My Boss, Is My Husband

My Boss, Is My Husband
Berperan Menyembuhkan Luka


__ADS_3

Kehamilan itu mengubah segalanya, terutama hubungan di antara Hanna dan Rey. Mereka dituntut untuk benar-benar menjadi suami istri dan harus menjadi orang tua yang baik kelak untuk anak mereka bukan.


Kendatipun begitu, Hanna meminta untuk tetap merahasiakan hubungan mereka dikantor. Alasannya, ia tak ingin diperlakukan berbeda di kantor jika orang-orang mengetahui yang sebanarnya. Rey, menyetujuinya. Apapun, asal itu bisa membuat Hanna nyaman dan tidak terbebani.


Lagipun, Hanna belum tahu harus menghadapi Raffael dan Lora seperti apa jika mereka tahu secara tiba-tiba seperti itu. Hanna, akan mencari waktu yang tepat untuk jujur pada keduanya.


*


"Bagaimana? Kau setuju untuk tinggal disini?" Tanya Tante Lalita memastikan keuputusan akhir Hanna. Ia kembali menghampiri Hanna dan Rey yang masih berada diruang tamu.


Hanna mengangguk pelan.


Senyuman di bibir Tante Lalita langsung merekah.


"Keputusan yang tepat." Imbuh Tante Lalita penuh makna. "Sebaiknya kalian istirahat sekarang, kalian pasti lelah." Tante Lalita kembali meninggalkan keduanya diruang tamu. Ia begitu bersemangat, dan sangat menerima keberadaan Hanna ditengah-tengah keluarga mereka.


Senyuman, tak henti-hentinya tergambar diwajah cantiknya. Tante Lalita, begitu bahagia ketika mengetahui Hanna hamil. Kedua orang tua Rey sudah lama berharap agar itu terjadi. Sepertinya langit mendengarkan doa mereka, dan akhirnya Hanna benar-benar hamil.


Semua itu tak lain untuk mengikat hubungan di antara Rey dan Hanna. Dan menjauhkan Myesa dari kehidupan Rey.


"Huftt..." Rey menghela nafas lega, lalu bangkit dari duduknya. Sepertinya ia agak sedikit grogi. "Ayo, aku tunjukkan kamarnya." Lanjut Rey.


"Empp.." Hanna mengangguk, lalu berjalan mengikuti langkah Rey.


Rey, langsung mengambil alih membawakan koper Hanna ke kamar.


"Kau boleh gunakan lemari ini." Ujar Rey, sambil mengosongkan sebelah lemarinya. Lalu, menumpuk bajunya dilemari sebelahnya.


"Rey.." Panggil Hanna kemudian.


"Iya." Jawab Rey, lalu menoleh ke arah Hanna yang sedang berada di belakangnya.


"Bagaimana dengan Myesa?" Tanya Hanna akhirnya.


"Emm..." Berfikir sejenak.  "Aku akan mengurusnya." Jawab Rey tampak sedikit ragu-ragu.


"Kau tak perlu buru-buru, aku mengerti. Jelaskan perlahan padanya agar dia tidak salah paham." Ujar Hanna. "Dan-" Ucap Hanna terputus, sambil menunduk.

__ADS_1


"Dan apa?" Rey memastikan.


"Aku minta Maaf." Lanjut Hanna, masih menunduk dalam. Sepertinya ia baru menyadari jika semuanya terjadi karena ulahnya. Andai saja malam itu ia tak meminum minuman yang diberikan Anthony, andai saja ia punya keberanian untuk menolak minuman itu. Mungkin semua ini tidak akan terjadi, dan tidak akan menyeret Rey semakin dalam, dalam hubungan yang dijalani karena serba keterpaksaan itu. Begitulah menurut Hanna.


"Aku juga minta maaf." Imbuh Rey. "Lagi pula semuanya sudah terjadi. Tak ada yang dapat kita lakukan selain hanya bisa menjalaninya, bukan?" Lanjut Rey.


"Empp..." Hanna mengangguk pelan.


"Sudahlah, sebaiknya kita istirahat sekarang. Kau boleh tidur di tempat tidur. Aku akan tidur di sofa." Imbuh Rey seakan menyadri kecanggungan Hanna jika seandainya mereka tidur disatu ranjang yang sama. Rey, meraih bantal. Dan hendak menuju ke sofa yang berada tak jauh dari tempat tidur.


"Tidak apa-apa, biar aku saja yang tidur disofa." Hanna langsung mencoba mengambil alih bantal yang berada di tangan Rey. Dan membuat langkah Rey terhenti.


