
"Begini saja, aku kebetulan akan keluar nanti malam. Bagaimana kalau kita bertemu?" Tawar Shasya.
"Baiklah.. Kirimkan aku alamatnya nanti." Ujar Hanna, setelah itu mematikan panggilan itu. Setelahnya, ia hanya menatap kosong ke arah ponselnya. Haruskah ia benar benar memberitahukannya pada Shasya. Bagaimana dengan reaksi dan responnya nanti? Hanna sangat gelisah, rasanya serba salah.
*
Rey kembali, setelah beberapa saat.
"Cepat sekali!" Ucap Hanna, ketika melihat Rey yang sudah kembali.
"Jadi? Kau berharap aku pergi berapa lama?" Tanya Rey, lalu duduk di balik meja kerjanya sambil mengarahkan hadapannya ke arah Hanna.
"Selamanya!" Jawab Hanna datar.
Dan langsung membuat Rey terdiam dengan jawaban itu.
"Kenapa kau sangat marah padaku? Seharusnya aku yang marah padamu!" Protes Rey, atas sikap yang ditunjukkan Hanna padanya.
"Kenapa justru kau?" Hanna menyeringai sinis. "Jelas jelas aku yang seharusnya marah!" Pungkasnya tegas.
Tok!Tok!
"Pak, rapat akan dimulai 5 menit lagi." Ucap Sekretaris Rey, yang tiba tiba menghentikan pertikaian antara Hanna dan Rey.
"Baik!" Jawab Rey tanpa menoleh.
*
"Pa, jadi bagaimana? Apa anak teman teman Papa tidak ada yang bisa di jodohkan dengan Rey." Tanya Tante Lalita, pada suaminya yang tampak sibuk dengan korannya.
"Ma, Rey pasti tidak akan setuju dengan perjodohan semacam itu." Sahut Om Surya, yang tampak biasa saja dengan keadaan Rey sekarang.
__ADS_1
"Semua anak anak teman Mama sudah pada menikah, bahkan mereka sudah pada menimang cucu. Sedangkan kita?" Keluh Tante Lalita yang tampak sedih.
"Memangnya, anak teman Mama tidak ada yang masih lajang?" Tanya Om Surya akhirnya.
Membuat Tante Lalita terfikirkan dengan seorang gadis, anak dari teman masa kecilnya dulu. Mereka baru bertemu lagi tanpa sengaja beberapa hari yang lalu, setelah sekian lama berpisah.
Raut wajahnya langsung tampak semangat. Ia langsung bangkit dari tempat duduknya lalu mencari kartu nama yang diberikan oleh temannya itu tempo hari didalam tas yang dikenakannya pada hari itu.
Om Surya, hanya menoleh sekilah ke arah istrinya itu. Lalu terkekeh melihat tingkahnya yang tiba tiba saja bersemangat.
"Ketemu!" Ucap Tante Lalita akhirnya.
Tak menunggu waktu lama, ia langsung menghubungi kontak tersebut. Untuk memastikan, apakah anak gadis temannya itu masih lajang.
*
5 menit berlalu, Rey kembali bangkit dari meja kerjanya. Ia berniat untuk mengikuti rapat.
"Apa aku harus ikut rapat itu juga?" Hanna memastikan.
"Tentu saja." Pungkas Rey, lalu kembali melangkah.
Rapat dimulai.
Rey, dengan sengaja meminta pendapat akhirnya Hanna tentang rapat kali ini. Diluar dugaan, penjabaran yang diberikan Hanna membuat semua orang yang sedang mengikuti rapat itu memberikanĀ applause luar biasa. Hanna, di saat bekerja memang sangat totalitas. Walaupun pekerjaan kali ini ia lakukan dengan keterpaksaan.
Rey mengangguk anggukan kepalanya, lalu menunduk dengan senyuman tipis di wajahnya. Padahal sebanrnya, ia ingin mengerjai Hanna, ingin membuat Hanna gugup didalam ruangan itu di hadapan semua orang yang berada disana.
Tapi akhirnya, justru ia yang di buat terpukau. "Sepertinya, tidak sia sia perusahaan ini memberikanmu gaji tinggi." Imbuh Rey, memberi pendapat.
Rapat berakhir...
__ADS_1
*
Hanna kembali keruangan, dan kembali termenung dan melamun di balik meja kerjanya.
Hingga ketukan di meja kerjanya, mengembalikannya dari lamunan panjangnya.
"Apa ada masalah?" Tampaknya Rey penasaran. Mengapa sedari tadi Hanna terus saja melamun di balik meja kerjanya.
"Tidak!" Wajab Hanna datar.
"Kau boleh bercerita padaku, Tak perlu merasa sungkan."
Hanna langsung melirik sinis ke arah Rey, yang langsung menunjukkan senyuman ke arah Hanna dan memperlihatkan seluruh giginya.
"Siapa juga yang mau bercerita denganmu!" Ketus Hanna, setelahnya kembali mengalihkan pandangannya.
"Kau putus dengan pacarmu?" Tebak Rey.
"TIdak perlu sok tahu!"
"Jadi kau tak punya pacar?" Diiringi dengan kekehannya, dan terdengar lebih ke ejekan.
"Bukan urusanmu!" Lagi lagi, jawaban itu terdengar ketus.
Rey, kembali terkekeh. Merasa puas, karena sepertinya Hanna tidak memiliki pacar sekarang.
"Lalu, apa yang menggangumu saat ini jika bukan karena pacar?" Rey kembali bertanya.
Hanna menoleh dengan cepat ke arah Rey dengan tatapan tajamnya. "Apa kau bisa diam!" Bentak Hanna yang mulai kesal.
"Baiklah .. baiklah .." Sambil mengangguk anggukkan kepalanya dan menahan tawanya.
__ADS_1
Next >>>