia beruntung memiliki Rey kini disisinya. Hanna merebahkan kepalanya ke pundak Rey, betapa nyamannya memiliki orang yang sebegitu perhatiannya.


"Terimakasih, karena telah memilihku sebagia penampingmu." Ujar Hanna tiba tiba.


Rey terkekeh pelan. "Apa yang kau kicaukan? Aku yang seharusnya berterimakasih. Terima kasih karena telah menerimaku dengan lapang dada dengan segala kekurangan yang aku miliki."

__ADS_1


"Tidak perlu merendah begitu Pak Rey! Semua orang juga tahu, kau terlahir nyaris sempurna." Hanna menekankan dengan senyuman tipis yang tergambar di wajahnya.


"Benarkah? Apa menurutmu aku sempurna?" Rey memastikan, sambil meletakkan iPad nya di atas pahanya lalu menoleh ke arah Hanna.


Hanna mendonggakkan wajahnya, balas menatap Rey. "Tantu saja, kau begitu sempurna dimataku."


Setelah kalimat itu, sebuah kecupan justru melayang di bibir Hanna. "Terimakasih untuk pujiannya, Nyonya Rey Reivandra." Ujar Rey dengan senyuman merekahnya.


*


"Aku menemukan ini di laci meja kerjamu." Imbuh Yayank, sambil meletakkan sebuah kotak kecil di atas meja makan ketika Raffael sedang menikmati makan malamnya.


Raffael menoleh ke arah kotak itu. "Apa sekarang kau bahkan sudah mulai memeriksa isi laciku?" Tanya Raffael tampak santai. Setelah melirik ke arah kotak itu, yang tak lain adalah kotak yang berisi cincin. Yang akan digunakan Raffael saat itu untuk melamar Hanna.


"Kau bahkan masih menyimpannya, apa itu sangat berarti bagimu?" Kali ini, Yayank tampak kesal. Awalnya ia tak ingin membahasnya, tapi entah mengapa ketika ia melihat kotak cincin itu dan ditambah lagi dengan sikap Raffael membuat ia begitu sesak.


"Kau ingin jawaban yang jujur?" Tanya Raffael, lalu meletakkan sendok dan garpu di atas piring makan. Setelahnya menatap Yayank serius.


"Tentu.." Jawab Yayank ragu ragu. Sebenarnya tidak, ia tidak siap mendengar perkataan jujur dari Raffael.


"Ya, kotak itu sangat berarti bagiku. Dan bahkan, sampai saat ini aku masih mengharapkan orang yang akan aku lamar dengan cincin itu. Kau puas!"


Yayank menyeringai, jawaban yang diberikan Raffael sesuai dengan dugaannya.

__ADS_1


Next >>>


__ADS_2