
Rey mempersilahkan Hanna untuk berjalan di depannya, ia tidak ingin Hanna hilang dari pandangannya walau sekejap pun. Rey memperlakukan Hanna seperti tahanannya. Jika ia bisa, ia bahkan ingin memborgol tangan Hanna dengan tangannya, agar Hanna tidak lagi melarikan diri darinya.
Saat naik ke atas podium pun pandangannya terus saja tertuju ke arah Hanna. Bahkan saat Hanna bergerak sedikit saja ia sudah panik. Takut Hanna meninggalkan Aula tersebut dan ia tidak sempat mengejarnya.
Tapi, walaupun begitu. Akhirnya, ia kembali kehilangan Hanna dari pandangannya. Saat ia turun dari podium dan seseorang mengajaknya untuk mengobrol. Saat ia kembali menoleh ke arah tempat duduk Hanna, Hanna tak lagi berada disana. Hanya tinggal Om Ai yang juga sedang sibuk mengobrol dengan beberapa orang disana.
Rey, dengan cepat langsung menghampiri Om Ai. "Om, Hanna.." Tanyanya ragu ragu.
"Oh, Hanna sudah kembali ke perusahaan. Dia ada meeting sebentar lagi." Ucap Om Ai, sambil melirik ke arah jam tangannya.
Rey mengangguk paham.
*
Hanna kembali ke perusahaan, degup jantungnya benar benar tak biasa. Perasaannya campur aduk. Ada bahagia dan sakit sekaligus. Bercampur menjadi satu.
Benar, ia sangat merindukan Rey selama ini. Nuraninya tak dapat berbohong. Tapi, ia juga sangat membencinya setiap kali membayangkan Rey begitu tega padanya saat itu.
Hanna, mengutuk takdir yang akhirnya kembali mempertemukan mereka. Membuat hatinya kembali sakit dan hancur. Mata itu, tatapan itu, sikap itu. Sudah dengan sangat susah payah Hanna coba lupakan. Tapi, mengapa setelah yang Hanna lakukan, setelah ia berhasil kembali menata hidupnya. Sosok Rey kembali dalam hidupnya! Sebenarnya, apa yang sedang di rencanakan Tuhan untuknya?
Hanna, menyibak rambut lembutnya yang panjang dengan kasar. Terkekeh seorang diri, menertawakan dirinya yang tampak sedang di permainkan takdir.
*
__ADS_1
Rey seakan tak ingin membuang waktu, ia sudah mencari Hanna selama ini. Dan ia tidak ingin menyia nyiakan kesempatan kali ini. Setelah acara grand opening itu selesai. Rey langsung mencari Hanna diperusahaan Om Ai.
"Silahkan tunggu dulu, Pak. Bu Hanna sedang meeting sekarang." Imbuh salah seorang karyawan yang baru saja mengantar Rey kedalam ruangan Hanna.
"Baik.." Sahut Rey, sambil menunjukkan senyuman terbaiknya.
Sedangkan didalam ruang meeting, Hanna tampak begitu serius mengikuti meetingnya. Ia memang tak pernah membiarkan perasaannya mengganggu kinerjanya.
Ia selalu memisahkan antara urusan pribadi dan pekerjaan.
Setelah selesai dengan meetingnya, Hanna kembali ke ruang kerjanya.
"Bu, ada tamu di ruangan Anda." Imbuh salah seorang karyawan saat Hanna melewati meja resepsionis.
Hanna masuk kedalam ruangannya. "Maaf..." Kalimatnya langsung menggantung ketika ia melihat ternyata tamu itu adalah Rey. "Untuk apa kau kesini?" Tanya Hanna, dengan nada yang langsung berubah.
"Bukankah sudah aku katakan, ada banyak sekali hal yang harus kita bicarakan." Imbuh Rey, yang kini tampak santai. Duduk di sofa yang berada di ruangan itu sambil menikmati tehnya.
Hanna menghela nafas kasar, lalu ikut duduk di sofa tersebut. Dengan jarak yang agak jauh dari Rey.
"Rey..! Aku mohon, tolong pergi dari sini sekarang juga. Aku sudah mengikuti kemauan mu saat itu. Dan aku harap, kau juga bisa mengikuti kemauanku saat ini." Imbuh Hanna. Raut wajahnya tampak serius, ia tidak ingin ada yang tahu seperti apa masa lalunya. Atau orang orang akan menggosipinya. Saat ini, Hanna adalah orang yang sangat menjaga itu. Ia tidak ingin ada gosip sekecil apapun tentang dirinya. Ia sangat menjaga image nya sekarang ini. Ia tidak ingin wibawanya jatuh karena sebuah gosip buruk tentang masa lalunya yang sudah ditanam dalam dalam selama dua tahun ini.
Rey justru terkekeh melihat keseriusan di wajah Hanna. "Apa kau takut, jika ada yang tahu kalau kau-"
__ADS_1
"Rey hentikan itu!" Sela Hanna cepat untuk membungkap Rey. "Kita sudah tak ada hubungan apapun lagi sekarang." Lanjut Hanna.
"Bagaimana mungkin, hubungan di antara kita tidak bisa putus begitu saja. Ada anak-"
"Dia sudah meninggal." Pungkas Hanna akhirnya. Tanpa menatap mata Rey. Hanna tampak sedang menyembunyikan rasa sedihnya, matanya mulai berkaca kaca. Ya, Hanna akan selalu menangis jika setiap kali mebahas tentang anaknya.
Rey yang masih menganga dengan kalimat menggantungnya, seakan tak percaya dengan apa yang baru saja di ucapkan Hanna.
"You kidding me!" Dengan kekehan pelan, dan mata yang mulai ikut berkaca kaca.
"Apa menurutmu aku akan berbohong tentang itu?" Hanna, kini baru berani menatap netra Rey.
Rey kembali terkekeh, ia benar benar tak percaya jika itu nyata. Bagaimana mungkin, ia bisa kehilangan anaknya untuk selamanya tampa sempat melihatnya.
Rey bangkit dari duduknya, lalu mendekati Hanna dan duduk disampingnya. Sambil meremas kedua lengan Hanna dan tatapan penuh amarahnya. "Apa yang kau lakukan pada Anakku!" Pekiknya, tampak emosi.
"Rey! jaga sikapmu disini!" Balas Hanna, sambil menahan rasa sakit karena cengkraman Rey. Juga, ia tidak ingin ada yang mendengar suara ribut mereka.
"Apa kau pikir aku perduli. Katakan sekarang juga, apa yang kau lakukan pada Anakku!" Pekik Rey dengan mata memerah, dan amarah yang semakin memuncak.
Hanna tersenyum sinis. "Apa kau pikir aku dengan sengaja menghilangkan nyawanya?" Tanya Hanna memastikan maksud dari ucapan Rey.
"Lantas?"
__ADS_1
Next>>>