My Boss, Is My Husband

My Boss, Is My Husband
Dia Istriku


__ADS_3

Rey menatap tajam ke arah tangan Hanna yang merangkul lengan Raffael. Berjalan di hadapannya sambil berbisik dan sesekali Hanna tertawa pelan.


"Ch!" Rey menoleh ke samping, sambil melonggarkan dasi kupu-kupunya. Ia semakin gerah melihat ke akraban Hanna dan Raffael.


Mereka duduk di meja yang sama. Hanna tampak biasa saja, ia bisa mengontrol perasaannya dengan sangat baik. Bahkan bisa tersenyum ke arah Rey ketika tatapan mereka saling beradu.


Dan hal yang bertolak belakang ditunjukkan oleh Rey. Ia tampak tak bisa mengontrol emosinya, wajah cemberut dan jealousnya terlihat sangat jelas. Pun begitu dengan Myesa, yang tak suka dengan kehadiran Hanna disana.


"Aku permisi sebentar." Bisik Hanna pada Raffael. Ketika ponselnya berdering.


Hanna beranjak dari meja itu, setelah mendapatkan anggukan dari Raffael. Berjalan keluar, menjauh dari kebisingan.


"Iya, hallo Ma." Jawab Hanna, menerima panggilan itu.


"Kenapa masih belum pulang?" Tante Lalita terdengar tampak gelisah. Seharusnya Hanna sudah pulang dari kantor 4 jam yang lalu.


"Emm.. Maaf, Ma." Hanna tampak gelagapan, tak terfikirkan oleh Hanna sebelumnya untuk memberitahukan kepergian dadakannya itu pada Mertuanyanya agar ia tak gelisah.


Tiba-tiba saja Rey menghampiri Hanna, dan langsung mengambil alih ponsel Hanna.


"Hanna sedang bersama Rey sekarang, Ma." Ujar Rey.


"Apa! Hanna di Paris sekarang?" Sontak saja Tante Lalita shock.


"Emp! Mama tak perlu khawatir." Lanjut Rey, yang kini sedang berdiri tepat di hadapan Hanna. Sambil menatap tajam netra Hanna.


Panggilan itu berakhir. Rey kembali menyodorkan ponsel itu pada Hanna.


"Jadi kau bahkan tak memberitahukan kepergianmu ini pada Mama?" Tanya Rey dengan suara sedikit meninggi.

__ADS_1


"Aku belum sempat memberitahukannya." Jawab Hanna tanpa menatap Rey. Kini, wajahnya tampak kesal. Ya, sebenarnya ia sangat kesal pada Rey.


"Apa kau sangat suka buat Mama ku khawatir?" Bentak Rey.


Hanna langsung menoleh, membalas tatapan Rey.


"Apa katamu? Lalu, kau sendiri? Apa menurutmu kau tak membuat Mama mu khawatir?"


"Aku? Memangnya apa yang aku lakukan? Sampai buat Mama khawatir! Aku kerja disini, jadi untuk apa Mama khawatir."


"Ch! Kerja?" Hanna menekankan kata itu. Dengan sudut bibirnya sedikit terangkat.


"Tentu saja!" Rey juga ikut menekankan.


"Bukannya kau sibuk mengurus kekasihmu disini!" Kalimat itu lolos dari bibir Hanna begitu saja.


Rey mengernyitkan keningnya. Lalu terkekeh.


"Apa katamu?" Raffael terkejut mendengar kalimat yang diucapkan Rey. Ia awalnya berencana menyusul Hanna, karena sudah terlalu lama meninggalkan Aula Pesta. Tapi yang ia dapati di luar ruangan itu sungguh di luar dugaannya. Dari jauh, Raffael melihat Hanna dan Rey yang tampak seperti sedang bertengkar. Lalu ia memutuskan untuk menghampiri. Namun, akhirnya...


Hanna dan Rey menatap Raffael dengan wajah yang sudah pucat pasi.


"Siapa yang akan menjelaskannya padaku?" Dengan tatapan silih berganti antara Hanna dan Rey.


"Aku saja.." Myesa muncul di tengah-tengah mereka. Berdiri disamping Rey, menggengam tangannya lalu tersenyum penuh arti ke arah Hanna.


Raffael, menatap Myesa dengan sedikit bingung. Karna gadis itu tampak biasa saja, tak terkejut sama sekali dengan apa yang terjadi antara Hanna dan Rey.


"Dihari pernikahan kami, aku tak hadir karena mengalami kecelakaan. Dan Hanna yang menggantikanku saat itu." Myesa mulai menjeleskan kronologinya pada Raffael.

__ADS_1


Mendengar itu, Raffael justru terkekeh. Seakan sulit mempercayai cerita yang agak seperti dogeng itu.


"Aku sangat berterimakasih pada Hanna, karena sudah bersedia menggantikanku di hari itu." Myesa kembali menoleh ke arah Hanna. Dengan ekspresi yang membuat Hanna sangat muak melihatnya.


Sedangkan Rey, hanya menunduk sambil memijat tengkuknya.


"Jadi pengantin wanita yang aku temui di hari pernikahan itu, adalah kau?" Tanya Raffael pada Hanna, yang kini menatap Raffael dengan penuh rasa bersalah.


"Kau tenang saja, pernikahan itu hanya sandiwara." Lanjut Myesa dengan cepat.


"Lalu, bisakah kau jelaskan tentang kehamilan itu?" Tanya Raffael penuh penekanan, dan kembali menoleh ke arah Myesa.


"Itu hanya kecelakaan. Mereka melakukannya disaat sedang berada dibawah pengaruh alkohol." Myesa mencoba meyakinkan Raffael, bahwa kehamilan itu tak akan berpengaruh apa apa pada hubungan Hanna dan Rey.


Rey sudah sangat geram mendengar semua ocehan Myesa.


"Bisa kau hentikan sekarang?" Ucap Rey, berniat membungkam mulut Myesa yang terus saja mengoceh.


"Raf, aku akan jelaskan semuanya." Hanna meraih pergelangan Raffael, dan berniat mengajak Raffael menjauh dari tempat itu. Menjauh dari Myesa dan Rey!


Namun, dengan cepat pula Rey menghentikan langkah Hanna. Ia meraih pergelangan Hanna yang akan beranjak dari sana.


"Tetap disini!" Perintahnya.


Hanna menghela nafas dalam. "Urus saja calon istrimu itu!" Sambil mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Rey. Tapi genggaman itu terlalu kuat. Rey sama sekali tidak berniat untuk melepaskan genggaman itu, walau sekuat apapun Hanna mencoba melepaskannya.


"Rey, kau menyakitiku." Keluh Hanna, kesakitan karena Rey semakin mengeratkan genggamannya.


"Rey, lepaskan tangan Hanna." Sarkas Raffael akhirnya.

__ADS_1


Rey langsung menatap Raffael, dengan senyuman smirk nya. "Dia istriku, hak ku ingin melakukan apa padanya!" Setelahnya, Rey langsung menarik Hanna dengan paksa. Menjauh dari sana, dan membawa Hanna ke mobil. Rey bahkan tak memperdulikan Myesa yang terus saja memanggil namanya.


Next >>>


__ADS_2