
Setelah selesai bersiap, Rey menemui Hanna di ruang makan. Mengecup puncak kepala Hanna, lalu ikut duduk bersama Hanna untuk menikmati sarapan mereka.
"Ada apa?" Tanya Hanna kemudian, ketika mendapati Rey yang bukannya langsung menikmati sarapannya, namun justru terlihat sedikit gugup.
"Huh.." Rey yang tadinya sedang menunduk, mendongakkan wajahnya menatap Hanna. "Emm, sebenarnya Yayank memintaku untuk tidak memberitahukannya pada siapapun." Ujar Rey akhirnya.
Hanna mengernyitkan keningnya, lalu menghentikan sarapannya. Duduk menyimak, apa yang akan dikatakan Rey. "Tentang?" Tanya Hanna, penasaran.
"Yayank hamil." Imbuh Rey, dengan tatapan yang masih tertuju ke arah Hanna.
"Bukan anakmu, kan!" Selidik Hanna.
"Tentu saja, bukan!" Jawab Rey spontan dengan ekspresi tegangnya.
Hanna justru terkekeh, "Aku hanya bercanda." Ujar Hanna, "Lalu, mengapa dia merahasiakannya dan hanya memberitahumu?" Lanjut Hanna.
"Entahlah, aku juga tidak tau. Saat itu, Karena hubungannya dengan Rafa sudah berakhir, jadi dia berniat untuk menggugurkan kandungannya. Dan sebelum melakukannya, dia meminta pendapatku. Tentu saja, aku melarangnya menggugurkan kandungannya." Rey menjelaskan, lalu meraih tangan Hanna dan menggenggamnya. "Bukankah yang aku lakukan sudah benar?" Tanya Rey meminta pendapat Hanna.
"Tentu saja!" Jawab Hanna mendukung.
"Kita yang paling tau, seperti apa rasa sakitnya kehilangan anak." Imbuh Rey.
"Aku setuju!" Hanna mengangguk. Sedangkan otaknya terus saja berfikir, mengapa Yayank melakukan hal itu. Sedikit mencurigakan dan tampak aneh. Awalnya Hanna tak menaruh curiga apapun pada Yayank, namun setelah mendengar cerita Rey, Hanna bisa menyimpulkan, pasti ada sesuatu yang sedang direncanakan yayank.
"Aku memintanya untuk bekerja di perusahaan, agar bisa membuat Yayank dan Rafa kembali dekat. Dan alangkah baiknya, kalau Rafa bisa tau dengan kehamilan Yayank tampa kita beritahu." Ucap Rey, melanjutkan kalimatnya.
Namun kali ini, Hanna tak lagi memberi pendapat. Ia hanya menatap Rey datar.
"Kau marah?" Selidik Rey hati hati.
"Untuk apa?" Tanya Hanna datar.
"Karena aku baru memberitahu mu sekarang." Imbuh Rey, menyesal karena tak lebih dulu menceritakan semuanya pada Hanna.
"Menurutmu?" Hanna balik bertanya.
Rey menghela nafas, "Aku hanya tidak ingin membuatmu juga ikut kepikiran, memikirkan masalah Yayank dan Rafa. Aku hanya tidak ingin melibatkanmu dalam masalah ini." Rey menggenggam tangan Hanna lebih erat.
"Lantas, mengapa akhirnya memutuskan untuk menceritakannya padaku?" Pertanyaan itu terdengar sedikit jutek. Hanna tak marah, hanya kecewa karena Rey memilih untuk merahasiakan semua itu padanya.
"Aku tidak mau kau salah paham, dan marah padaku." Rey bersungguh sungguh.
*
Dikantor, Hanna memilih untuk menyibukkan dirinya. Tak ingin terganggu dengan masalah orang lain. Lagi pula, Hanna sudah mencoba untuk menyatukan kembali Raffael dan Yayank, tapi hasilnya nihil. Dan kali ini, Hanna tak ingin lagi terlibat.
__ADS_1
"Vany, apa berkasnya sudah di tanda tangani?" Tanya manager.
Vany menepuk jidatnya, "Ma-maaf pak, aku akan segera keruangan Pak Rey sekarang." Vany terbata. Pasalnya ia sedang begitu sibuk dengan pekerjaan lain, makanya lupa membawa berkas itu untuk di tanda tangani.
"Biar aku saja," Imbuh Hanna akhirnya, bangkit dari duduknya dan menyodorkan tangan ke arah Vany.
"Terimakasih.." Imbuh Vany yang dengan senang hati langsung menyerahkan dokumen itu pada Hanna.
