My Boss, Is My Husband

My Boss, Is My Husband
Maksud Terselubung


__ADS_3

Entah apa maksud dari keinginannya itu. Yang jelas, Hanna tampak sumringah ketika izin untuk kembali bekerja kini telah didapatinya dari Rey.


Tok!Tok!


"Pak, ada berkas yang harus Anda tandatangani." Imbuh Maida, sekretaris Rey. Sesaat setelah masuk kedalam ruang kerja Rey.


Rey langsung bangkit dari duduknya, berjalan menuju meja kerjanya, pun begitu dengan Maida.


Grrtttt ...


Ponsel Rey yang tergeletak di atas meja, tepat dihadapan Hanna berdering.


"Siapa, Han." Tanya Rey tampa menoleh, ia sedang memeriksa berkas yang baru saja diberikan oleh Maida.


"Mama.." Ujar Hanna, setelah memeriksa nama yang tertera dilayar ponsel Rey.


"Bisa tolong kau terima, aku harus memeriksa berkas ini." Perintah Rey, dan langsung mendapatkan anggukan dari Hanna.


Hanna meraih ponsel Rey, namun panggilan itu berakhir sebelum sempat di terima oleh Hanna.


"Panggilannya berakhir.." Imbuh Hanna kemudian.


"Tidak apa, nanti aku hubungi Mama kembali." Balas Rey.


Karena kini ponsel Rey sudah berada ditangannya, entah mengapa naluri Hanna justru memintanya untuk memeriksa log panggilan.


Dan...

__ADS_1


Deg!


Nama Yayank tertera di panggilan masuk.


"Kau ingin kopi?" Tawar Rey, yang langsung membuat Hanna mengalihkan pandangannya.


"Hah..! Emp, boleh." Hanna tersenyum canggung, lalu dengan cepat kembali meletakkan ponsel Rey pada tempat semula.


"Tolong buatkan kopi." Perintah Rey pada Maida, sambil kembali menyodorkan berkas yang sudah ditandatangani.


"Baik, Pak." Maida mengangguk, lalu beranjak dari ruangan itu.


*


"Apa Pak Raffael ada di ruangannya?" Tanya Raffael pada Maida.


Raffael kembali mengambil langkah, lalu masuk kedalam ruangan itu tampa mengetuk pintu.


Pandangan kedua orang yang berada didalam ruangan itu langsung sontak tertuju ke arahnya, dan terdiam diwaktu yang bersamaan. Padahal tadinya mereka tampak sedang membicarakan sesuatu.


"Apa aku menggangu?" Tanya Raffael akhirnya.


"Tidak, kebetulan aku mau pulang." Hanna langsung beranjak dari duduknya.


"Kau akan pulang sekarang?" Rey memastikan, karena itu terlalu tiba tiba.


"Emp, sampai jumpa dirumah." Imbuh Hanna, lalu beranjak dari sana setelah meraih tasnya. Ia berjalan melewati Raffael tampa menoleh ke arahnya.

__ADS_1


Sialnya, Rey memergoki lirikan mata Raffael yang mengarah pada Hanna saat ia berjalan melewati dirinya.


"Ch.." Rey tersenyum dengan sudut bibirnya, lalu mengalihkan wajahnya kesamping. Pemandangan itu sedikit menyayat hatinya.


"Ini undangan makan malam untuk merayakan kontrak yang baru ditandatangani." Raffael menyodorkan undangan ke arah Rey, lalu ikut duduk bersamanya.


"Kau saja yang datang, sepertinya aku tidak sempat." Sarkas Rey, tampa menerima undangan yang sedang disodorkan oleh Raffael.


Raffael mengalihkan pandangan ke arah tangannya yang masih menggantung, "Hemm.. Baiklah!" Raffael kembali menarik tangannya dengan canggung.


Rey beranjak dari duduknya, "Ohya, tolong siapkan meja kerja didepan ruanganku untuk karyawan baru." Perintahnya kemudian.


*


"Ma-maf, Nona. Saya tidak sengaja." Imbuh seorang wanita paruh baya yang baru saja bertabrakan dengan Hanna, dan menumpahkan air bekas pel.


"Anda tidak apa apa?" Ujar Hanna sambil membantu wanita itu untuk kembali berdiri. Ya, wanita itu bahkan sampai terjatuh.


"Tidak, Nona." Jawabnya sambil menunduk. "Pakaian Anda.." Dengan tatapan tertuju ke arah pakaian Hanna yang basah.


"Tidak apa apa." Hanna masih menunjukkan senyuman terbaiknya. "Sebaiknya Anda juga mengganti pakaian Anda." Imbuh Hanna, sebab pakaian wanita itu juga basah.


"Baik, Nona." Diiringi dengan anggukan kepalanya.


Hanna pun kembali melangkah, sambil menepuk nepuk pakaiannya untuk membersihkan kotoran sisa pel yang lengket di bajunya.


Sedangkan wanita tadi, terus menatap punggung Hanna sambil tersenyum licik. Ya, wanita itu dengan sengaja melakukannya. "Sebentar lagi kau akan merasakan apa yang dirasakan Meisya, Hanna." Sarkas Tante Rossa penuh murka.

__ADS_1


Next ✔️


__ADS_2