My Boss, Is My Husband

My Boss, Is My Husband
Tak Dapat Melindungi Diri Sendiri


__ADS_3

Kedua tatapan itu seakan sama sama saling menghipnotis. Mereka sama sama tak dapat mengalihkan pandangan itu.


Rey, menelan salivanya kasar. Saat tatapannya tertuju ke arah bibir ranum Hanna.


Ini memang bukan untuk pertama kalinya ia menatap wajah Hanna dengan jarak sedekat itu.


Tapi bedanya, saat itu Hanna sedang mabuk. Dan tak merespon tatapan Rey. Sedangkan saat ini, mata Hanna seakan begitu teduh dan menatap netra Rey dalam.


Rey perlahan mendekatkan wajahnya, lalu ******* lembut bibir Hanna. Sambil membenarkan posisi berdiri mereka, tangannya pun melingkar di pinggang ramping Hanna.


Pun begitu dengan tangan Hanna yang tampak ragu-ragu membalas pelukan itu.


Des*han lembut mulai terdengar dari keduanya. Dengan nafas yang mulai terengah-engah, seiring dengan gejolak yang semakin memuncak.


Rey menggendong tubuh Hanna. Menyenderkannya ke dinding.


"Boleh aku melakukannya?" Desah Rey tepat ditelinga Hanna.


Hanna menjawab itu dengan mengeratkan pelukannya.


Mulai saat ini, tubuhnya milik Rey seutuhnya.


Rey perlahan memasukkannya, dengan tatapan lekat memandang wajah Hanna.


Sedangkan Hanna, hanya bisa memejamkan matanya sambil menikmati sensasi dari penekanan di bawah sana. Perlahan tapi pasti, sesuatu yang keras tapi lembut itu membelah v***** Hanna.


"Ah.." Des*h Hanna lolos dari mulutnya yang kembali terkatup sambil membusungkan dadanya.


Rey kembali melum*at bibir Hanna. Untuk mengalihkan kenikmatan itu.


Rey perlahan mempercepat ritme permainannya. Dengan posisi yang berbeda.


Kali ini, Hanna baru benar-benar menikmati permainan Rey. Benar-benar terbuai dengan gairah yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.


*


"Kenapa mereka belum turun juga? Apa mereka sama-sama kesiangan hari ini!" Ujar Tante Lalita sambil melirik ke arah jam dinding yang tergantung di ruangan itu.


Ia sudah menunggu anak dan menantunya di ruang makan sendiri tadi. Tapi keduanya masih juga belum nampak batang hidungnya.


Sedangkan Om Surya. Masih berada di Paris untuk menghandle beberapa pekerjaan lainnya, yang ia rasa perlu ia lakukan.


Setelah menunggu cukup lama, akhirnya yang ditunggu pun datang.


"Tumben sekali kau kesiangan Rey." Ucap Tante Lalita menyambut kedatangan Rey dan Hanna.


"Mm- Semalam aku gak bisa tidur, Ma." Jawab Rey agak blepotan.


Sedangkan Hanna, hanya terkekeh mendapati Rey yang tampak gugup menjawab pertanyaan dari Tante Lalita.


Padahal jika seandainya pertanyaan itu di ajukan padanya. Ia pasti akan gugup juga menjawabnya.

__ADS_1


"Papa kapan pulang, Ma." Rey mengalihkan pembicaraan.


"Hemm.." Rey mengangguk-anggukkan kepalanya. Padahal dia sudah tahu Papanya akan kembali dari paris, lusa.


"Hanna, kenapa hanya makan sedikit saja?" Tanya Tante Lalita, yang menyadari Hanna hampir tak menyentuh makanan dihadapannya sama sekali.


"Lagi gak selera, Ma." Jawab Hanna.


Sedangkan Rey langsung menoleh, saat mendengar kata 'Ma'.


"Kau tidak lupa minum obat yang diberikan dokter, kan." Tante Lalita memastikan.


Rey hanya menyimak percakapan di antara keduanya.


"Kemarin aku lupa meminumnya, Ma. Tapi hari ini aku usahakan untuk tidak lupa." Sahut Hanna, mencoba meyakinkan Tante Lalita.


"Biar Rey yang ingatkan nanti, Ma." Tiba-tiba Rey ikut menyahut. "Kau bawa obatnya?" Tanya Rey pada Hanna.


Hanna langsung memeriksa isi tasnya.


"Kau pasti melupakannya." Rey bangkit dari duduknya. "Biar aku ambilkan." Lanjut Rey.


"Dilaci nakas sebelah kiri." Hanna memberitahukan Rey, dimana ia meletakkan obat itu.


