
Rey dan Raffael, mabuk sejadi jadinya. Mereka saling mengungkapkan betapa hancurnya perasaan mereka karena kehilangan Hanna. Untung saja, Rey tak sadar. Jadi ia tak menyadari bahwa Raffael ternyata juga mencintai Hanna.
Mereka, tertawa lalu menangis bersama. Ya, seperti itulah mereka melewati hari beberapa bulan terakhir ini.
*
Sedangkan di tempat yang berbeda. Hanna sedang berjuang dengan hidupnya. Setelah di tolak di berbagai perusahaan yang sudah dilamarnya, dengan alas an mereka tidak dapat menerimanya karena dalam keadaan hamil. Walaupun spek yang dimiliki Hanna cukup mumpuni. Saat itu, Hanna masih tak menyerah. Ia masih terus saja mencoba keperusahaan lainnya yang membuka lowongan. Tapi hasilnya tetap saja sama.
Ia tetap gagal...!
Tak punya pilihan, tabungannya pun juga semakin menipis. Hanna harus melakukanapapun demi bertahanhidup. Untuk dirinya, dan juga bayi yang sedang di kandungnya.
Untung saja, ia sudah punya banyak pengalaman dalam hal bertahan hidup dan menghadapi dunia yang keras ini. Hingga, dimanapun ia berada ia tetap bisa mengandalkan dirinya sendiri tampa perlu minta tolong atau bantuan pada siapapun.
Pekerjaan utamanya saat ini adalah sebagai juru masak di sebuah restoran kecil disamping tempat ia tinggal. Dan pekerjaan sampingannya, adalah menjadi guru private.
Hanna begitu disibukkan dengan dunia barunya, hingga ia tak punya waktu untuk meratapi nasib atau merenungi hal yang sudah berlalu. Jika Rey bisa dengan begitu tega membuangnya dan anaknya, Hanna bahkan bisa lebih tega dari itu untuk melupakan Rey dalam hidupnya.
Bagi Hanna, Rey tak pernah ada atau pun singgah dalam hidupnya. Begitulah, akhirnya ia bisa dengan tegar menghadapi hari demi hari. Karena usia kehamilannya semakin membesar, Hanna lebih cepat merasa Lelah akhir akhir ini. Ia selalu pulang dalam keadaan tubuh Lelah dan pegal.
Hanna merebahkan tubuhnya yang lelah keatas ranjang, berbaring pun tak lekas membuat tubuhnya merasa lebih nyaman. Ia bahkan tetap kesulitan saat berbaring, bayinya terlalu aktif hingga membuat tidurnya tak seberapa nyenyak.
Tapi paling tidak, itu bisa membuat ia tambah semangat menjalani hari yang sulit itu. Kehadiran bayi itu di dalam hidupnya, seperti motivasi tersendiri bagi Hanna untuk terus berusaha agar dapat memberikan kehidupan yang layak untuk anaknya kelak.
Sebelum benar benar terlelap, Hanna selalu mengajak bayinya untuk mengobrol. Hanna tertawa saat bayinya memberi respon dengan tendangan dari dalam sana. Seakan akan ia mengerti dengan apa yang dikatakan Hanna.
“Mama sangat menyayangi mu sayang. Baik baik didalam sana, perjuangan kita masih panjang.” Imbuh Hanna, lalu memejamkan matanya yang sudah sangat Lelah.
*
Hari Kembali menyongsong. Pagi pagi sekali Hanna sudah bangun untuk menjalani aktivitas paginya. Siang hari, ia akan pergi kebeberapa rumah untuk mengajar private hingga sore hari. Disaat malam hari, ia akan disibukkan di balik dapur restoran. Seperti itulah aktivitasnya setiap hari, hingga waktu terus berlalu.
*
Tante Lalita, kembali mencoba memberi semangat pada Rey untuk Kembali menjalani harinya. Walau pun ia sendiripun, seakan masih belum bisa menerima kenyataan yang ada.
__ADS_1
Tetapi, ia juga tidak sanggup melihat Rey yang terus saja terpuruk dengan kejadian itu.
“Ma, beri aku waktu. Aku benar benar butuh waktu untuk bisa menerima semua ini.” Imbuh Rey seperti biasa.
“Tapi sampai kapan Rey? Sampai kapan kau akan terus saja seperti ini.” KeluhTante Lalita.
“Entahlah, Ma. Rey juga tak dapat memastikan sampaikapan Rey bisa benar benar merelakan Hanna
dan Anak Rey. Mungkin, sekarang ia sudah lahir kedunia ini.” Ucap Rey, dengan sedikit sudut bibirnya terangkat dan tatapan kosongnya memandang keluar dinding kaca apartemennya.
