My Boss, Is My Husband

My Boss, Is My Husband
Ego Yang Terlalu Tinggi


__ADS_3

Setelah apa yang dilakukannya, Hanna mendapatkan apresiasi besar dari perusahaan. Semua memuji kinerja Hanna dalam menyelesaikan masalah itu.


"Kau ingin hadiah apa dari perusahaan?" Tanya Om Surya. Setelah rapat berakhir.


"Tidak usah, Om. Aku-"


"Saya sangat tersinggung, kau memanggil Mamanya Rey dengan sebutan Mama. Sedangkan memanggil saya dengan sebutan, Om?" Sela Om Surya. Setelah itu mereka berdua sama sama terkekeh.


"Baiklah, Pa." Imbuh Hanna setelahnya.


"Nah.. Seperti itu kan adil." Ujar Om Surya, yang akhirnya justru membuat Hanna menunduk dan tersenyum.


"Jadi, kau benar tidak ingin hadiah apapun?" Om Surya kembali memastikan. Barang kali saja Hanna berubah pikiran.


"Nggak, Pa. Aku melakukan itu semua bukan demi imbalan apapun. Aku hanya ingin memabantu Rey. Hanya itu." Dengan raut wajah seriusnya.


Mendengar itu, Om Surya hanya manggut manggut.


Tok!Tok!


Om Surya langsung menoleh.

__ADS_1


"Bagaimana, Raf. Semuanya sudah beres kau urus?" Tanya Om Surya pada Raffael. Yang tadinya ikut ke kantor polisi dan memberikan semua bukti kesalahan yang dilakukan oleh salah seorang petinggi di perusahaan itu.


"Sudah, Om. Semuanya sudah beres." Jawab Raffael, sambil ikut duduk bersama Om Surya dan juga Hanna disana.


"Baiklah, kalau begitu selama Rey tidak ada di kantor. Kau yang harus menghandle semua pekerjaan."


"Siap, Om. Aku rasa, selama ada Hanna. Semua pekerjaan akan bisa di handle dengan baik." Ujar Raffael menggoda Hanna.


"Kau ini.." Om Surya terkekeh. "Baiklah kalau begitu Om harus pergi sekarang." Ucap Om Surya sambil melirik ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


Hanna dan Raffael ikut bangun dari tempat duduk mereka, beriringan dengan Om Surya. Lalu melangkah bersama untuk mengantar Om Surya keluar dari perurusahaan.


"Walaupun Rey tidak berada dirumah, seharusnya kau tetap pulang. Tante Lalita khawatir jika kau tinggal sendirian dirumahmu." Bisik Om Surya, tanpa sepengetahuan Raffael.


*


Setelah kepergian Om Surya. Hanna menghela nafas lega. Ini hari yang panjang. Perdebatan di ruang rapat dan kegaduhan yang terjadi saat polisi datang tadi sangat menguras tenaga dan emosi. Apa lagi saat harus menghadapi wartawan-wartawan dengan pertanyaan pertanyaan mereka.


Hanna heran, dari mana wartawan wartawan itu bisa memiliki informasi yang begitu cepat. Hingga setelah penangkapan itu terjadi perubahan Zillow Group langsung dipenuhi oleh wartawan.


Melihat Hanna menghela nafas sangat dalam, membuat Raffael terkekeh.

__ADS_1


"Ada apa?" Tanyanya, sambil mengimbangi langkah Hanna yang sudah beranjak dari pintu masuk perusahaan.


"Ini benar-benar melelahkan." Imbuh Hanna lengkap dengan ekspresi lesunya.


"Tapi semua orang memuji kinerja mu kali ini." Sambil mengacungkan jempolnya.


Hanna hanya membalasnya dengan senyuman.


*


Sedangkan ditempat yang berbeda, Rey sama sekali tidak bisa fokus dengan pekerjaannya. Ditambah lagi pemotretan yang tidak bisa berjalan dengan mulus. Karena Myesa, terus saja melakukan kesalahan saat pemotretan.


"Sudah pilih yang ini saja." Imbuh Rey, sedikit menekankan. Karena semua hasil fotonya sangat sangat tidak sesuai dengan ekspektasi nya. Ia akhirnya hanya bisa memilih asal dari foto yang ada.


Untuk kesekian kalinya, ia kembali memeriksa ponselnya. Barang kali saja ada pesan atau panggilan masuk dari Hanna.


"Ch.." Geram Rey, saat tak mendapati itu.


Dengan cepat dia mencari kontak Hanna, dan tinggal menekan hubungi. Cukup lama, hanya ia pandangi saja layar ponsel itu.


Dan akhirnya, ia memilih untuk mengurungkan niatnya. Rey tidak jadi menghubungi Hanna, karna ego nya terlalu tinggi. Ia hanya akan menunggu Hanna yang akan menghubunginya.

__ADS_1


Next >>>


__ADS_2