My Boss, Is My Husband

My Boss, Is My Husband
Kerjasama Perdana


__ADS_3

Tok!Tok!


"Pak, sudah waktunya pulang." Ujar Hanna mengingatkan Rey yang masih tampak serius mengerjakan beberapa pekerjaan.


"Kau duluan saja." ucap Rey tanpa menoleh.


Hanna mengernyitkan keningnya, ketika melihat Rey begitu sibuk namun justru tidak memberikan dia satu pekerjaan pun. Hanna, hanya menghabiskan sepanjang harinya dengan melamun dibalik meja kerjanya.


Alih-alih pulang, Hanna yang tadinya berdiri di ambang pintu. Justru memberanikan diri untuk masuk menghampiri Rey.


"Apa ada pekerjaan yang bisa aku kerjakan?" Tawar Hanna.


"Tidak!" Jawab Rey singkat, dan tetap saja dingin.


"Apa Anda meragukanku? Apa Anda pikir aku tidak bisa mengerjakan semua pekerjaan itu? Aku datang ke sini untuk bekerja!" Gertak Hanna yang akhirnya membuat Rey mendongakkan wajahnya.


"Baiklah! Jika memang kau bersikeras." Imbuh Rey, setelah itu menyodorkan beberapa dokumen ke pada Hanna.


"Dasar aneh, seharusnya kau memberikan pekerjaan itu dari tadi!" Batin Hanna.


Hanna meraih dokumen tersebut. Lalu duduk di sofa yang berada di ruangan Rey, setelahnya mulai mengerjakan satu demi satu dokumen itu.


Rey yang juga sedang mengerjakan dokumen lainnya, sesekali melirik ke arah Hanna yang sudah menguap entah untuk keberapa kalinya.


Hanna, padahal sudah sangat mengantuk. Tapi tetap memaksakan diri untuk mengerjakan pekerjaan itu.


Ia ingin membuktikan pada Rey, bahwa Rey tidak sia-sia menerimanya sebagai sekertaris.


Begitupun dengan Rey. Ia ingin menyelesaikan pekerjaan itu dalam waktu singkat. Untuk membuktikan kepada minoritas yang tidak setuju itu, bahwa ia mampu menjabat sebagai CEO dan dapat memberikan gebrakan baru untuk perusahaan.


"Jika tidak sanggup lagi, menyerah saja." Imbuh Rey, ketika mendapati Hanna mulai berdiam diri di tempat duduknya.


Hanna menoleh. Lalu bangkit menghampiri Rey.


"Aku ingin mengusulkan sesuatu." Ujar Hanna. Lalu duduk di hadapan Rey.


"Apa?" Tanya Rey, yang mulai menyimak. Dan menghentikan pekerjaannya.


"Bagaimana jika pemotretan untuk majalah bulan ini di lakukan di perusahaan. Dengan latarbelakang perusahaan, selain menghemat biaya untuk penyewaan gedung juga dapat membuat karyawan baru bisa sekaligus belajar tentang pemotretan." Hanna mengutarakan pendapatnya.


"Tapi itu akan mengganggu pekerja lainnya." Rey menanggapi.


"Tidak akan, atau gunakan unit lantai 13 untuk pemotretan." Usul Hanna lagi. Karena unit lantai 13 hanya di tempati oleh CEO. Tak ada karyawan lain disana. Sudah pasti tidak akan ada yang terganggu. "Bagaimana?" Tanya Hanna lagi, karena Rey belum juga memberi tanggapannya.


"Empp boleh." Jawab Rey akhirnya.


Hanna langsung tersenyum, mendapati usulannya bisa diterima oleh Rey.


Hanna kembali ke sofa, memasukkan idenya kedalam perencanaan bulan ini.


"Bukankah seharusnya ini pekerjaan Tim Perencanaan?" Tanya Hanna seiring dengan jarinya yang terus mengetik di keyboard laptop.

__ADS_1


"Kerjakan saja, jangan banyak tanya!" Imbuh Rey, membungkam Hanna.


*


Akhirnya, pekerjaan yang dipaksakan itu selesai juga.


Hanna merenggangkan otot-ototnya yang terasa pegal.


Padahal seandainya Rey memerintahkan Hanna sedari tadi siang untuk mengerjakan pekerjaan itu, mungkin mereka tidak harus lembur sampai hampir tengah malam seperti itu.


"Maaf, sudah membuat mu bekerja lembur seperti ini." Ucap Rey merasa tidak enak.


Hanna menganga. Apa dia tidak salah dengar!


Baru kali ini ada atasan yang minta maaf karena sudah membuat bawahannya bekerja lembur.


Ting..


Pintu lift terbuka. Keduanya pun berjalan bersamaan menuju parkiran.


"Biar aku antar saja. Ini sudah sangat larut." Tawar Rey kemudian.


"Nggak apa-apa, Pak. Aku-"


"Panggil saja Rey, aku tidak suka di panggil Pak! Terkesan sangat tua." Imbuh Rey, dan keduanya pun berhenti tepat di depan mobil Rey.


