
Rey, langsung menuju ke meja dimana kedua orangtuanya sudah berada.
"Apa mereka belum sampai?" Tanya Rey saat ikut bergabung bersama mereka.
"Mungkin sebentar lagi." Jawab Tante Lalita.
"Bagaiaman perkembangan disana?" Tanya Om Surya.
Rey baru saja akan menjawab pertanyaan Papanya, tapi Tante Lalita langsung menyelanya. "Jangan bahas pekerjaan disini." Imbuh Tante Lalita, yang akhirnya mendapatkan kekehan dari kedua pria itu.
"Baiklah .. baiklah.." Ujar Om Surya yang memilih menuruti istrinya.
"Ingat Rey, kau tidak boleh menolak perjodohan ini." Pungkas Tante Lalita, kembali mengingatkan Rey.
"Mengapa tidak? Aku akan meminta maaf secara langsung pada mereka."
"Jadi? Itu mengapa kau mau menghadiri makan malam ini sekarang?"
"Tentu saja."
"Rey! Jangan buat Mama malu. Mama sudah terlanjur berjanji dan mereka juga sudah berharap."
"Seharusnya Mama tanya dulu pendapat ku."
"Dan jawabanmu, tetap tidak mau!" Pungkas Tante Lalita mulai emosi.
__ADS_1
"Rey.. kami sudah tua. Kami juga ingin melihat kau menikah dan punya anak. Sebelum Tuhan mencabut nyawa Mama."
"Ma..."
"Sudah.. Sudah.. Tamunya sudah datang." Imbuh Om Surya. Kali ini ia tak terlalu memaksa, semuanya di serahkan pada Rey. Apapun keputusannya, ia akan dukung.
Hanya saja, Tante Lalita yang sangat ngotot. Agar Rey cepat cepat menikah.
Keluarga Lara tiba, dan bergabung bersama mereka. Tante Lalita menyambutnya dengan hangat.
Sedangkan Rey, akhirnya hanya bisa diam sepanjang makan malam. Padahal maksud ia datang adalah untuk membatalkan perjodohan itu. Tapi ucapan Tante Lalita terakhir membuatnya mengurungkan niatnya.
"Bagaimana kalau sebelum menikah, mereka bertunangan saja dulu. Untuk mereka saling mengenal." Usul Papa Lara.
Lara.. Bukan berasal dari keluarga kaya. Ayahnya hanya seorang pegawai negeri sipil yang sudah pensiun. Tapi, Tante Lalita sangat menghargai ibu nya Lara. Karna dulu, sewaktu kecil mereka bertetangga dan sangat dekat.
Tapi seiring berjalannya waktu dan beranjak dewasa. Mereka berpisah karena sudah memiliki kehidupan masing-masing. Hingga waktu kembali mempertemukan mereka. Dan tiba tiba saja, perjodohan itu pun terlintas di benaknya Tante Lalita.
"Jadi kapan sebaiknya kita adakan pertunangan mereka?" Tanya Mamanya Lara.
"Bulan depan!" Jawab Tante Lalita semangat dan sumbringah.
Sedangkan Lara, hanya tersenyu senyum dengan wajah yang tersipu.
Pun dengan Om Surya, yang hanya terdiam sambil tersenyum dan sesekali menoleh ke arah Rey yang hanya menunduk.
__ADS_1
*
Rey kembali ke apartemen. Ia benar benar hilang semangatnya. Dengan lesu menghempaskan tubuhnya ke atas sofa setelah meletakkan es krim di atas meja.
Hanna yang menyadari Rey sudah pulang pun, akhirnya keluar dari kamar.
"Bukankah katamu hanya sebentar?" Hanna menghampiri Rey.
"Maaf..." Lirih Rey sambil memejamkan matanya dengan lengan yang di letakkan di atas keningnya. "Apa Lucy sudah tidur?" Lanjut Rey.
"Tentu saja.." Hanna bangkit dari duduknya, mengambil es krim yang tergeletak di atas meja lalu membawanya ke dapur untuk memasukkannya kedalam kulkas agar tidak mencair.
Sebuah pelukan melingkar di pinggangnya. "Ada apa dengamu?" Tanya Hanna yang terkekeh lalu menutup kembali pintu kulkas.
Setelahnya berbalik, Rey kembali memeluk Hanna ia ia sudah berbalik menghadap Rey.
"Apa yang harus aku lakukan?" Lirih Rey, dengan suara nyaris tak terdengar.
"Apa yang terjadi?" Tanya Hanna kemudian.
"Aku sangat mencintai, dan aku tidak ingin kehilanganmu."
"Kau menggombal lagi." Decak Hanna, yang masih berdiri tampa membalas pelukan itu. Ia hanya mebiarkan Rey memeluknya dan membenamkan wajahnya di pundak Hanna.
Next >>>
__ADS_1