
Melihat apa yang di tunjuk Claudia, Rey justru menyeringai.
"Jadi, itu yang kau harapkan sebagai kompensasinya?" Rey memastikan.
Claudia mengangguk sambil tersenyum.
"Baiklah, nanti akan diurus oleh sekretaris saya. Dan tunggu konfirmasinya. Begitu juga dengan konferensi pers yang akan segera kita lakukan." Imbuh Rey, kemudian melanjutkan makannya.
"Baik.." Claudia kembali menutup majalah itu, lalu menyimpannya ditempat semula.
Masalah itu akhirnya bisa di selesaikan dengan sebuah unit apartemen.
Ya, Claudia meminta agar diberikan sebuah unit apartemen yang terletak dipinggir pantai dengan view menakjubkan. Sesuai dengan yang diiklankan majalah Zillow Group.
Rey langsung menyanggupinya. Itu bukan apa apa bagi sebuah perusahaan sebesar Zillow Group.
Obrolan panjang di meja makan itu akhirnya sedikit menyenangkan berkat kehadiran Hanna. Suasana yang tampak membosankan diawalnya, akhirnya berubah cukup hangat.
Claudia dan Hanna, sepertinya memiliki kecocokan. Keduanya bisa langsung nyambung dan tampak akrab.
"Apa aku bisa memilih unitnya sendiri?" Tanya Claudia kemudian.
"Tentu saja.." Jawab Rey.
"Apa kita bisa pergi bersama, Hanna?" Ajak Claudia.
Hanna mengangguk. "Atur saja, dan hubungi aku kapan kau sempat." Imbuhnya.
Claudia tersenyum. "Baik.." Ia mengangguk semangat.
__ADS_1
"Jadi untuk konferensi pers nya, apa bisa kita lakukan dalam minggu ini?" Tanya Raffael.
"Bisa, aku luang sabtu minggu ini." Imbuh Claudia.
*
"Terimakasih, sudah ikut bergabung dengan kami hari ini Hanna." Ucap Claudia, yang sudah bersiap untuk masuk kedalam mobilnya.
"Sama sama.." Diiringi dengan senyuman terbaiknya, Hanna mengantar Claudia ke mobilnya.
Lalu melambaikan tangannya ke arah Hanna, ketika mobilnya sudah melaju.
Hanna membalas lambaian itu, setelahnya ia kembali menemui Rey dan Raffael yang sudah menunggunya.
Satu tahap terselesaikan.
*
Pun begitu dengan Claudia, yang langsung mencabut tuntutannya.
"Hufftt .. akhirnya.." Imbuh Raffael, sambil menghempaskan tubuhnya ke atas sofa diruang kerja Rey.
Ketika ketiga nya kembali ke perusahaan.
"Untung kau datang, kalau tidak kami sudah kewalahan meladeni ocehannya yang panjang lebar itu." Lanjut Raffael.
Hanna hanya terkekeh.
"Kenapa kau bisa kepikiran untuk datang kesana?" Tanya Rey.
__ADS_1
"Entahlah, hanya ingin saja. Nuraniku berkata, aku harus membantu kalian." Setelahnya, Hanna tertawa terbahak. Kata kata nya membuat Rey dan Raffael juga ikut terkekeh.
Grrttt ....
Ponsel Rey berdering, setelah melihat siapa yang memanggilnya, Rey langsung bangkit dari duduknya. Hanna yang duduk tepat disamping Rey, sekilas sempat melihat nama yang tertera di layar ponsel Rey. 'Yayank.'
"Hallo.." Imbuh Rey, sambil berjalan keluar ruangannya.
Hanna hanya memandangi punggung Rey yang berlalu pergi, dengan benaknya yang bertanya. 'Mengapa Rey harus menerima panggilan itu diluar ruangan?'
"Hanna.." Panggil Raffael, dan membuyarkan lamunan Hanna.
"Empp.." Imbuh Hanna, sambil kembali menoleh ke arah Raffael.
"Apa yang kau lamunkan?"
"Ti-tidak ada.." Hanna kembali tersenyum.
Setelahnya meladeni obrolan Raffael, dengan tatapan yang sesekali tertuju ke arah pintu ruangan Rey. Bertanya tanya mengapa Rey begitu lama mengobrol dengan Yayank, apa yang mereka bahas hingga selama itu.
Akhirnya Rey pun kembali keruangannya, "Kenapa lama sekali?" Tanya Hanna langsung, ketika Rey kembali duduk disampingnya.
"Ada hal penting yang harus dibahas." Ujar Rey, tapi masih tetap sibuk membalas pesan di ponselnya.
"Masalah Claudia?" Tebak Hanna.
"Hah.. Empp.." Jawab Rey, tampa menoleh. Fokusnya tetap ke layar ponselnya.
Next >>>
__ADS_1