Sedikit sudut bibir Rey terangkat. "Bisakah kali ini kau tidak keras kepala. Ikuti saja apa yang aku katakan." Ujar Rey sambil mengacak puncak kepala Hanna. Membuat Hanna sedikit tersipu dengan pipi yang sudah memerah seperti udang goreng, Hanna pun melepaskan genggamannya dari bantal itu pada akhirnya.


Hanna menatap punggung Rey yang berlalu dari hadapannya. "Ternyata kau punya sisi yang manis juga." Bantin Hanna.


Malam yang panjang. Keduanya sama-sama tak bisa tidur, walaupun sudah mencoba memejamkan mata sedari tadi. Tentu saja karena pikiran mereka sedang melayang entah kemana.


Ditengah kesunyian malam itu, tiba-tiba saja perut Hanna keroncongan.


"Kau lapar?" Tanya Rey sambil menoleh ke arah Hanna.


Hanna perlahan menjauhkan bantal itu dari wajahnya. Lalu juga menoleh ke arah Rey.  "Emm.." Sambil mengangguk dengan senyuman canggungnya.


"Sebentar, akan aku siapkan makanan untukmu." Rey bangkit dari sofa.


"Aku akan membantu." Hanna ikut bangkit dari tempat tidur lalu mengikuti Rey. Ia merasa tidak enak jika membiarkan Rey menyiapkan makanan untuknya seorang diri. Apa lagi itu sudah tengah malam.


*


"Kau mau makan apa?" Tanya Rey pada Hanna yang kini sedang berdiri disampingnya. Keduanya sedang berdiri menatap isian dalam kulkas dua pintu itu yang terbuka lebar.


"Emm..." Hanna tampak bingung, memilih makanan apa yang ingin dimakannya. "Apa saja." Ucapnya setelah berfikir cukup lama.


Rey terkekeh, setelah menunggu cukup lama. Jawaban Hanna justru itu.


"Baiklah." Rey mengangguk, lalu mengeluarkan beberapa sayuran dan bahan lainnya dari dalam kulkas.

__ADS_1


Setelahnya, kini ia hanya berdiri dan tampak bingung dengan apa yang harus ia lakukan.


Hanna mengernyitkan keningnya. Melihat Rey yang hanya berdiri disana dengan pisau ditangannya.


"Apa kau bisa melakukannya?" Tanya Hanna akhirnya.


"Tentu saja." Rey menyeringai. Lalu mencoba memotong tomat.


"Aghh.." Alhasil, justru jarinya yang teriris. Dengan cepat Hanna langsung menghampiri, dan menghentikan darah yang keluar dari jari Rey dengan cara menghisapnya.


Hanna spontan melakukan kebiasaan yang ia lakukan setiap kali jarinya teriris.


Rey menatap Hanna dengan sedikit terkejut karena apa yang sedang dilakukannya.


"Maaf.." Imbuh Hanna sambil kembali melepaskan jari Rey, setelah tersadar dengan apa yang sedang ia lakukan. "Menurut para peneliti dari Belanda, seperti yang mereka laporkan di jurnal The FASEB, ada suatu senyawa dalam air liur manusia yang mampu mempercepat penyembuhan luka. Peneliti mendapati bahwa histatin (protein dalam air liur) diyakini mampu membunuh bakteri dan menjadi penyebab penyembuhan luka tersebut." Hanna menjelaskan. Ia tak dapat menutupi rasa canggungnya. Ia butuh sesuatu untuk membela dirinya.


"Hanna! Apa yang kau lakukan ini." Pekiknya pada diri sendiri sambil mencoba menyembunyikan wajah malunya kearah lain.


Rey justru terkekeh. "Namun karena liur merupakan cairan kompleks dengan banyak komponen, harus diketahui komponen mana yang berperan menyembuhkan luka." Lanjut Rey.


Hanna kembali mengalihkan wajahnya ke arah Rey. "Kau juga membaca tentang penilitian itu?" Tanya Hanna kemudian.


"Yap.. Dan, terimakasih untuk penanganan pertamanya." Ujar Rey sambil tersenyum.


Hanna mengangguk, pun ikut tersenyum. "Biar aku saja yang lanjutkan." Hanna melangkah, lalu mengambil alih tempat Rey di balik kitchen set.


"Tapi-"


"Sebaiknya kau balut saja lukanya dulu." Sela Hanna, sambil memakai celemek.


"Em baiklah." Rey perlahan melangkah, meninggalkan Hanna dan menuju kotak p3k berada. Lalu membalut lukanya.


*


Akhirnya, Rey hanya menjadi penonton. Memandangi Hanna yang begitu lihai menggunakan peralatan dapur. Dan entah mengapa, Rey tak dapat mengalihkan pandangannya dari wajah gadis itu yang sedang tampak begitu serius.


Next >>>

__ADS_1


__ADS_2