Tante Lalita menghela nafas. Benar, jika dihitung hitung Hanna pasti sudah melahirkan beberapa bulan yang lalu. Tapi, entah seperti apa keadaannya sekarang ini.
*
Setelah gagal membujuk Rey untuk Kembali semangat menjalani harinya, Tante Lalita memilih untuk meninggalkan apartemen Rey. Saat akan masuk kedalam lift, ia berpas pasan dengan Raffael.
“Tante ..” Imbuh Raffael saat melihat Tante Lalita.
“Raf..“ Balas Tante Lalita, dengan raut wajah tak bersemangat sama sekali.
“Ada.. Bisa kau tolong bujuk dia. Agar dia Kembali bekerja!” Mohon Tante Lalita, pasalnya Rey sudah sebulan penuh tak masuk kantor dan hanya mengurung diri di dalam apartemen.
“Tentu, Tan.” Raffael menyanggupi.
“Terimakasih Raf, kalau begitu Tante duluan.” Tante Lalita pun akhirnya masuk kedalam lift. Sedangkan Raffael kembali mengambil Langkah dan masuk kedalam apartemen yang sandinya sudah dapat ia hafal.
Sedangkan didalam sana, Rey sedang rebahan di atas sofa sambil menonton televisi di ruang tengah.
“Kau benar benar terlihat sangat menyedihkan.” Imbuh Raffael sambil ikut bergabung dengan Rey diruang tengah.
“Aku tidak perduli.” Jawab Rey datar, tampa menoleh.
“Baiklah, tapi sepertinya kau sudah harus kembali keperusahaan.”
“Apa yang terjadi?”
__ADS_1
“Perusahaan sedang melakukan peninjauan untuk membuka cabang baru. Dan aku rasa, kau harus ikut andil langsung dalam pembukaan cabang ini.” Ujar Raffael, lalu meraih remot televisi dan mengganti chanelnya dari film kartun keberita.
Tak ada jawaban dari Rey, ia hanya terdiam. Sepertinya ia sedang berfikir.
*
Keesokan harinya, sepertinya bujukan Raffael berhasil. Pagi pagi sekali, Rey sudah tiba di perusahaan. Satu perusahaanpun dihebohkan dengan kedatangan kembali Rey setelah satu bulan total tak pernah datang untuk bekerja.
Raffael, langsung menunjukkan senyuman terbaiknya. Menyambut kedatangan Rey Kembali keperusahaan. Setelahnya, mereka melangkah bersama memasuki lift dan menuju ruangan masing masing.
Rey memutuskan untuk kembali menjalani hari harinya, sepertinya sudah cukup baginya untuk meratapi nasib hampir satu tahun ini.
Rey mencoba menerima, mungkin takdir memang tak bisa menyatukan dirinya kembali dengan keluarga kecilnya.
Rey kini disibukkan dengan perencanaan pembukaan cabang di luar negri. Tanpa mempekerjakan asisten atau pun sekretaris, Rey menghandle semuanya seorang diri. Ia benar benar ingin menyibukkan diri dan berharap bisa melupakan rasa sakitnya dengan itu.
Perusahaan cabang itu rampung setelah 2 tahun kemudian.
Tante Lalita, membantu menyiapkan barang barang yang akan dibawa Rey. Karena ia akan menetap di
luar negri dan akan memulai menjalankan perusahaan cabang disana.
“Sepertinya sudah waktunya kau mencari pengganti Hanna, Rey.” Imbuh Tante Lalita tiba tiba.
Rey yang sedang sibuk dengan buku bukunya langsung menoleh. “Apa Mama bercanda?” Ucapnya lalu terkekeh.
“Tentu saja tidak, kau butuh seseorang yang dapat mengurusmu. Ini sudah 3 tahun, sudah waktunya kau
punya istri dan berikan kami cucu. Kami semakin tua, dan kami juga ingin menimang cucu-“
“Ma, please!” Rey dengan cepat langsung menyela. Sebelum kalimat dari Mamanya semakin panjang dan melebar ke mana mana.
Tante Lalita hanya dapat menghela nafas dalam. Wajah senjanya tampak tak bahagia sama sekali. Apalagi jika memikirkan Rey belum juga memiliki pendaping hidup hingga saat ini.
Ia masih tampak belum bisa melupakan Hanna sepenuhnya, terutama anaknya.
__ADS_1