"Empp.." Jawab Rey yang sudah berlalu pergi.


Tante Lalita yang memperhatikan sedari tadi tak dapat menyembunyikan senyumannya. "Mama bersyukur akhirnya kalian bisa mulai dekat." Ujar Tante Lalita akhirnya.


Hanna pun ikut tersenyum.


Hanna berharap, ini awal yang baik untuk hubungannya dan Rey.


*


"Kemana saja semalam dengan Rafa?" Rey mulai mengintrogasi. Setelah semalam tak sempat melakukannya.


Dengan tatapan yang fokus mengarah kejalan. Ia seakan sedang menutupi sesuatu di balik wajah seriusnya itu.


"Nothing! Hanya makan malam." Jawab Hanna santai.


"Hanya makan malam? Tapi bisa selarut itu?" Rey terkekeh pelan. Sambil mengalihkan wajahnya ke arah yang berlawanan dari Hanna.


"Obrolannya terlalu panjang." Sahut Hanna lagi.


"Obrolan apa yang kalian bicarakan memangnya, hingga bisa sepanjang itu?"


"Tentang pekerjaan!" Jawab Hanna, sambil mengernyitkan keningnya. Sepertinya pertanyaan Rey semakin menjurus.


"Apa tidak bisa di bicarakan diperusahaan?" Tanya Rey lagi.


"Apa kau cemburu?" Tanya Hanna akhirnya. Dengan tatapan dan ekspresinya yang sedang menahan senyum.

__ADS_1


"Apa! Aku? Cemburu?" Rey kembali terkekeh. "Apa kau bercanda? Untuk apa aku cemburu pada kalian!"


Hanna ikut terkekeh akhirnya.


"Ya, aku bercanda! Mana mungkin kau cemburu." Gumam Hanna pelan.


"Apa katamu?" Rey meminta Hanna mengulang kalimatnya sekali lagi. Karena tidak sempat mendengarnya dengan jelas tadi.


"Fokus mengemudi saja." Imbuh Hanna akhirnya. Mencoba mengalihkan pembicaraan itu.


Rey menoleh sesaat ke arah Hanna. Setelahnya kembali mengemudi dengan fokus.


*


Sesampainya di kantor, keduanya sama-sama langsung di sibukkan dengan pekerjaan masing-masing.


Rey, kembali sibuk mempersiapkan berkas untuk di bawa ke Paris. Sedangkan Hanna, sibuk mencari dalang dalam laporan keuangan palsu itu.


'Rey, aku ada urusan di luar sebentar.' Isi pesan yang di kirimkan Hanna pada Rey.


Setelah memastikan Hanna benar benar tak berada di balik meja kerjanya. Rey langsung merubah pesan itu ke mode panggilan.


Tapi, tak ada jawaban.


Ia lalu mengalihkan panggilan itu ke nomor kontak Raffael.


"Raf, kau dimana?" Rey memastikan. Ia curiga Hanna keluar dengan Raffael lagi.


"Diruanganku! Apa kau butuh sesuatu?" Tanya Raffael sedikit khawatir.


"Tidak! Tidak! Hanya ingin memastikan!" Ucap Rey cepat.


"Memastikan? Memastikan apa memangnya?" Raffael justru di buat penasaran.


"Tidak ada! Sana lanjutkan pekerjaan mu." Perintah Rey. Setelahnya langsung mematikan panggilan itu.


"Kemana perginya kau Hanna!" Geram Rey sambil memandang layar ponselnya, yang sedang menunjukkan pesan singkat dari Hanna itu.


Tiba-tiba saja Rey berubah ke mode posesif nya.


Khawatir berlebihan terhadap Hanna.


Pandangannya di alihkan ke arah bingkai foto kecil yang tergeletak di atas meja kerjanya.


Entah sejak kapan, ia meletakkan lembaran UGS yang sudah disimpan Hanna itu kedalam bingkai kecil itu.


"Huffttt ... Mama mu benar benar begitu sulit di atur." Ujar Rey seakan mengajak ngobrol foto perdana bayinya itu. Padahal Tante Lalita sudah memperingatkan Hanna untuk mengajak Rey setiap kali ia akan keluar. Tapi sepertinya Hanna mengabaikan itu semua.


Rey kembali meletakkan ponselnya. Lalu memilih kembali fokus dengan pekerjaannya. Walaupun pikirannya tertuju ke Hanna.


Setelah kejadian di paris itu. Rey takut Hanna juga akan menerima perlakuan serupa dari orang lain diluaran sana.

__ADS_1


Apa lagi gadis itu tampak seperti tak bisa melindungi dirinya sendiri.


Next >>>


__ADS_2