My Boss, Is My Husband

My Boss, Is My Husband
Menggemaskan


__ADS_3

Rey langsung mematikan panggilan itu, dengan cepat menghampiri Myesa yang sudah menangis sambil menahan rasa sakitnya.


"Kau benar benar gila, Mye." Pekik Rey, sambil membopong tubuh Myesa dan membawanya keluar dari kamar itu. Lalu membawanya kerumah sakit. Darah terus mengalir dari sayatan itu, mengalir tanpa henti. Entah seberapa dalam Myesa menyayat tangannya sendiri. Hingga membuat darah itu melumuri tangan dan juga kemeja putih yang dikenakan Rey.


"Kau boleh bersama gadis itu, hanya jika ingin melihat aku mati dihadapanmu, Rey." Ancam Myesa dalam keadaan sekaratnya.


*


Hanna kembali dibuat kesal. Ketika di pagi hari memeriksa postingan yang ia posting semalam, Rey jelas-jelas sudah melihatnya dari semalam tapi tetap saja tak menghubunginya. Bahkan satu pesan singkatpun tak ada dari pria itu.


"Ch.. Dasar! Apa yang aku harapkan!" Hanna menyeringai sambil menatap layar ponselnya. Setelahnya, memilih untuk ke kamar mandi dan mandi. Hari ini ia punya janji dengan Tante Lalita, bukan.


Ia sudah berjanji untuk menemani Tante Lalita hari ini.


Dan sebelum benar benar siap untuk mejalani harinya, ia harus melewati morning sickness nya terlebih dulu. Ya, rasa mual akan selalu menghampiri paginya seperti biasa.


Setelah selesai, Hanna turun. Menikmati sarapannya seorang diri. Sepertinya ia telah melewati jam sarapan bersama orang tua Rey. Terbukti, saat ia keruang makan sudah tak ada lagi seorangpun disana.


Hanna duduk dan menikmati, apa saja yang ada disana.


"Hanna, kenapa kau makan, makanan dingin." Tanya Tante Lalita, yang tiba tiba datang menghampiri Hanna di ruang makan. Sepertinya ia juga sudah bersiap untuk pergi dengan Hanna.

__ADS_1


"Mbak, tolong buatkan sarapan lain untuk Hanna." Teriak Tante Lalita pada Asisten rumah tangganya.


"Nggak apa apa, Ma. Hanna makan ini saja, lagi pula sayang sisa makanannya masih banyak." Ujar Hanna, sambil terus melahap makanannya yang hampir habis.


"Hannaaa..." Imbuh Tante Lalita sambil melotot ke arah Hanna.


Hanna hanya terkekeh. "Aku sudah selesai." Ucap Hanna, setelahnya meneguk sedikit air mineral untuk mempercepat makanan itu sampai ke ususnya. "Ayo, Ma." Ajaknya sambil memakai tas slim bagnya.


"Kau ini.." Tante Lalita hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum, melihat tingkah Hanna. Tingkahnya terkadang bak anak kecil yang menggemaskan.


Mobil yang dikemudikan oleh supir pribadi Tante Lalita itu pun melaju. Menuju tempat yang sudah diberitahukan oleh Tante Lalita sebelumnya.


Sedangkan Hanna, hanya bisa menurut saja. Kemana pun Tante Lalita akan membawanya hari ini.


"Iya, Ma." Hanna yang tadinya sedang melihat ke arah luar jendela mobil, menoleh ke arah Tante Lalita.


"Kapan kau akan ambil cuti kerja?"


Hanna terkekeh. "Nggak tahu, Ma. Selama Hanna rasa masih sanggup kerja, Hanna akan terus masuk kerja. Lagi pula pekerjaan Hanna di kantor juga tidak terlalu berat."


"Hemm.. Padahal lebih bagusnya kau dirumah saja. Banyak hal yang harus kau persiapkan untuk bayimu."

__ADS_1


Hanna hanya tersenyum.


Benar, Hanna terkadang sering lupa. Kalau sebentar lagi ia akan menjadi ibu. Ada prioritas yang harus ia utamakan.


*


Tempat persinggahan pertama yang dituju Tante Lalita adalah, outlet pakaian bayi.


"Pilih semua yang kau suka." Imbuh Tante Lalita pada Hanna.


"Tapi, apa tidak terlalu cepat, Ma." Ujar Hanna, yang tampak bingung.


"Tentu saja tidak. Bukankah sudah Mama katakan, akan ada banyak hal yang harus kau persiapkan nanti. Jika tidak dimulai dari sekarang, kau tidak akan sempat mempersiapkan apapun. 7 bulan itu akan berlangsung dengan sangat cepat." Ucap Tante Lalita, sambil melangkah menuju sesuatu yang membuat ia tertarik.


Sedangkan Hanna, hanya mengedarkan pandangannya. Semua yang ada disana, seakan menghipnotis Hanna. Untuk ingin memiliki semuanya.


Benda benda dengan ukuran mungil itu benar benar menggemaskan. Dari baju, sepatu, banana, handuk, selimut, kasur bayi. Dan semua yang ada disana, benar-benar membuat Hanna ingin memborong semuanya. Tapi, Hanna tentu saja tidak seperti itu. Ia bahkan tidak berani memilih apapun, ia hanya melihat satu persatu yang dipajang disana. Apa lagi ketika melihat harganya, membuat Hanna harus menghela nafas.


Barang semungil itu saja, memiliki harga lebih tinggi dari baju miliknya.


"Hei .. Kenapa hanya bengong disana? Pilih saja, apapun yang kau suka." Imbuh Tante Lalita, yang tampak begitu antusias.

__ADS_1


Hanna menghela nafas dalam. "Baiklah, lagi pula uang mereka juga tidak akan habis walaupun membeli semua barang disini bahkan dengan toko tokonya sekaligus." Batin Hanna.


Next >>>


__ADS_2