My Boss, Is My Husband

My Boss, Is My Husband
Tempat Berkeluh Kesah


__ADS_3

Hanna merenggangkan tubuhnya. Saat terbangun, ia tak menemukan Rey disampingnya. Hanna langsung menoleh ke arah jam dinding. Ini masih terlalu pagi, tapi mengapa Rey sudah menghilang sepagi ini. Hanna bangkit, dan berfikir mungkin saja Rey berada di kamar mandi. Tapi ternyata, Rey juga tak berada disana.


"Apa mungkin dia sudah pergi kekantor." Tebak Hanna. Tapi untuk apa Rey pergi sepagi itu, tanpa menunggu Hanna pula.


Setelah mandi, Hanna keluar dari kamar. Dan ternyata, Rey sedang menghidangkan sarpan di meja makan.


"Rey.. Aku pikir kau sudah berangkat ke kantor." Ujar Hanna, sambil menghampiri Rey di meja makan.


"Mana mungkin aku meninggalkanmu." Jawab Rey, sambil terus menyusun makanan di meja makan.


"Kenapa sangat banyak makanan?" Hanna agak terkejut saat melihat meja makan itu hampir dipenuhi dengan makanan.


Rey justru terkekeh. Sambil menarik kursi untuk Hanna dan mempersilahkan Hanna untuk duduk. "Aku ingin menyogokmu, agar tidak bad mood lagi." Setelahnya, ia ikut duduk.


"Kau yang buatkan ini semua?" Sambil memperhatikan satu persatu menu yang berada di atas meja itu.


"Apa itu ejekan? Mana mungkin aku bisa membuat semua ini."


"Jadi.. Kau membelinya?" Hanna menoleh ke arah Rey.


Rey langsung nyengir dan memperlihatkan hampir seluruh gigi putihnya yang tersusun rapi.


"Dimana kau dapatkan ini semua, sepagi ini?" Hanna terkekeh.


"Sudah, cepat makan. Atau kita akan terlambat." Rey menyuapi Hanna.


Terkadang perlakuan manis seperti ini yang membingungkan Hanna. Sebenarnya hati dan perasaan Rey lebih condong pada siapa, iakah? Atau justru Myesa?

__ADS_1


Hanna menerima suapan itu, dengan tatapan yang tak dapat di alihkan dari Rey.


"Jadi kau ingin di suapi?" Tanya Rey, ketika melihat Hanna masih duduk manis tanpa memegang sendoknya.


"Emp..!" Angguk Hanna semangat.


"Baiklah .." Rey kembali tersenyum, baru kali ini Hanna bertingkah bak anak kecil dan manja. Tapi anehnya, Rey justru suka ketika Hanna bersikap manja padanya.


"Akkk.." Ujar Rey, lalu kembali menyuapi Hanna.


"Aku juga mau yang itu." Tunjuk Hanna, mengarah ke piring yang berisi dengan telur dadar isi cincang.


"Yang ini? Mau dicelupkan ke saus?" Tawar Rey.


Hanna mengangguk. Sedangkan senyuman, terus saja menghiasi wajahnya.


Ting ...


Pintu lift terbuka, keluar dari sana sambil gandengan tangan dan saling bercanda. Membuat Raffael yang sedang menunggunya di meja kerja Hanna cukup dibuat bingung.


Keduanya tampak baik baik saja, setelah kemarin Hanna tampak dibuat bad mood dengan apa yang dilakukan Rey.


"Kalian.." Ucap Raffael menggantung.


"Hei Raf.. Kau disini?" Tanya Rey, yang baru menyadari ada Raffael disana. Dibalik meja kerja Hanna.


Raffael bangkit dari duduknya. "Emp, aku sedang menunggumu." Ujarnya, dengan tatapan sedikit heran. Ke arah Hanna yang tampak ceria hari ini.

__ADS_1


"Yasudah, ayo masuk ke ruanganku saja." Ajak Rey.


Sedangkan Hanna, melepaskan genggaman itu, lalu berjalan ke arah meja kerjanya. Lalu menunjukkan senyuman terbaiknya ke arah Raffael yang baru saja melirik ke arahnya sambil terus berjalan ke arah ruang kerja Rey. Dengan raut wajah bingungnya.


"Ada apa?" Tanya Rey kemudian, saat keduanya sudah duduk di sofa yang berada didalam ruang kerjanya.


Raffael menyodorkan sebuah undangan. "Undangan untuk acara lelang amal minggu depan." Imbuhnya, setelah itu kembali bersandar.


Rey membuka undangan itu, lalu membacanya. "Apa bisa kau wakili?" Tanyanya kemudian.


"Tidak, aku harus ke luar kota minggu depan." Jawab Raffael. "Apa kau sudah punya agenda di hari itu?" Lanjut Raffael.


"Myesa ulang tahun, dan aku sudah berjanji akan merayakanya bersama." Rey kembali meletakkan undangan itu di atas meja.


Raffael terkekeh sambil membuang muka. Entah mengapa ia seakan muak mendengar kalimat itu.


"Tidak apa, aku akan cari cara nanti. Lagi pula acara ini sangat penting untuk dihadiri bukan." Ucap Rey kemudian.


"Benar, ini lebih penting dari ulang tahun itu." Gumam Raffael.


"Kau bilang apa?" Rey memastikan, karena tidak terlalu jelas mendengar apa yang digumamkan Raffael.


"Tidak ada! Berarti begitu saja, aku hanya ingin menyerahkan undangan ini. Sekaligus mengingatkanmu, acara ini cukup penting dan harus dihadiri." Raffael bangkit dari duduknya. "Selamat bekerja kembali." Lanjutnya, setelah itu langsung keluar dari ruangan itu.


Sebelum benar benar pergi, Raffael menghampiri Hanna. "Jika kau ingin berkeluh kesah, ingat aku selalu bersedia menjadi pendengarnya." Ucapnya, setelah itu langsung beranjak pergi.


Sedangkan Hanna, hanya menganga tak mengerti dengan ucapan itu.

__ADS_1


Next >>>


__ADS_2