My Boss, Is My Husband

My Boss, Is My Husband
Menjodoh jodohkan


__ADS_3

Acara makan malam itu pun berlangsung. Walau tanpa kehadiran Bram.


Semuanya, tampak begitu menikmati kehangatan yang tercipta. Canda dan tawa begitu natural.


"Hanna, kau dan Rey tampak sangat cocok." Imbuh Tante Enny kemudian. Membuat Hanna langsung tersedak saat mendengar kalimat itu. Sedangkan Rey justru terkekeh.


"Benarkah Tan?" Rey kembali memastikan ucapan Tante Enny.


"Iya, sungguh." Ucap Tante Enny sambil menganggukkan kepalanya. "Rey, apa kau sudah punya pasangan?" Tanya Tante Enny akhirnya.


"Belum Tante." Jawab Rey semangat.


"Dasar penipu ulung!" Gumam Hanna. "Lalu siapa yang kau panggil, yank. Tempo hari?" Batin Hanna.


"Wah, pas sekali. Hanna juga masih lajang sekarang." Tante Enny tampak semangat dan antusias dengan pembahasan kali ini.


"Tante ..." Rengek Hanna.


"Ma, biarkan Hanna mencari pasangannya sendiri." Om Ai ikut membela Hanna.


"Iya, Ma. Mama kan tahu, Hanna paling tidak suka dijodoh jodohkan." Shasya ikut menanggapi.

__ADS_1


"Maaf Rey, Tante Enny memang selalu saja menjodoh jodohkan Hanna dengan siapa saja yang dianggapnya cocok dengan Hanna." Lanjut Om Ai.


"Tidak apa apa Om." Rey terkekeh pelan. "Tapi cukup ini terakhir Tante menjodoh jodohkan Hanna ya Tan, cukup aku yang terakhir." Tegas Rey, dan mengundang gelak tawa dari Om Ai, Tante Enny dan juga Shasya.


"Apaan sih..." Hanna mencubit pelan pinggang Rey.


"Au..." Pekik Rey kesakitan.


"No, Mommy. You can't." Protes Lucy, saat Hanna mencubit Rey. Lengkap dengan jari kecilnya yang digoyang goyangkan ke udara ditambah ekspresi seriusnya.


"Okay .. okay .. I'm Sorry uncle." Ucap Hanna akhirnya, lalu kembali mengelus pingang Rey yang tadi di cubitnya.


Rey langsung mengacungkan jempol ke arah Lucy, karena sudah membelanya. Pun begitu dengan Lucy, ikut balas mengacungkan jempolnya ke arah Rey lalu tersenyum.


"Can't honey, uncle can't stay here." (Tidak bisa sayang, paman tidak bisa nginap disini.)


"Why Mommy?"


Hanna menghela nafas, rasanya sulit sekali menjelaskan pada gadis kecil itu.


"Next time, next time uncle promise to stay overnight." (Lain kali ya, lain kali paman janji akan menginap.) Imbuh Rey akhirnya.

__ADS_1


"You promise?" (Kau berjanji?) Lucy langsung kegirangan. Senyumnya merekah.


"Jangan berjanji pada anak kecil jika kau tidak bisa menepatinya." Bisik Hanna pada Rey.


"Siapa juga yang tidak akan menempatinya, tentu saja akau akan menempati janjiku." Balas Rey.


"All right, then I'll wait." (Baiklah, kalau begitu aku akan menunggu.) Lucy, tampak benar benar berharap Rey akan menempati janjinya. Setelahnya, baru ia mau melepaskan kepergian Hanna dan Rey.


Hanna dan Rey pun berpamitan pada yang lainnya setelah itu.


*


"Ternyata menyenangkan jika memiliki anak." Imbuh Rey tiba tiba saat keduanya sedang dalam perjalanan pulang.


Hanna langsung menoleh ke arah Rey, yang tampak sedang fokus melihat ke arah jalan, wajahanya tersenyum tapi justru tampak sedih.


Mata Hanna langsung berkaca kaca. Ia merasa sangat menyesal dan bersalah. Ia akan selalu sedih setiap kali membahas tentang anaknya. Andai saja waktu itu ...! Hanna kembali teringat momen 2 tahun lalu. "Ah sudahlah, semuanya sudah berlalu." Batin Hanna kembali tercabik cabik rasanya.


"Maafkan aku." Imbuhnya, lalu menunduk.


Rey hanya menghela nafas dalam.

__ADS_1


Next >>>


__ADS_2