My Boss, Is My Husband

My Boss, Is My Husband
Mengulur Waktu


__ADS_3

Makan malam selesai dihidangkan, tapi tampaknya pembahasan itu belum selesai di bahas. Masih ada beberapa hal yang membuat Rey penasaran. Tapi sayangnya, Hanna tak ingin lagi membahasnya. Ia ingin tutup buka tentang masa yang sudah berlalu itu.


Rey, ikut menikmati makan malam yang disajikan Hanna. Dengan pikiran yang terus saja berfikir keras dan jauh kembali ke tiga tahun lalu.


*


Saat ini, Bram dan kekasihnya sedang bertengkar hebat. Setelah apa yang dilakukan oleh kekasihnya.


Kekasih Bram, tak ingin terus saja menunggu. Ia merasa, sebagai wanita ia butuh kepastian dalam hubungannya dengan Bram. Hingga, entah keberanian dari mana. Ia datang menemui Shasya secara pribadi, dan menceritakan semuanya.


Membuat Shasya benar benar terkejut dan tak menyangka, jika selama ini. Suami yang begitu ia cintai mengkhianatinya dengan gadis yang bahkan masih labil.


Bagaimana tidak, gadis itu datang menemui Shasya dan meminta izin pada Shasya agar bersedia berbagi suami dengannya. Sepertinya, ia sudah begitu di butakan dengan cintanya pada Bram.


Dan setelah berfikir panjang dan menimbang. Akhirnya Shasya memutuskan untuk bercerai dengan Bram. Ia tak sudi, berbagi suami dengan wanita lain.


Tidak hanya itu, Shasya juga minta Papanya, Om Ai. Untuk memecat Bram dan juga kekasihnya dari perusahaan, juga menarik semua fasilitas yang sudah ia berikan.

__ADS_1


Kini, Bram kehilangan segalanya dalam sekejap.


Lalu bagaimana mungkin kini ia hanya berdiam diri. Ketika Shasya memilih untuk keluar negri, dan ia tak dapat menyusulnya. Yang kini bisa ia lakukan adalah, membuat perhitungan dengan kekasihnya itu.


*


"Mama, why doesn't Papa come with us?" (Mama, mengapa Papa tidak ikut dengan kita?) Tanya Lucy, ketika mereka sudah berada didalam pesawat.


"Papa is busy dear, he has a lot of work to do." (Papa sibuk sayang, banyak pekerjaan yang harus ia kerjakan.) Mata Shasya berkaca kaca ketika harus berbohong pada Lucy.


Gadis kecil itu kembali terdiam, lalu merebahkan kepalanya di atas dada Shasya.


"Semuanya akan baik baik saja. Lucy akan dengan cepat melupakannya." Imbuh Tante Enny, mencoba memberi semangat pada Shasya.


Tapi itu justru membuat air mata Shasya menetes. Ia tak pernah menyangka rumah tangganya akan berakhir seperti ini. Lalu, ia harus menjelaskannya pada Lucy seperti apa, ketika nanti Lucy bertanya tentang kemana Papanya.


Sebenarnya Shasya benar benar tidak siap menghadapi semua ini. Tapi mau tidak mau, ia harus mengambil keputusan yang terbaik. Untuk dirinya, dan juga Lucy. Ia tak ingin, Lucy memiliki ayah yang seorang pemain wanita.

__ADS_1


Shasya, memeluk Lucy semakin erat. hati dan perasaannya benar benar sakit dan hancur. Ketika harus memisahkan Lucy dan Papanya secara paksa seperti ini.


Entahlah, semoga ini juga yang terbaik untuk Lucy. Semoga ia tak menyalahkan Shasya dengan keputusan yang telah ia ambil saat ini.


Semoga saja ...


*


"Bram! Kau benar benar jahat!" Pekik gadis itu, lengkap dengan air matanya.


"Kau pikir kita masih bisa bersama, setelah apa yang telah kau lakukan?" Balas Bram, murka.


"Lalu, menurut mu.. Aku harus berdiam diri saja, ketika kau tak pernah punya keberanian untuk mengungkapkannya?"


"Jadi kau puas dengan apa yang terjadi sekarang? Aku kehilangan pekerjaan dan semua yang aku miliki. Anak dan juga istriku! Bukankah sudah aku katakan, bersabar sebentar lagi. aku akan membujuk Shasya agar bisa menerimanya secara perlahan."


Gadis itu menyeringai. "Bajingan kau Bram. Itu semua hanya alasanmu. Kau tidak akan pernah jujur pada istrimu, kau akan terus mengulur waktu. Sedangkan kau terus saja menyetubuhi aku!"

__ADS_1


Next >>>


__ADS_2