
Hanna dan Rey, menghadiri undangan makan malam di kediaman Om Ai bersama. Keduanya tampak begitu serasi.
Kedatangan keduanya, langsung disambut oleh tingkah lucu Lucy.
"Hei Rey. Kalian datang bersama?" Tanya Om Ai, memastikan.
"Iya Om, Hanna mengajaknya karena katanya rindu pada si gadis kecil ini." Imbuh Hanna, sambil menowel hidung mancung milik Lucy yang saat ini sudah berada dalam gendongan Rey.
"Yasudah, ayo masuk ayo masuk.." Om Ai mempersilahkan keduanya untuk masuk.
"Tante Mana Om?" Tanya Hanna, yang sedang mengikuti langkah Om Ai menuju ruang tengah.
"Sedang di dapur, kau tahu sendirikan Tante mu itu. Selalu ingin ikut campur dalam segala hal."
Hanna, ikut terkekeh bersama Om Ai. Merekapun duduk di ruang tengah, mengobrol sambil menunggu hidangan selesai disiapkan.
Tak lama, Shasya ikut bergabung bersama mereka.
"Apa sudah hubungi Bram?" Tanya Om Ai pada Shasya yang baru saja duduk disampingnya.
"Dia sedang sibuk Pa, katanya tidak bisa pulang."
__ADS_1
"Selalu begitu, acara keluarga pun tak pernah lagi di hadirinya." Kesal Om Ai.
"Pa, malu ada tamu." Bisik Shasya.
Om Ai berdehem. Sepertinya tadi ia lupa, kalau ada Rey disana.
Rey berpura pura tak mendengar percakapan mereka. Ia menyibukkan diri mengobrol dengan Lucy.
"Yasudah kalau begitu kalian lanjutkan dulu mengobrolnya, Om akan temui Tante dulu." Imbuh Om Ai sambil beranjak dari duduknya.
"Baik Om." Sahut Rey sambil menganggukkan kepalanya, pun begitu juga dengan Hanna.
"Maaf, Papa memang agak keras begitu kalau ngomong." Shasya, tampak tak enak. Dihadapan Rey Papanya justru tampak emosi pada suaminya.
Sedangkan Rey, tampak begitu menikmati momen pertemuan dengan Lucy. Gadis kecil itu langsung mengabaikan Hanna dan juga Shasya seketika ketika sudah bersama Rey.
"Lucy, Sayang. Kau mengabaikan Mommy?" Protes Hanna lalu duduk mendekati keduanya, Rey dan juga Lucy setelah Shasya permisi karena harus mengangkat panggilan masuk di ponselnya.
"No, Mommy. I didn't do that." (Tidak, Mommy. Aku tidak melakukan itu.) Imbuh gadis itu tanpa menoleh. Lalu justru berbisik bisik dengan Rey.
"Uncle, Mommy will be mad if I befriend a stranger, so please tell her that we are friends now." (Paman, Mommy akan marah jika aku berteman dengan orang asing. Jadi tolong rahasiakan padanya kalau kita berteman sekarang.)
__ADS_1
"Apa yang sedang kau bisikkan?" Imbuh Hanna sambil terkekeh lalu mendekatkan telinganya ke arah Lucy yang sedang berbisik ditelinga Rey. Hingga membuat wajahnya dan wajah Rey hanya berjarak beberapa cm saja.
"No Mommy, you can't eavesdrop." (Tidak Mommy, kau tidak boleh menguping.) Protes Lucy sambil mendorong lembut wajah Hanna. Hingga membuat Rey dan Hanna terkekeh. Saat Lucy begitu bersikeras menjauhkan Hanna dari dirinya dan juga Rey.
Hanna sengaja ingin menggoda gadis itu, hingga ia pun juga bersikeras untuk tidak mau menjauh dari Lucy dan juga Rey.
"Au.." Wajah Hanna tanpa sengaja tergores dengan gelang yang dikenakan Lucy.
"Kau tak apa apa?" Rey langsung panik.
"Emp, tak apa apa." Hanna mencoba meraba raba area wajahnya yang sakit.
"Kau berdarah." Imbuh Rey sambil menghapus goresan yang mengeluarkan darah itu di wajah Hanna. Untung saja hanya goresan kecil dan tak harus mengeluarkan kotak p3k.
"Lucy, You should apologize to Mommy." Ucap Rey akhirnya.
Lucy, melangkah mendekati Hanna. "Mommy, I'm sorry." Lirihnya menyesal.
"It's okay honey, Mommy knows you didn't do it on purpose." (Tak apa sayang, Mommy tahu kau tak sengaja.)
"Thanks Mommy." Imbuh Lucy, kembali tersenyum.
__ADS_1
"You're welcome." Hanna balas tersenyum. Lalu mengecup puncak kepala Lucy.
Next >>>