My Lovely Sister

My Lovely Sister
Bab 100


__ADS_3

"Kamu tenang saja, aku sudah maafin kamu kok, lagian ini semua bukan kesalahanmu," kata Vira tersenyum membalas genggaman tangan Sisil.


Ya sudah, bagaimana kalau kita pesan makanan dulu," ucap Vira dan Sisil pun mengangguk.


Vira memanggil pelayan dan memesan makanan untuk mereka berempat.


"Kok mereka lama ya," kata Vira terus menengok ke arah tadi adiknya pergi.


"Mereka tidak benar-benar ke toilet berdua kan?"


"Tidak mungkin la Ra, kan ini juga tempat umum," ujar Sisil menenangkan.


"Apa aku susulin saja ya."


"Kita tunggu bentar lagi aja ya, jika sampai lima menit lebih adik kamu belum kembali juga, aku temani kamu susulin mereka ya," kata Sisil dan Vira mengangguk setuju.


"Kita harus susulin mereka sekarang Sil, ini sudah lima menit lebih," kata Vira yang kemudian bangkit dari duduknya.


Sisil ikut bangun, dan saat mereka akan melangkah, keduanya melihat Vian dan Cinta berjalan ke arah mereka.


"Kamu apain Cinta?" Teriak Vira begitu melihat penampilan Cinta saat ini, hingga sampai pengunjung restoran menatap ke arahnya.


"Apaan sih Kak teriak-teriak," ujar Vian yang kemudian duduk di tempatnya semula.


"Vian kamu belum jawab pertanyaan Kakak, Cinta apa yang Vian lakuin sama kamu?" Tanya Vira beralih pada gadis yang sekarang memakai jaket Vian.


Cinta menatap Vira bingung, lebih tepatnya bingung karena pertanyaan Vira.


"Aku tidak melakukan apapun Kak, jadi sekarang Kak Vira lebih baik duduk, lihat semua orang sudah menatap ke arah kita," jawab Vian yang kemudian menarik tangan Cinta agar duduk di sampingnya.


Vira melihat ke sekeliling dan benar saja hampir semua pengunjung melihat ke arah mereka.


Vira tersenyum dan membungkukkan sedikit badannya, meminta maaf karena sudah membuat kegaduhan, setelah itu Vira duduk dan menikmati makanan yang sudah tersaji diatas mejanya.


**


"Aku pulang dulu ya," kata Sisil dan mereka pun berpisah di depan restoran.


Vira, Vian dan Cinta masuk ke dalam mobil, Vian langsung melajukan mobilnya.


"Kalian benar tidak ngapa-ngapain?" Tanya Vira yang sudah dari tadi menahan pertanyaan itu.


"Kak, Kakak nanya apa sih? Memang apa yang Kakak pikirkan?" Tanya Vian tidak habis pikir dengan pertanyaan kakaknya.


"Kakak hanya takut…"

__ADS_1


"Kak Vira tidak mempercayaiku? Tidak terjadi apa-apa antara aku dan Cinta tadi."


"Tapi kenapa…" Vira menggantung ucapannya  dan menatap Cinta.


"Tadi baju Cinta kesiram minuman, dan basah, makanya aku berikan jaketku," jelas Vian yang mengerti maksud apa yang akan kakaknya katakan.


"Oh, Kakak pikir…"


"Jangan berpikir yang aneh-aneh deh," kesal Vian karena bisa-bisanya Vira berpikiran buruk padanya.


"Maaf, kakak tidak bermaksud seperti itu," ucap Vira menyesal karena secara tidak langsung menuduh adiknya yang tidak-tidak.


Vian hanya diam mendengar perminta maafan kakaknya.


"Cinta, maafin kakak ya," kini giliran Vira meminta maaf pada Cinta.


Cinta tersenyum, "Ya aku maafin Kakak," jawabnya.


"Tuh Vi, Cinta aja maafin Kakak masa kamu gak mau maafin kakak kamu sendiri."


"Iya," jawab Vian singkat.


"Iya apa? Yang benar kalau maafin yang ikhlas," ujar Vira.


Vian menghela nafasnya, "Iya aku maafin Kakak, jadi sekarang biarkan aku fokus mengemudi oke," kata pria itu.


