My Boss, Is My Husband

My Boss, Is My Husband
Kerjasama Dilanjutkan


__ADS_3

"Hanna, bangun. Kita harus ke kantor lebih cepat hari ini." Rey, mencoba membangunkan Hanna. Menepuk pelan bahu gadis itu.


"Em.." Gumam Hanna pelan, tapi masih juga tak bangun dari tidurnya. Bahkan dengkuran halus masih terdengar dari mulut Hanna.


Rey menghela nafas, ternyata sangat sulit membangunkan Hanna dari tidurnya. Tak ada pilihan, Rey juga tidak tega akhirnya memaksanya untuk bangun disaat ia tampak begitu lelap.


Rey keluar dari kamar, menghampiri orang tuanya yang sudah berada diruang makan.


"Hanna, dimana Rey?" Tanya Tante Lalita menyambut kedatangan Rey.


"Masih tidur, Ma." Jawab Rey seiring ikut duduk bersama orang tuanya di meja makan.


"Biarkan saja, mungkin dia masih lelah. Dia butuh banyak istirahat." Sahut Om Surya.


Rey mengangguk, lalu menikmati sarapannya.


*


Hanna terperanjat dari tidurnya jam 09.33 menjelang siang. Ia langsung mencari keberadaan ponselnya, tenyata ponselnya dalam keadaan mati. Hanna lupa mengisi daya ponselnya, pantas saja alarm pagi ini tak berfungsi.


Hanna mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan Rey. Tapi sofa tempat Rey tidur semalam sudah rapi dengan selimut yang sudah terlipat.


Lalu pandangannya di alihkan ke arah jam di atas nakas. "Oh my god!" Hanna langsung beranjak dari tempat tidur. Bergegas ke kamar mandi dan bersiap untuk pergi kerja.


"Kau sudah siap?" Pertanyaan itu menghentikan langkah Hanna yang baru saja turun dari lantai dua rumah itu. Hanna mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara.


Tante Lalita sepertinya sudah menunggu Hanna sedari tadi, ia yang sedang duduk di sofa ruang keluarga bangkit dari duduknya, meraih tas tangan yang tergeletak di atas meja lalu melangkah mendekati Hanna.


"Ayo, kita hampir terlambat." Imbuhnya sambil berjalan melewati Hanna.


Hanna mengernyitkan keningnya, lalu berbalik mengikuti langkah Tante Lalita. "Maaf Tante-"


"Kita harus ke rumah sakit sekarang." Sela Tante Lalita sebelum Hanna sempat melanjutkan kalimatnya.

__ADS_1


"Tapi aku sudah terlambat ke kantor." Imbuh Hanna sambil melirik ke arah jam tangannya. Sedangkan raut wajahnya sudah tampak gelisah sedari tadi.


Tante Lalita menghentikan langkahnya, pun begitu dengan Hanna yang akhirnya jugamenghentikan langkah kakinya.


"Kau istri presdir sekarang, jadi tak apa kalau terlambat. Bahkan jika kau tak masuk kerja pun, tak akan berpengaruh padamu." Diikuti dengan senyuman penuh makna. "Ayo, kita harus berangkat sekarang." Lanjut Tante Lalita sambil meraih pergelangan tangan Hanna dan membawanya ke mobil.


Hanna hanya bisa menurut tanpa bisa membantah.


"Pak, kita kerumah sakit Tirta Medical sekarang." Perintah Tante Lalita kepada supirnya.


"Baik, Bu." Sang supirpun melajukan mobilnya.


Hanna langsung mengeluarkan ponsel dari dalam tas selempangnya. Lalu mengirimkan pesan singkat pada Rey.


"Rey.. Maaf, sepertinya aku akan terlambat ke kantor hari ini." Pesan terkirim, Hanna sempat menunggu beberapa saat tapi tak ada balasan. Pun tak ada tanda-tanda Rey membaca pesannya.


*


Sedangkan dikantor, Rey sedang menghadapi para investor dan pemegang saham yang sangat marah dan kecewa dengan keputusan Rey. Didampingi Om Surya, Rey mencoba memberikan penjelasan kepada mereka. Walaupun ia tak bisa bercerita sedetail mungkin dengan apa yang terjadi sebenarnya di Paris.


"Bukankah sudah aku katakan, dia masih terlalu labil untuk menjabat sebagai CEO." Sahut yang lainnya. Seakan mengejek Rey karena sudah melakukan kesalahan.


Tidak hanya dua orang itu, hampir semua orang yang berada di dalam ruangan itu berkomentar menyudutkan Rey.


Hanya Om Surya, Rey dan Raffael yang hanya terdiam disana.


