My Boss, Is My Husband

My Boss, Is My Husband
Kembali Dalam Genggaman


__ADS_3

Rey kembali ke apartemen dengan perasaan hancur sehancurnya. Mendapati kenyataan bahwa anaknya sudah meninggal, di tambah lagi Hanna bersikeras tidak ingin memberitahukannya apa penyebab kematian anak mereka.


Rey, menghamburkan apapun yang berada dihadapannya. Dia sangat emosi, dan marah pada Hanna.


*


Sedangkan Hanna, seakan kembali membuka luka lama. Air matanya kembali mengalir, setelah sekian lama.


"Mama sangat merindukanmu, sayang. Maafkan Mama! Mama benar benar bersalah padamu." Lirih Hanna diiringi dengan air matanya yang mengalir.


*


Hanna, kembali menjalani aktivitasnya keesokan harinya.


"Pagi, Bu Hanna." Sapa para karyawan saat Hanna berjalan menuju ke ruangannya. Sepanjang jalan, ia harus menunjukkan senyumannya. Kepada semua orang yang menyapanya.


"Pagi.." Balas Hanna. Walau sesedih apapun ia, Hanna tetap harus tersenyum


Baru saja akan masuk kedalam ruangannya, ponselnya berdering. Ada panggilan telpon dari Om Ai, atasannya.


"Iya, Hallo."

__ADS_1


"Hanna, bisa keruangan saya sekarang." Imbuh Om Ai.


"Baik, Pak." Sahut Hanna, setelahnya kembali merubah haluan. Dari ruangannya ke arah ruang kerja Om Ai.


Sesampainya disana, raut wajah Hanna langsung berubah.


"Ayo silahkan duduk." Om Ai mempersilahkan Hanna untuk ikut bergabung dengannya dan juga Rey.


Rey, langsung menyeringai penuh arti ke arah Hanna.


"Ada apa ya, Pak." Tanya Hanna langsung, tak ingin rasanya berlama lama didalam sana dan duduk berhadapan dengan Rey.


"Kabar gembira?" Tanya Hanna, tapi perasaannya justru sedikit curiga dengan kabar gembira yang di katakan Om Ai.


"Rey berniat untuk mengontrak mu di perusahaannya, selama satu tahun."


"Apa!" Pekik Hanna kaget. Lalu terkekeh canggung. "Tap-"


"Kau tahu, dia bahkan rela membayar dengan nominal tinggi untuk gaji mu nanti." Om Ai terkekeh, pun begitu dengan Rey. Yang kembali tersenyum smirk lalu menyeruput kopinya.


Hanya Hanna, yang menegang disana. Tidak, ia tidak ingin lagi berurusan dengan pria itu. Rasanya sudah cukup, masa lalunya menjadi kelam saat bersama dengan pria yang kini sedang menatapnya penuh arti. Tapi bagaimana caranya Hanna menolak permintaan Om Ai ini.

__ADS_1


"Perusahaan kami saat ini sangat membutuhkan bantuan Nona Hanna sebagai Marketing Advisor yang kinerjanya sudah tidak perlu diragukan lagi." Rey ikut bersuara.


"Bagaimana mungkin, perusahaan sebesar Zillow Group memakai karyawan kontrak seperti saya?" Hanna membalas dengan dingin.


Rey kembali terkekeh. "Andai saja Om Ai mengizinkan, Zillow Group akan langsung menjadikan Nona Hanna sebagai karyawan tetap disana."


"Itu tidak akan, saya tidak akan melepaskannya." Sahut Om Ai dengan tawa khasnya.


"Om, tapi aku.." Kini, Hanna mulai berbicara bukan sebagai karyawan, tapi orang yang sudah di anggap sebagai anak oleh Om Ai.


"Apa yang kau ragukan? Lagi pula dengan begini mungkin Om bisa membalas jasa atas kebaikan Papanya Rey. Tanpa dia, Om tidak akan bisa seperti sekarang ini." Om Ai, sepertinya tidak bisa bisa menolak permintaan Rey ini. Dan sekarang, ia seakan sedang memohon pada Hanna agar ia mau mebantu.


Hanna menghela nafas dalam, ini benar benar berat. Ia tidak mungkin bisa bekerja lagi di Zillow Group. Hanna memainkan ibu jari dan telunjuknya, ia tampak gugup. Hanna sedang berfikir keras, bagaiamana caranya agar ia bisa menolak itu tampa menyinggung Om Ai.


"Hanna ini sudah Om anggap seperti Anak Om sendiri, Rey. Jadi tolong jaga dia dengan baik di perusahaanmu nanti." Imbuh Om Ai, yang langsung mengambil keputusan sendiri.


Hanna langsung melongo.


"Tentu saja, Om. Saya akan menjaganya dengan sangat baik." Ucap Rey, penuh arti.


Next >>>

__ADS_1


__ADS_2