
Rey, kembali ke kediaman orang tuanya. Untuk menjenguk keadaan Papanya.
Walaupun sedang sakit, Om Surya tetap saja tak mau dirawat.
"Bagaimana keadaan Papa, Ma." Tanya Rey, ketika berpas pasan dengan Tante Lalita didepan kamarnya.
"Sudah lebih baik, tapi Papa baru saja tertidur." Ucap Tante Lalita, agak menyesal karena tak bisa membiarkan Rey untuk masuk.
"Tidak apa apa, besok saja Rey temui Papa." Imbuh Rey, yang mengerti maksud Mamanya.
"Hanna mana? Tak ikut denganmu?" Sambil celingak celingukkan melihat ke arah belakang Rey.
"Tidak, Hanna juga sedang kurang sehat. Jadi tak ikut kembali ke sini." Rey mulai mengambil langkah. Pun dengan Tante Lalita.
"Kau sudah makan malam?" Tanya Tante Lalita.
"Belum.."
"Yasudah ayo makan dulu, kebetulan makanannya masih hangat. Karena baru saja di panaskan."
"Emp, baiklah." Rey mengangguk.
Tante Lalita menemani Rey menuju ruang makan.
Menemani Rey sambil mengobrol.
__ADS_1
"Jadi, Hanna sudah isi?" Tanyanya langsung, hingga membuat Rey tersedak.
"Mana mungkin secepat itu, Ma." Imbuh Rey setelah meneguk air minum.
"Bukankah waktu itu langsung jadi, hanya sekali coba!"
"Itu kebetulan saja!" Rey kembali melanjutkan makannya.
"Jangan lama lama Rey, Mama dan Papa semakin tua. Apa lagi sekarang Papa sering sakit sakitan. Jangan sampai-"
"Iya Ma, Iya. Rey paham.." Sela Rey, sebelum sempat Tante Lalita melanjutkan kalimatnya. "Rey juga sangat ingin, cepat cepat punya anak. Tapi belum dikasih, ya mau bagaimana."
"Ya kau lebih berusaha lah Rey. Kalau biasanya cuma satu ronde, di tambah jadi tiga ronde."
"Mama, ih! Malu Ma di dengar si Mbak." Ujar Rey sambil menoleh ke arah belakang. Kali saja ada asisten rumah tangga mereka di belakang dan mendengar percakapan yang tak senonoh itu.
Membuat Rey terkekeh akhirnya. Sepertinya Tante Lalita sudah sangat ngebet pengen punya cucu.
"Mama bantu doa saja." Imbuh Rey akhirnya.
"Lah iya! Nggak mungkin juga Mama bantu nge ronde, Rey." Sahut Tante Lalita, lalu terkekeh.
Rey, membelalakkan matanya. Lalu ikut terkekeh. "Mama ada ada saja." Imbuh Rey sambil geleng geleng kepala.
*
__ADS_1
Keesokan paginya, saat terbangun. Hal yang pertama kali dilakukan Rey adalah, menghubungi Hanna.
Satu, hingga dua panggilan tak terjawab. Rey mulai tampak khawatir dan gelisah. Ia mengirim pesan pada Hanna, setelah ke kamar mandi. Karena ia sudah harus bersiap untuk berangkat kerja.
Setelah selesai mandi, ia kembali memeriksa ponselnya. Tak ada balasan dari Hanna atau panggilan tak terjawab.
"Kemana perginya anak itu. Padahal sudah di ingatkan berulang kali, jangan tinggalkan ponselnya sebentar pun." Rey kembali mencoba menghubungi Hanna.
Tok!Tok!
"Rey, Papa ingin bertemu denganmu." Imbuh Tante Lalita dari luar kamar Rey.
"Iya, Ma. Rey ke sana sekarang." Rey langsung bergegas untuk pakai baju dan bersiap. Setelah selesai, ia pun keluar dari kamar dan menemui Papanya.
*
"Bagaimana perkembangan di perusahaan?" Tanya Om Surya langsung.
"Perusahaan sudah menarik kembali semua majalah yang sudah di edarkan, Pa."
"Lalu, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"
"Rey akan menemuinya secara langsung, dan minta maaf. Lalu akan mengadakan konferensi pers."
Om Surya, manggut manggut. Dan berharap itu bisa berhasil.
__ADS_1
"Dan untuk sahamnya, mungkin akan kembali normal setelah klarifikasi nanti." Lanjut Rey.
Next >>>