
"Raf.. Bagaimana bisa kau dapatkan tas ini?" Tanya Hanna dengan ekpresi sumbringahnya. Ia, sudah sejak lama menginginkan tas itu, bahkan sebelum diluncurkan. Sayangnya, saat itu karna jumlah yang terbatas Hanna tidak sempat mendapatkan salah satu dari tas yang diluncurkan limited edition itu.
Raffael terkekeh, melihat ekspresi excited Hanna yang tampak sangat menyukai hadiah pemberiannya.
"Kau tak perlu tahu bagaimana caranya aku bisa mendapatkan salah satu dari tas itu, yang penting sekarang kau bisa miliki tas yang sangat kau inginkan itu sekarang." Imbuh Raffael.
"Tunggu!" Hanna dengan cepat langsung menoleh ke arah Raffael. "Bagaimana bisa kau tahu, aku sangat menginginkan tas ini?" Lanjut Hanna. Membuat raut wajah Raffael langsung berubah. Ia tampak bingung, untuk memberi jawaban atas pertanyaan yang diberikan oleh Hanna.
Ceklek..
Pintu apartemen terbuka.
Hanna dan Raffael, serentak melihat ke arah pintu apartemen yang terbuka.
"Kenapa kau disini?" Tanya Rey, ketika melihat Raffael berada di apartemennya.
"Rey, kau sudah pulang.." Hanna bangkit dari duduknya, entah mengapa tatapan dan nada bicara Rey tampak seakan sedang mengintimidasi Raffael.
Rey melangkah mendekat ke arah keduanya, Hanna dan Raffael.
"Hanna, tolong tinggalkan kami berdua." Perintah Rey akhirnya.
Hanna mengernyitkan keningnya. Mengapa Rey tiba tiba bersikap sedikit berbeda.
"Empp ..." Imbuh Hanna, lalu kembali memasukkan hadiah yang diberikan oleh Raffael kedalam kotaknya. "Terimakasih untuk hadiahnya, Raf." Lanjut Hanna, lalu berlalu pergi.
Dan kali ini, justru Rey yang di buat mengernyitkan keningnya. Ia sempat melirik ke arah hadiah itu tadi, dan ternyata itu hadiah dari Raffael?
__ADS_1
Rey, duduk di sofa setelah kepergian Hanna.
"Apa masalahnya sangat serius?" Tanya Raffael, yang masih duduk ditempat semula tanpa beranjak. Melihat ekspresi serius dari wajah Rey, membuat dia ikut penasaran dengan apa yang terjadi.
"Siapa gadis itu?" Tanya Rey, akhirnya.
Dan itu cukup membingungkan Raffael. "Apa maksudmu?" Tanya Raffael sedikit terkekeh.
"Gadis mana yang ingin kau lamar dengan cincin ini?" Rey meletakkan kotak cincin milik Raffael ke atas meja yang berada di hadapan mereka.
Spontan, Raffael langsung terkejut. "Kenapa itu bisa ada padamu?" Tanya Raffael, dengan raut wajah seriusnya kini.
"Kenapa aku bisa tidak tahu, kalau ternyata ada gadis yang begitu kau inginkan!" Imbuh Rey, alih alih menjawab pertanyaan Raffael.
"Jadi kau menemui Yayank?" Ujar Raffael, sedikit kesal.
"Siapa gadis itu?" Rey kembali mengulang pertanyaannya.
"Tentu saja! Apa kau tidak bisa mengambil pelajaran dari kejadian yang aku alami? Akhinya, akan ada yang tersakiti." Rey, mencoba mengingatkan Raffael, sebelum ia menyesal nantinya.
Raffael justru terkekeh. Ia tampak kesal, pada Yayank karena memilih mengadu pada Rey.
"Aku permisi dulu." Imbuh Raffael akhirnya, lalu beranjak dari sana setelah meraih kotak cincin itu dari atas meja.
Rey, hanya menatap Raffael yang berlalu pergi.
Setelahnya, ia juga ikut beranjak dari duduknya.
__ADS_1
"Apa Rafa sudah pulang?" Tanya Hanna, ketika Rey kembali masuk kedalam kamar.
"Sudah.." Sahutnya, sambil membuka jasnya lalu meletakkannya di atas tempat tidur.
"Bukankah katamu kau tidak pulang malam ini?" Hanna, mulai mengintrogasi Rey.
"Emm.. Awalnya aku berniat begitu. Aku ingin memastika tak ada kendala untuk konferensi pers besok." Sahutnya, sambil berjalan menuju kamar mandi.
Hanna mengikuti langkah Rey, dan ikut masuk ke kamar mandi.
"Lalu...?" Lanjut Hanna, setelahnya duduk di atas kloset yang tertutup. Sambil terus memperhatikan Rey yang sedang membuka pakaiannya.
"Lalu Yayank menelpon dan memintaku untuk bertemu." Imbuh Rey, lalu berdiri di bawah shower. Kemudian mengguyur tubuhnya dengan air yang keluar dari sana.
"Yayank..?" Hanna mengernyitkan keningnya.
"Emp.. Dia menangis, dan berkata ada yang ingin ia tanyakan." Lanjut Rey.
"Tentang apa?" Hanna tampak penasaran.
"Dia bertanya siapa wanita yang ingin di lamar oleh Rafa dulu, karena Rafa masih menyimpan cincin itu dan mengaku masih mencintai gadis itu." Pungkas Rey.
Seketika, ekspresi Hanna langsung berubah.
"Aku saja terkejut ketika tahu itu dari Yayank. Bagaimana bisa aku menjawab pertanyaan itu. Aku saja sama sekali tidak tahu menahu soal itu." Imbuh Rey, sambil terkekeh.
"Anak itu, bisa bisanya menyembunyikan hal sepenting itu dariku." Lanjut Rey, sambil menggosok seluruh tubuhnya dengan busa sabun.
__ADS_1
Sedangkan Hanna, sudah terdiam dengan wajah pucat pasi.
Next >>>