
"Rencana Tuhan pasti lebih indah. Percayalah, anak kita pasti sudah berada di tempat yang paling indah sekarang. Tak perlu sesali apa yang sudah terjadi. Segala sesuatunya, pasti sudah ada dalam rencananya." Rey mencoba menenangkan Hanna. Dan sepertinya itu berhasil, perlahan tangisnya mereda.
Ya, Tuhan pasti selalu merencanakan yang terbaik. Dan sebaik baik perancang adalah Ia.
Hanna mendongakkan wajahnya, menatap Rey yang kini juga menatapnya. "Terimakasih, Rey." Lirih Hanna.
Tapi, air matanya masih saja mengalir dari sudut matanya. Walaupun ia sudah tak lagi terisak.
Rey menyeka lembut air mata Hanna. Lalu kembali memeluknya erat. "Dasar cengek." Imbuhnya lengkap dengan kecupan di puncak kepala Hanna.
*
"Kau mau kemana?" Tanya Rey, ketika melihat Hanna sudah berpakaian rapi dengan setelan casualnya.
"Kerja.." Jawab Hanna, lalu kembali memeriksa penampilannya di balik cermin meja riasnya.
"Bukankah kau masih cuti beberapa hari lagi?" Ujar Rey, lalu memilih salah satu dasi yang tersusun rapi ditempatnya.
"Aku bosan dirumah." Hanna berjalan mendekati Rey, meraih dasi dari tangannya. Lalu membantunya memakai dasi.
Rey, hanya menatap Hanna dengan senyuman tipis menghiasi wajahnya.
"Ada apa?" Tanya Hanna kemudian, saat menyadari Rey terus saja menatapnya.
__ADS_1
"Kau cantik sekali, aku takut kau di ambil orang." Imbuh Rey kemudian.
"Dasar penjilat!" Hanna terkekeh. Ia sudah selesai memasang dasi Rey. Lalu berbalik untuk meraih tas nya yang sudah di letakkan di atas tempat tidur. "Ayo.." Imbuh Hanna sambil merangkul lengan Rey. Dan keluar dari kamar bersama.
Saat berjalan, tatapan Hanna terus saja mengarah ke sebuah kamar yang pintunya tak pernah lagi di buka olehnya.
"Kau ingin memeriksanya?" Ucap Rey yang menyadari Hanna terus saja menatap kamar itu, tapi tak pernah mau masuk kedalam sana.
Hana menoleh ke arah Rey, lalu tersenyum tipis setelahnya menggeleng.
Hanna memilih terus berjalan melewati kamar itu.
*
Rey, menggenggam tangan Hanna, ketika menyadari ia terus saja melamun sepanjang perjalanan menuju ke kantor.
Hanna menarik nafas dalam, lalu menoleh ke arah Rey. "Entahlah, tiba tiba saja perasaan ku jadi tidak enak." Imbuh Hanna.
Rey menarik tangan Hanna yang sedang berada di dalam genggamannya, lalu mengecup punggung tangan Hanna lembut.
"Ingat, aku tidak menyalahkan mu atas apa yang telah terjadi. Jadi, jangan pikirkan hal yang tidak perlu, emp!"
Hanna mengangguk, lalu balas mengecup punggung tangan Rey.
__ADS_1
"Emp.. Kau yang terbaik." Diiringi dengan senyuman.
*
Berjalan beriringan masuk kedalam perusahaan sambil bergandengan tangan. Keduanya jelas jadi pusat perhatian semua karyawan.
Wajah bahagia keduanya dan aura pengantin baru tampak begitu jelas, buat iri siapapun yang melihatnya.
"Ehemm..."
Rey dan Hanna yang sedang menunggu pintu lift terbuka, menoleh ke arah seseorang yang berdehem.
"Rafa..." Imbuh Hanna, lengkap dengan ekspresi sumbringahnya.
"Jangan terlalu mesra dikantor. Kalian hanya buat sakit mata dan hati para jomblo." Imbuh Raffael, lalu berdiri di tengah tengah antara Hanna dan Rey. Sengaja memberi jarak antara mereka berdua.
Rey terkekeh lalu menunduk.
"Kenapa kau disini?" Tanya Hanna antusias.
"Perjalanan dinas." Jawab Raffael, dengan senyuman lebarnya.
Hanna mengernyitkan keningnya. "Kenapa aku tidak tahu."
__ADS_1
"Bukankah kau cuti beberapa hari ini." Sahut Rey, lalu melangkah masuk kedalam lift. Pun begitu dengan Hanna dan Raffael yang ikut masuk mengikuti Rey. Rey, langsung menarik Hanna yang akan berdiri di tengah tengah antara dirinya dan Raffael, kesampingnya. Dan berakhir dengan dirinya yang kini menjadi di tengah tengah antara Hanna dan Raffael.
Next >>>