
Rey..
Disaat kau baca surat ini, mungkin aku sudah tidak berada lagi di dunia ini. Aku sangat menyesal, karena dulu sudah menyia nyiakan cintamu. Aku begitu percaya diri, dan berfikir kalau aku tidak akan pernah kehilanganmu. Dan ternyata aku salah besar.
Aku melakukan segala cara agar kau bisa kembali menjadi milikku. Aku tidak perduli, benarkah itu, atau salahkah itu. Yang aku tahu, aku hanya ingin kau.
Dan ternyata, semua itu justru membuatmu semakin benci dan jarak di antara kita semakin jauh.
Lalu, untuk apa lagi aku hidup. Ketika tujuanku, tak mungkin lagi bisa aku gapai.
Maafkan aku, dengan segala kesalahan dan kebodohan yang telah aku perbuat.
_______________________________________________________________________
Surat itu, langsung di bakar oleh Rey setelah membacanya. Tentu, ia harus semakin merahasiakannya pada Hanna.
"Kau sedang apa?" Tanya Hanna, saat mendapati Rey sedang merenung di balkon apartemen.
"Hanya sedang menikmati bintang, yang ternyata tak seindah wajahmu." Rey langsung menarik Hanna, lalu membawanya kedalam pelukannya.
"Kau semakin ahli menggombal." Hanna tersenyum tipis. Lalu ikut memandangi lagit, yang tampak dipenuhi dengan bintang. Tapi, malam ini tak terlihat bulan menyinari malam.
Sebuah ciuman mendarat di leher jenjang Hanna. Hanna, menggeliat menikmati desiran hangat itu.
Lalu, ia berbalik. Melingkari tanganya ke leher Rey. Menatap dalam netra teduh itu, setelahnya berjinjit untuk mengecup bibir lembut milik Rey.
Godaan itu, membuat Rey menggendong tubuh munggil Hanna. Dan keduanya berakhir di atas ranjang dengan peluh yang berjatuhan.
*
Pemakaman Myesa berlangsung hening, tak banyak yang menghadiri. Hanya Tante Rosa yang setia menemani hingga peristirahatan terakhirnya. Matanya tampak sembab, karena terus saja menangis. Putri kesayangannya, putri yang sangat ia cintai. Mengakhiri hidupnya hanya karena seorang pria!
"Mama akan membalas mereka sayang. Mama janji, mereka juga akan merasakan apa yang kau rasakan." Lirih Tante Rosa sambil mencium batu nisan Myesa.
Ia, Tante Rosa sangat murka. Dan berniat akan membalas mereka.
*
__ADS_1
Hanna dan Rey kembali ke London. Mereka akan kembali fokus dengan perusahaan cabang disana. Menjalani hidup baru mereka, dengan suasana baru dan orang orang baru.
Shasya dan Tante Enny, berserta Lucy juga sudah kembali.
Mereka turut bahagia dengan pernikahan Rey dan Hanna.
Semuanya kembali membuka lembaran baru dalam hidup mereka. Rey, sudah menutup rapat tentang kasus kematian Myesa pada Hanna. Dan melarang semua orang yang mengetahuinya untuk bungkam.
"Selamat pagi sayang.." Sapanya, sambil memeluk manja Hanna yang sedang menyiapkan sarapan.
"Pagi kembali, sayang." Balas Hanna, sambil mengecup pipi Rey yang kini berdagu di pundaknya.
"Bisa kita lakukan ronde kedua sekarang?" Bisik Rey.
Membuat Hanna terkekeh malu.
"Kau ini! Sudah cepat sana mandi dan bersiap. Hari ini ada rapat penting di kantor bukan." Imbuh Hanna.
"Huftt .. baiklah! Kita lanjutkan nanti malam." Kecupan melekat di pipi Hanna. Rey menciumnya dengan gemas.
*
Ia merasa, ia yang telah membunuh Myesa dengan menjebloskannya kedalam penjara.
"Pak.. Pak Rey!" Panggil seorang karyawan, mengembalikan Rey dari lamunanya.
"I-iya.."
"Jadi bagaimana menurut Anda? Apa kita mulai lakukan pemotretannya akhir bulan ini?" Tanya si karyawan lagi.
"Iya, boleh. Nanti berikan semua rinciannya padaku. Dan tolong ringkas isi rapat hari ini!" Imbuhnya, setelah itu berlalu pergi. Beranjak keluar dari ruang rapat.
"Ada apa dengannya? Mengapa ia selalu tampak termenung akhir akhir ini." Ujar seseorang yang berada di ruangan itu.
"Iya benar, bukankah padahal Pak Rey baru saja menikah. Tapi mengapa ia tampak sering murung ya."
"Mungkin dia tidak bahagia dengan pernikahannya." Sahut yang lainnya, ikut berkomentar.
__ADS_1
Akhirnya, ruang rapat itu berubah menjadi tempat mereka menggosipi atasan mereka.
"Sudah sudah, cepat kerjakan pekerjaan kalian."
Akhirnya, mereka pun bubar dari sana.
*
Hari ini Hanna tidak masuk kerja, ia masih cuti selama satu minggu. Dan hari ini, ia memilih untuk mengunjungi kediaman Lucy.
"Lucy, Mommy's here." (Lucy, Mommy disini.) Ucap Hanna, sambil merentangkan kedua tangannya ke arah Lucy.
Lucy yang sedang bermain dengan Omanya, langsung berlari ke arah Hanna.
"Mommy..." Ucapnya lalu memeluk Hanna.
Setelah menggendong Lucy, Hanna pun ikut bergabung dengan Tante Enny yang sedang duduk di sofa yang berada di ruangan itu.
"Akhirnya kau menikah juga dengan Rey, sudah Tante katakan bukan, kalian terlihat sangat cocok." Imbuhnya, yang masih belum tahu, kalau Hanna dan Rey memang pernah menjadi suami istri.
Hanna hanya terkekeh lalu menunduk.
"Hanna, kau sudah datang." Shasya ikut menghampiri, sebelumnya Hanna memang sudah memberitahukan padanya, kalau ia akan datang berkunjung.
"Emp..." Hanna menganggu, sambil menunjukkan senyuman terbaiknya.
"Mommy, I miss your cooking." (Mommy, aku rindu dengan masakanmu.)
"Is it true?" (Benarkah?) Hanna memastikan.
Lucy mengangguk semangat.
"All right, let's cook now." (Baiklah, ayo kita memasak sekarang.) Imbuh Hanna, sambil menggendong Lucy, lalu beranjak dari sana menuju dapur.
"Mereka terlihat sangat kompak." Imbuh Tante Enny pada Shasya yang masih berada ditempat semula.
"Iya! Orang yang tak tahu akan mengira Hanna yang justru ibu kandung Lucy." Sahut Shasya.
__ADS_1
"Kau benar." Tante Enny terkekeh.
Next >>>