My Boss, Is My Husband

My Boss, Is My Husband
Rahasia Yang Terungkap


__ADS_3

"Ada apa?" Rey menghampiri Hanna yang sedang melamun.


"Tidak ada.." Hanna membenarkan posisi duduknya sambil tersenyum ke arah Rey yang kini sedang duduk disampingnya.


"Sungguh?" Rey memastikan, tampaknya ia tak dapat begitu saja mempercayai ucapan Hanna. Bukan hanya hari ini, Hanna tampak selalu melamun sudah beberapa hari belakangan ini.


"Tentu saja." Hanna masih mencoba menutupi, ia kembali tersenyum, namun raut wajahnya justru menyiratkan sesuatu.


"Hemm ..." Rey, membalas senyuman Hanna sambil mengacak puncak kepala Hanna lalu mengecup kening Hanna.


"Kau lapar? Ingin aku buatkan sesuatu?" Rey beranjak dari duduknya.


"Tidak, aku sedang tidak lapar." Jawab Hanna, lalu menyibukkan dirinya dengan ponsel.


Jawaban itu membuat Rey kembali menoleh, "Baiklah.." Ucap Rey, pada Hanna yang tak menoleh padanya.


*


Grrrttt .....


Getar ponsel itu memaksa Rey untuk bangun dari tidur lelapnya. Ia meraba raba ponselnya di atas nakas. "Hallo.." Ucapnya dengan suara beratnya.

__ADS_1


"Emp, saya kesana sekarang." Jawab Rey lagi setelah mendengar apa yang dikatakan oleh si penelepon.


"Ada apa?" Tanya Hanna, yang juga ikut terbangun.


"Rafa, mabuk di bar. Aku akan pergi untuk menjemputnya." Imbuh Rey seraya bangkit dari tempat tidur. "Kau lanjut tidur saja." Lanjut Rey, lalu beranjak dari kamarnya setelah mengganti pakaiannya.


Rey langsung bergegas menuju bar, sesuai dengan yang di katakan pelayan bar melalui ponsel Raffael tadi.


Sesampainya disana, ia langsung mencari keberadaan Raffael.


Rey menepuk pelan pundak Raffael yang sedang merebahkan kepalanya di atas meja bar antara sadar dan tidak. Lalu ikut duduk disamping Raffael setelah ikut memesan segelas bir.


"Kau butuh teman untuk mabuk?" Tanya Rey setelah meneguk bir itu sampai habis. "Satu gelas lagi," Lanjutnya pada bartender.


Raffael perlahan membuka matanya, melihat sosok yang sangat ia kenal dengan baik.


"Kau disini?" Dengan linglung, Raffael mendongakkan wajahnya dan mencoba untuk duduk tegak. Dengan kekehannya yang justru terlihat miris.


"Aku punya hadiah.." Imbuh Raffael, lalu meraih tas kerjanya yang diletakkan di kursi sampingnya. Ia mengeluarkan sebuah amplop coklat, "Isi amplop ini membuat aku sangat lega." Imbuh Raffael, lalu kembali terkekeh.


Rey meraih amplop itu dan melihat isinya, yang ternyata surat cerai.

__ADS_1


"Kau benar-benar bercerai dengan Yayank!" Rey kembali memasukkan surat cerai itu ke dalam amplop.


Raffael mengangguk dengan cepat. Lalu memosisikan duduknya ke arah Rey.


"Kau tahu, apa yang aku rasakan didalam sini?" Raffael menepuk nepuk dadanya dengan keras. "Rasa sesak dan sakit!"


"Kenapa?" Tanya Rey, lalu kembali meraih gelas birnya.


"Karena harus merelakan orang yang aku cintai, menikah denganmu."


Kalimat itu jelas saja membuat Rey tersedak.


"Apa katamu!" Rey langsung mencengkram bahu Raffael dengan kuat.


Raffael, benar benar tidak sadar kalimat itu keluar dari mulutnya. Wajah Rey langsung memerah, mengetahui kenyataan. Ternyata justru Hanna wanita yang selama ini di cintai oleh Raffael.


"Mengapa Tuhan begitu tidak adil. Tetap membuatnya menjadi milikmu, padahal kau sudah begitu menyakitinya dan menyia nyiakannya. Sedangkan aku, yang mati matian mengejarnya dan berusaha membahagiakannya justru hanya mendapatkan sakit hati!" Raffael kembali terkekeh pelan, matanya berkaca kaca.


Tatapannya sangat menyedihkan.


Dan jangan tanya seberapa terkejutnya Rey, ia bahkan sampai tak bisa berkata-kata lagi. Ia hanya bisa menatap Raffael dengan hati yang berdegup kencang.

__ADS_1


Next ✔️


__ADS_2