"Jika sudah selesai, langsung bawa keruangan saya." Imbuh manager, setelah itu langsung kembali masuk keruangannya.
Hanna bergegas menuju ruangan Rey.
Saat akan masuk kedalam lift, langkah Hanna terhenti ketika melihat Raffael berada didalam lift.
"Kau tak akan masuk?" Tanya Raffael sambil menekan tombol buka, agar pintu lift tak tertutup.
Hanna, melempar senyuman canggungnya, lalu masuk dan berdiri agak jauh ke belakang Raffael.
Pintu lift perlahan tertutup.
"Sampai kapan kau akan menghindariku?" Tanya Raffael akhirnya, tanpa menoleh ke arah Hanna.
Hanna, tak menjawab. Ia tetap diam. Membuat Raffael menunduk lalu terkekeh pelan.
Pintu lift kembali terbuka. Dan kali ini, Yayank. Yang dibuat ragu ragu untuk masuk.
Yayank, silih berganti menatap keduanya.
"Naik lift berikutnya saja!" Ujar Raffael, lalu menekan tombol tutup.
Yayank langsung menahan pintu lift agar tak tertutup, lalu melangkah masuk kedalam sana. Berdiri tepat disamping Raffael.
Suana didalam sana menjadi hening.
Tak ada satu pun yang memulai percakapan, lift terus naik menuju lantai 13. Namun, tiba tiba lift tersentak dan berhenti.
"Apa yang terjadi." Imbuh Yayank tampak panik, lalu menekan tombol buka hingga berkali kali.
Raffael langsung meraih tangan Yayank, untuk menghentikannya . "Apa yang kau lakukan. Cukup tekan sekali saja." Sarkas Raffael.
Hanna yang masih tampak santai di belakang sana, langsung merogoh ponselnya dari saku celana. Lalu menghubungi Rey.
"Apa katamu!" Sontak saja Rey terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar dari Hanna.
"Tidak perlu panik, cepat beritahu teknisi." Imbuh Hanna. Lalu mematikan panggilan telponnya.
__ADS_1
Rey langsung bergegas menuju ruang teknisi, lalu memeriksa cctv yang berada di dalam lift tersebut. Rey kembali menghubungi Hanna.
"Teknisi akan segera memperbaikinya." Ujar Hanna, ia tahu Yayank begitu panik. Raut wajahnya begitu ketakutan dan ia juga menjadi gugup.
"Iya, Rey.." Jawab Hanna, kembali menerima panggilan telpon dari Rey.
"Kau baik baik saja?" Tanya Rey, justru Rey lebih panik dari pada Hanna yang kini sedang terjebak di dalam lift.
Sedangkan Raffael, hanya berdiri sambil bersandar dan memainkan ponselnya. Menunggu pintu lift itu terbuka.
"Emp, aku baik baik saja." Jawab Hanna, lalu menoleh ke arah cctv. Ia yakin, Rey pasti senang memantau lewat sana sekarang.
"Teknisi sedang memperbaikinya, tunggu sebentar." Lanjut Rey.
"Emp ." Jawab Hanna singkat.
Namun, bukannya terbuka, tapi lampu lift justru mati.
Yayank tampak semakin panik, ia bahkan sampai menjerit karena ketakutan.
Membuat Hanna dan Raffael kaget, termasuk Rey yang masih tersabung melalui panggilan telpon dengan Hanna.
"Hanna, apa yang terjadi?" Jantung Rey rasanya copot, ketika tiba tiba lampu lift mati, dan ada suara jeritan.
"Tidak ada.." Jawab Hanna, sambil mengelus jantungnya yang juga rasanya hampir copot.
Namun, sesaat kemudian.
"Raf! Hidupkan senter ponselmu!" Perintah Hanna.
Keadaan menjadi tegang, ketika tiba tiba saja Yayank menjadi sesak nafas. Sepertinya ia fobia ruang gelap dan sempit.
Hanna langsung menahan tubuh Yayank yang perlahan terkulai ke lantai lift. Kini, Hanna baru panik.
Pun begitu dengan Raffael, ia juga menjadi panik akhirnya.
"Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Raffael bingung.
Hanna tak lagi memperdulikan pertanyaan pertanyaan Rey di ponselnya, ia sudah meletakkan ponselnya di lantai lift. Dan fokusnya kini tertuju pada Yayank.
"Aku juga tidak tahu!" Imbuh Hanna, lalu membuka dua kancing bagian atas kemeja Yayank. Dan mengipas-ngipasinya, dan berharap itu bisa membantu.
"Yayank, bertahanlah. Kita akan segera keluar dari sini." Lirih Hanna.
Next >>>
__ADS_1