Rey mengalihkan pandangannya ke arah seberang. "Motor butut siapa yang ketinggalan disana." Dengan ekspresi bingung sambil mengernyitkan keningnya.


"Itu motor butut ku!" Imbuh Hanna, setelah itu langsung mengambil langkah dan meninggalkan Rey yang masih terbelalak.


Mulut lancangnya sudah menyinggung Hanna.


Rey hanya dapat memandangi Hanna yang sudah berlalu pergi dengan motor pink nya yang di anggap Rey butut.


***


Hanna merebahkan tubuhnya ke atas ranjang. Mengehela nafas dalam, setelah itu mengangkat tangannya sebelah kiri ke udara. Memandang cincin berlian yang masih melingkar dengan manis di jemarinya.


*"Kenapa kau tidak bisa dilepaskan?" *Gumam Hanna sedikit heran. "Seharusnya kau kembali ke pemilikmu! Ia sudah kembali!" Lanjut Hanna.


Tak ingin terus larut dalam pikiran yang sedang mengganggunya. Hanna bangkit lalu memilih mandi.


*


Pagi kembali menyongsong. Hanna bangun dengan semangat baru, tentu. Jabatannya sebagai Sekertaris Presdir di perusahaan sebesar Zillow Group harus dipertahankan dengan sebaik mungkin. Ia harus dengan sangat, untuk berusaha mengubah kebiasaan buruknya. Yaitu bangun kesiangan.


Hanna selesai dengan polesan terakhir di bibirnya. Lip matte dengan warna peach menjadi pilihannya, membuat wajah putihnya tampak cerah dan menyempurnakan kecantikkan alami Hanna.


Ia meraih slimbagnya, lalu untuk terakhir memeriksa penampilannya dari balik cermin. Make up alami dan pakaian casual nya kali ini benar-benar 'Sempurna' setelah memastikan tak ada yang kurang, Hanna pun bergegas menuju perusahaan.


*

__ADS_1


Rey turun keruang makan, untuk ikut sarapan bersama kedua orang tuanya.


Saat melihat Rey, kedua orang tuanya langsung bisik-bisik dan senyum-senyum. Sepertinya, Om Surya sudah menceritakan kejadian kemarin pada istrinya.


"Kau sepertinya terlihat lebih bersemangat hari ini." Imbuh Tante Lalita menggoda Rey.


Rey mengernyitkan keningnya. Lalu hanya tersenyum untuk membalas perkataan Mamanya itu.


"Pa, aku sudah menyelesaikan dokumen untuk perencanaan bulan ini." Imbuh Rey, mengalihkan pandangannya ke arah Om Surya.


"Nanti kirimkan filenya pada Papa." Ujar Om Surya. Memang untuk sementara, semua pekerjaan Rey akan dipantau langsung oleh Om Surya. Sebelum Rey benar-benar bisa menghandlenya sendiri.


"Baik, Pa." Rey mengangguk.


"Rey.." Panggil Tantte Lalita kemudian.


Rey menoleh. "Iya, Ma." Jawabnya.


"Ada sedikit masalah." Imbuh Tante Lalita kemudian.


"Masalah?" Raut wajah Rey langsung menegang. Lalu dengan cepat ia menoleh ke arah Papanya yang tampak biasa saja seperti tak ada masalah. Rey kembali mengalihkan pandangannya ke arah Mamanya. "Masalah apa, Ma?" Tanya Rey memastikan.


"Keluarga besar meminta mu untuk membawa istrimu di acara kumpul keluarga minggu depan. Mereka ingin lebih mengenal istrimu." Ujar Tante Lalita.


"Tapi, Ma-" Rey kebingungan.


"Apanya yang tapi? Kau hanya perlu membawanya." Om Surya ikut menanggapi.


"Tapi Myesa-"


"Hanna! Bukan Myesa!" Sela Tante Lalita dengan cepat.


"Hanna?" Dengan ekspresi shocknya.


"Iya, tentu saja Hanna. Kan memang dia istrimu yang sebenarnya!" Pungkas Tante Lalita dengan serius.


"Tapi dia hanya menggantikan Myesa pada saat itu, Ma." Rey merasa keberatan.


"Walaupun hanya pengganti, tapi tetap pernikahan kalian sah." Om Surya menekankan. Kedua orang tua Rey dengan kompak mendukung Hanna.


"Hanna pasti tidak akan setuju, itu sama saja dengan mengekspos dirinya ke halayak. Dan rahasia pernikahan kami cepat atau lambat pasti akan terbongkar." Protes Rey.


"Jadi kau menolak permintaan keluarga besar?" Tanya Tante Lalita memastikan.


Namun, tak ada jawaban dari Rey. Ia tampak bingung.


"Kau tak punya pilihan, kau tetap harus membawa Hanna." Sarkas Om Surya memutuskan.


Tak ada yang bisa membantah, jika Om Surya sudah memutuskan sesuatu.


Seketika, wajah Rey yang tadinya begitu bersemangat. Spontan berubah kembali menjadi murung.

__ADS_1


Next >>>


__ADS_2