Om Surya, tampaknya sedang berfikir keras dengan apa yang harus ia lakukan. Ia pun tak menyangka para investor bisa semarah itu.


"Pak Surya, kau harus melakukan sesuatu!" Seseorang menekankan.


"Baik! Aku tidak akan membiarkan kalian rugi dalam project ini." Sahut Om Surya akhirnya. Sambil menegakkan duduknya. "Berikan aku waktu satu minggu untuk menyelesaikan masalah ini." Lanjut Om Surya penuh keyakinan. Sepertinya, ia begitu yakin bisa menyelesaikan masalah yang sedikit rumit ini.


"Jika masalah ini tidak selesai dalam waktu satu minggu, sebaiknya jabatan CEO diganti saja!" Seseorang berpendapat sambil menyeringai.

__ADS_1


Rapat berakhir, kini hanya tinggal Rey dan Om Surya disana.


"Pa, aku minta maaf." Rey menunduk, ia merasa benar-benar bersalah karena sudah gegabah mengambil keuputusan. "Rey tidak menyangka masalahnya akan sebesar ini." Lanjut Rey penuh penyesalan.


"Sepertinya, ada yang perlu kau jelaskan pada Papa." Imbuh Om Surya sambil menyodorkan berkas kerja sama antara Zillow Group dan Anthony Company. "Kenapa wanita itu yang menjadi modelnya?" Lanjut Om Surya sambil menatap Rey tajam.


Rey memijat pelan pelipisnya. "Sebelum menandatangani kontraknya, Anthony mengajukan syarat. Ia akan memakai modelnya sendiri untuk project ini. Dan Rey sama sekali tidak tahu menau kalau ternyata model yang ia maksud adalah Myesa. Karena Rey pikir kerjasama dengannya sangat penting, Rey setujui persyaratan itu. Lagi pula ini hanya sebatas pekerjaan." Rey mencoba meyakinkan Papanya.


"Kau yakin, hubungan mu dengan wanita itu hanya sebatas pekerjaan?" Om Surya memastikan.


"Iya, lagi pula sekarang Rey dan Hanna-" Ucap Rey terputus. Sepertinya agak sedikit sulit untuk melanjutkan kalimat itu.


"Baiklah, Papa akan memberimu kelonggaran untuk hal ini. Asal kau bisa buktikan bahwa di antara kalian tidak lebih dari sebatas urusan pekerjaan. Papa akan urus masalah ini, dan dengan sangat terpaksa sepertinya kau harus melanjutkan kembali kerjasama dengan Anthony!" Ucap Om Surya tegas.


"Tapi, Pa-" Rey terbata. Bagaimana mungkin, setelah apa yang telah terjadi.


"Kau tak punya pilihan, seperti yang kau ketahui. Kerjasama ini sangat penting." Ujar Om Surya, walaupun ia juga kecewa dan marah dengan apa yang sudah dilakukan Anthony pada Hanna.


"Tapi Anthony belum tentu mau melanjutkan kerjasama ini lagi!" Sahut Rey, sebenarnya ia ingin meyakin Papanya, kalau kerjasama ini tidak mungkin dan tidak usah dilanjutkan lagi.


"Biar Papa yang urus." Ucap Om Surya, lalu bangkit dari duduknya. Ia mengeluarkan ponselnya dari saku celananya lalu menghubungi asistennya. "Pesankan saya tiket ke paris sekarang." Perintah Om Surya pada asistennya.


Rey hanya bisa menghela nafas sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Dengan kesal Rey bangkit dari tempat duduknya dan kembali ke ruangannya.


"Apa yang sebenarnya terjadi di paris?" Pertanyaan itu langsung di ajukan oleh Raffael saat Rey memasuki ruangannya. Raffael benar-benar penasaran, karena dia sangat tahu Rey seperti apa. Ia tidak mungkin mengambil keputusan seperti itu jika tak terjadi masalah besar disana.


Untuk kesekian kalinya, Rey kembali menarik nafas panjang. "Anthony berniat jahat pada Hanna." Imbuhnya sambil duduk dibalik meja kerjanya.


"W*** t** F***!" Kutuk Raffael penuh emosi. Ia menyeringai tak percaya. Bisa-bisanya seorang pengusaha hebat seperti Anthony berprilaku sebejat itu.


"Dan kau tahu apa yang lebih sialnya?" Ucap Rey sambil terkekeh penuh makna.


"What?"

__ADS_1


"Papa memintaku untuk tetap melanjutkan kerjasama dengannya!" Ucap Rey yang seakan masih tak habis pikir dengan keputusan Papanya.


Next >>>


__ADS_2