My Boss, Is My Husband

My Boss, Is My Husband
Diluar Kehendak


__ADS_3

Wanita paruh baya itu, tampaknya sudah bersiap untuk membalaskan dendamnya. Setelah kehilangan putrinya dan hidup dalam keterpurukan, kini ia sudah matang dengan persiapan dan juga intrik untuk membuat orang orang yang telah menyakiti putrinya juga merasakan hal yang sama.


Penyamarannya sebagai pegawai kebersihan begitu sempurna, ia beruntung karena bahkan Rey sekalipun tak mengenalinya.


Hanna menghela nafas dalam, sesaat setelah menutup pintu mobilnya. Pikirannya kembali tertuju pada log panggilan masuk yang berada diponsel Rey. "Mengapa Yayank masih menghubungi Rey? Dan untuk apa?" Tanya Hanna entah pada siapa.


"Huffttt... Semoga saja tidak seperti yang aku pikirkan." Gumam Hanna, lalu memasang safety belt dan melajukan mobilnya.


*


"Apa akan ada karyawan baru?" Saking penasarannya, Raffael bahkan sampai menemui manager HRD untuk memastikan.


"Iya, Pak. Sepertinya Pak Rey akan mempekerjakan seseorang." Jawab manager HRD.


Raffael mengangguk anggukkan kepalanya, lalu tersenyum dengan sudut bibirnya. Rasanya bahagia bisa melihat Hanna bekerja lagi di perusahaan. Itupun jika benar seperti tebakannya, jika benar meja kerja yang di siapkan Rey untuk Hanna.


"Kembalilah bekerja." Imbuh Raffael sebelum beranjak dari departemen HRD.


"Baik, Pak." Sahut Manager HRD.


Raffael kembali ke ruang kerjanya, meraih ponselnya dan berniat untuk menghubungi Hanna. Namun, ia kembali teringat jika Hanna sepertinya sedang menghindarinya. Hanna dengan sengaja menarik diri darinya, setelah kejadian tempo hari.

__ADS_1


"Ah sudahlah, aku bicara saat bertemu dengannya saja." Raffael kembali mengunci layar ponselnya, dan meletakkannya di atas meja kerja.


*


Hanna menghentikan mobilnya di depan rumah Tante Lalita. Ia merasa harus menjenguk ibu mertuanya itu, apa lagi sudah agak lama Ia dan Rey tak berkunjung kerumahnya.


"Wahh, kayaknya enak nih Mbak." Imbuh Hanna, sambil menghampiri Mbak Nur, yang sedang menyajikan makan siang di atas meja makan.


"Eh,Non." Mbak Nur ikut terkekeh setelah menoleh ke arah Hanna, "Kebetulan sekali Non datang. Ikut makan siang disini ya, Non. Kasian Nyonya, beliau tampak kesepian akhir akhir ini." Lengkap dengan raut wajah sedihnya.


Hanna mengangguk, mengiyakan permintaan Mbak Nur. "Mama sekarang dimana, Mbak?"


"Yaudah, aku temui Mama dulu ya." Imbuh Hanna, lalu beranjak dari sana setelah mendapatkan anggukan dari Mbak Nur.


Tok!Tok!


"Ma, ini Hanna." Ujar Hanna, lalu menunggu jawaban dari dalam.


"Ma.." Panggil Hanna lagi, sambil mengetuk pintu.


"Iya, Masuk." Sahut Tante Lalita.

__ADS_1


Setelah masuk, Hanna kembali menutup pintu kamar itu perlahan, setelah melihat ibu mertuanya itu sedang duduk dengan pandangan kosong di balkon kamarnya.


"Ma.." Imbuh Hanna, lalu ikut duduk bersama Tante Lalita.


"Kau sendirian?" Tanya Tante Lalita, tanpa menoleh ke arah Hanna.


"Iya, Ma. Rey sedang di kantor." Jawab Hanna, sambil menahan air matanya agar tak menetes. Melihat keadaan ibu mertuanya yang seperti saat ini, membuat hati Hanna terenyuh.


Tante Lalita mengangguk paham, sudah sewajarnya Rey sibuk, bahkan tak punya waktu untuk mengunjunginya.


Tante Lalita menghela nafas dalam.


"Ma, ayo kita makan. Mbak Nur sudah menyiapkan makan siang." Imbuh Hanna, sambil meraih tangan wanita paruh baya itu dan menggenggamnya lembut.


Tante Lalita menoleh ke arah Hanna, lalu tersenyum. Senyum yang dipaksakan. "Andai saja kalian memberikan Mama cucu, mungkin Mama tidak akan merasa kesepian seperti ini." Imbuh Tante Lalita, setelahnya beranjak dari duduknya. Melepaskan perlahan genggaman tangan Hanna.


Tante Lalita berjalan meninggalkan Hanna disana, Hanna menengadahkan wajahnya, menahan air matanya yang sudah memenuhi pelupuk mata. Pikirannya sedikit terganggu setelah mendengar ucapan yang baru saja di ucapkan Tante Lalita.


Hanna menelan salivanya, dadanya berdegup, ia juga bukan dengan sengaja. "Andai semua bisa Hanna atur, Ma. Hanna akan memberikan Mama cucu yang banyak, namun semua kehendak yang di atas." Batin Hanna meronta. Setelah kalimat itu kembali terucap dari bibir Tante Lalita. Bukan untuk pertama kalinya Tante Lalita mendesak agar Hanna dan Rey segera memberikannya cucu.


Next ✔️

__ADS_1


__ADS_2