My Boss, Is My Husband

My Boss, Is My Husband
Begitu Bijak


__ADS_3

"Apa kau tak apa dirumah seorang diri?" Rey kembali memastikan. Ketika keesokan harinya, Hanna masih juga merasa nyeri di perutnya.


"Iya Rey, tidak apa apa. Aku setiap bulan akan seperti ini. Kau tenang saja." Hanna mencoba meyakinkan.


Pasalnya, tiba tiba saja Rey mendapatkan panggilan telpon dari Perusahaan pusat. Dan memintanya segera datang.


Ting Tong..


"Itu pasti Raffael, cepat keluar. Dia pasti sudah menunggumu dari tadi." Ujar Hanna, sedikit memaksa Rey agar tak perlu mengkhawatirkannya.


Rey menghela nafas, "Langsung hubungi aku jika terjadi apa apa." Rey mengingatkan.


"Tentu!" Jawab Hanna sambil mengangguk.


Rey, meraih kopernya. Mengecup puncak kepala Hanna, lalu keluar dari dalam kamar.


Langsung menuju ke arah pintu, yang baru saja diketuk dari luar sana.


"Kenapa kau sangat tak sabar!" Imbuh Rey, yang baru saja keluar dari apartemen.


"Bagaimana keadaan Hanna." Justru pertanyaan itu yang keluar dari mulut Raffael.


"Perutnya masih sakit, tapi dia bersikeras untuk untuk tetap tinggal dan tak mau ikut." Ujar Rey, sambil terus melangkah setelah menutup pintu.


Raffael dengan tergesa mengikuti Rey. "Apa kau yakin dia bisa di tinggalkan seorang diri?" Raffael memastikan dengan serius.


"Tentu saja tidak! Tapi mau bagaimana." Dengan diiringi helaan nafasnya.


Raffael, kembali menoleh ke arah lorong yang menuju ke apartemen Rey dan Hanna. Setelahnya masuk ke dalam lift, karna pintunya hampir kembali tertutup.

__ADS_1


*


Baru saja berselang beberapa menit. Rey sudah menelepon Hanna, untuk memastikan keadaannya.


"Bukankah sudah aku katakan, aku tidak apa apa Rey. Kau tenang saja." Hanna terkekeh.


"Aku akan naik pesawat sekarang. Akan aku hubungi lagi sesampainya disana." Ujar Rey.


"Empp... Baiklah, jika itu bisa membuatmu tenang." Sahut Hanna. "Kiss me, please." Lanjut Hanna kemudian.


"Apa kau bercanda? Ada Raffael disampingku sekarang." Imbuh Rey, yang langsung mendapatkan tatapan dari Raffael. Karna namanya disebut sebut.


"Jadi kau malu padanya?" Hanna menantang.


Rey terkekeh.


"Much." Ujar Rey sangat pelan sambil mengalihkan wajahnya ke arah yang berlawanan dari Raffael.


Pun begitu, tetap saja Raffael masih bisa mendengarkan. Pasalnya ia duduk tepat disamping Rey.


"Aku tidak dengar, Rey." Rengek Hanna.


"Muachh.." Kali ini, suaranya sedikit lebih keras.


Sedangkan disampingnya, Raffael sedang menahan rasa ngilu di hatinya.


"Rey...." Ucap Hanna sedikit menekan.


"Muach muach muach..." Dan kali ini, benar benar lakoni sesuai keingin Hanna.

__ADS_1


"Muach muachh.." Imbuh Hanna, lalu tertawa puas karena berhasil mengerjai Rey.


"Kau bisa tertawa sekeras itu, apa artinya perutmu sudah tidak sakit lagi?" Tanya Rey, memastikan.


"Tentu saja! Bukankah sudah aku katakan dari tadi. Aku sudah sembuh." Bohong Hanna, padahal jelas jelas ia sedang meremas perutnya sekarang. Ia berbohong agar Rey bisa tenang meninggalkannya dan bisa fokus dengan pekerjaannya disana.


"Syukurlah kalau begitu, aku bisa sedikit tenang sekarang."


"Sedikit?"


"Tentu saja, apa kau pikir aku bisa meninggalkanmu? Kau yang keras kepala tak mau ikut." Kesal Rey.


"Sudah sudah.. Jangan mulai pertengkaran oke!"


Rey kembali terkekeh. "Yasudah, nanti aku hubungi lagi. Love you!"


"Love you too, my husband."


Rey mematikan panggilan itu, dengan raut wajah yang terus saja tersenyum senyum seorang diri.


"Apa sebahagia itu?" Tanya Raffael akhirnya.


"Apa kau tak merasakannya? Rey kembali bertanya.


"Jangan berpura-pura. Kau tahu dengan jelas bagaimana akhirnya aku bisa menikah dengannya."


Rey menepuk bahu Raffael. "Kau pasti akan bisa mencintainya suatu hari nanti. Bukankah awalnya aku juga tidak mencintai Hanna." Imbuh Rey, begitu bijak.


Next >>>

__ADS_1


__ADS_2