My Boss, Is My Husband

My Boss, Is My Husband
Ep.129


__ADS_3

Om Surya meninggal karena serangan jantung. Rey sangat terpukul, tak bisa menemani Papa nya di detik detik terakhirnya.


Belakangan ini, ia sangat sibuk. Dengan urusan pekerjaan maupun pribadi. Om Surya, sempat beberapa kali meminta Rey untuk pulang kerumah dan menemuinya, tapi karena kesibukannya, Rey selalu memberi alasan. Hingga akhirnya, ia tak bisa bertemu dengan Papanya bahkan sampai akhir hayat nya. Dan Rey benar benar merasa bersalah akan hal itu, ia sangat menyesal. Rey menangis histeris di samping jasad Om Surya.


Hanna hanya bisa mengelus lembut punggung Rey, sambil terus menyeka air matanya. Kehilangan yang sama juga dirasakan Hanna.


Ia tidak menyangka Ayah mertuanya pergi secepat itu.


*


Satu minggu setelah kepergian Om Surya. Rey masih tampak sedih, ia sering merenung di balkon rumah.


Hanna menghampiri, memeluk Rey dari belakang. "Papa sudah berada di tempat paling indah." Imbuh Hanna untuk menghibur Rey.


"Ya, semoga saja." Sahut Rey, lalu menengadahkan wajahnya ke langit. Memandangi hamparan bintang yang menghiasi langit malam yang gelap.


Rey menarik pergelangan tangan Hanna, membawa Hanna kedalam pelukannya.


"Aku sangat merindukannya." Gumam Rey pelan.

__ADS_1


Hanna mengeratkan pelukannya, ia tidak tahu harus menghibur suaminya seperti apa.


"Kau harus istirahat sekarang, bukankah besok kau harus kembali bekerja." Ujar Hanna, sambil mengusap sudut mata Rey yang tampak berair.


"Huffttt .. " Rey menghela nafas dalam. "Waktu berjalan begitu cepat." Lanjutnya.


Hanna melepaskan pelukannya, lalu menarik pergelangan Rey. Menuntun nya hingga ke tempat tidur, "Kau juga harus menjaga kesehatan mu."


Sekali lagi, Rey menarik Hanna kedalam pelukannya lalu mendekap wanita itu dengan erat.


"Aku tidak tahu seperti apa jadinya aku, jika tanpamu." Lirih Rey. Tiba tiba saja Rey menjadi begitu takut jika kehilangan Hanna. Ia begitu paranoid, bahkan berniat menjauhkan Hanna dari Raffael sejauh mungkin. Ya, ingatan tentang pengakuan Raffael itu masih begitu jelas terngiang di benak Rey.


Apa lagi setelah Raffael bercerai. Bagaimana jika Raffael kembali mendekati Hanna, dan berniat merebut nya. Rey terus saja menerka nerka, hingga terganggu dengan pikirannya sendiri.


Hanna tersenyum mendengar kalimat yang keluar dari mulut Rey. "Tuhan lebih tahu, apa yang terbaik untuk mu."


"Aku hanya ingin kau! Jika menurut Tuhan, aku lebih baik tanpamu. Aku akan menentangnya dengan keras." Celoteh Rey, yang akhirnya justru menimbulkan gelak tawa dari istrinya.


*

__ADS_1


Rencana Rey untuk kembali ke London sirna sudah. Ia harus menetap, perusahaan membutuhkannya kini.


Ia kembali bekerja, mencoba untuk sebisa mungkin tetap tampak biasa saja di hadapan Raffael. Berpura-pura seakan ia tak tahu tentang perasaan Raffael pada Hanna.


"Kau baik baik saja?" Tanya Raffael, setelah rapat selesai. Ia ingin memastikan perasaan Rey setelah kehilangan orang yang amat disayanginya.


"Tentu! Semua berkat Hanna." Ucap Rey, sambil menunjukkan senyuman terbaiknya.


"Syukurlah.." Raffael ikut tersenyum. Lalu bangkit dari duduknya.


"Bagaimana keadaan Yayank?" Pertanyaan itu membuat Raffael yang tadinya akan melangkah, kembali terhenti. Lalu menoleh ke arah Rey dengan cepat.


"Aku tidak tahu." Sahut Raffael dengan kening sedikit berkerut. Ia heran mengapa Rey menanyakan hal itu pada nya.


"Kau tidak pernah lagi menghubungi nya?" Rey kembali bertanya.


"Tentu saja tidak! Hubungan diantara kami sudah berakhir. Dan tidak ada lagi alasan bagi kami untuk saling menghubungi."


Rey tersenyum penuh arti, lalu menunduk.

__ADS_1


"Aku rasa tidak seperti itu." Imbuh Rey, lalu bangkit dari duduknya. Setelahnya melangkah, berlalu pergi dari ruang rapat. Meninggalkan Raffael yang tampak bingung dengan ucapannya.


Next ✔️


__ADS_2