Dan kini hanya ada keheningan di dalam mobil yang membawa mereka.


"Kita mau kemana lagi?" Tanya Vira yang menyadari bahwa ini bukan jalan yang menuju ke arah rumahnya.


"Kak Alno memintaku untuk mengantarkan Kakak ke kantornya," jawab Vian menatap kakaknya lewat kaca yang ada di depannya.


"Tapi kok Kak Alno tidak bilang apa-apa ke Kakak?" 


"Sudah, Kakak cek aja coba ponselnya," perintah Vian dan Vira hanya menuruti apa yang diucapkan adiknya.


"Ponsel Kakak kehabisan daya," kata Vira begitu melihat keadaan ponselnya.


"Ya itu jawabannya," tak lama setelah mengatakan itu, mobil yang Vian kendarai, akhirnya sampai di depan gedung yang tinggi menjulang.


"Tuh Kak Alno!" Tunjuk Vian pada seseorang yang mendekat ke arah mobilnya.


Alno kemudian membuka pintu mobil saat kunci sudah terbuka.


"Kak," ucap Vira yang melihat suaminya membuka pintu untuknya.

__ADS_1


"Ayo turun!" Alno kemudian membantu istrinya untuk turun dari mobil.


"Ya sudah Kak, aku pulang dulu," pamit Vian kepada kedua kakaknya.


Alno mengangguk, dan Vira melambaikan tangan kepada keduanya.


"Maaf Kak, ponsel aku kehabisan daya," ucap Vira mengadu.


"Hmm tidak apa-apa, ayo masuk! Kita bicarakan saja di dalam," kata Alno yang kemudian menggenggam tangan istrinya untuk masuk.


Mereka berdua masuk ke dalam lift khusus hingga ke ruangan Alno.


"Siang Tuan, Nyonya," sapa sekretaris Alno yang langsung berdiri menyapa bos dan istrinya.


Vira tersenyum dan mengangguk membalas sapaan pria itu.


"Jangan tersenyum seperti itu sayang, aku tidak suka, apalagi itu untuk pria lain," protes Alno.


"Tapi aku harus bersikap ramah kepada mereka kan, jadi tidak salah jika aku membalas sapaan mereka dengan senyuman," kata Vira yang sudah hafal keposesifan suaminya itu.


"Sudah, Ayo masuk daripada aku harus terus melihat kamu kelamaan senyum sama pria lain" ujar Alno sambil membuka pintu ruangannya agar sang istri bisa masuk.


"Kamu duduk sini dulu," kata Alno meminta istrinya untuk duduk di sofa di ruangannya.


Alno kemudian menyusul setelah mengambil laptopnya. Vira hanya diam memperhatikan apa yang suaminya lakukan. Alno duduk di samping istrinya, melihat itu, Vira langsung melingkarkan kedua tangannya di perut Alno dengan wajah yang menempel di dada bidang suaminya.


"Bagaimana tadi pertemuanmu dengan Sisil?" Tanya Alno memulai pembicaraan, membiarkan istrinya mencari kenyamanan.


"Hmm berjalan baik, Sisil tadi minta maaf juga sama aku," Vira kemudian menceritakan semuanya tentang apa yang terjadi tadi, baik pertemuannya dengan Sisil juga tentang adik mereka dan Cinta, Alno hanya mendengarkan dengan seksama apa yang istrinya ceritakan.


"Jadi Kak bagaimana? Apa kisah Vier dan Ken akan terulang lagi pada Vian dan Zio?" Vira melonggarkan pelukannya, mendongak menatap suaminya.


"Tapi kamu yakin, jika Vian menyukai Cinta?" 


"Entahlah, aku tidak tahu, kamu tahu sendiri, Vian seperti apa, dia selama ini paling tidak suka didekati sama perempuan, tapi bersama Cinta?"


Alno terdiam memikirkan ucapan istrinya, menghela nafas panjang kemudian berkata, "Mereka sudah sama-sama dewasa sayang, mereka pasti akan memikirkan apa yang akan terjadi kedepannya pada apa yang sudah mereka putuskan."


"Tapi Kak…"


"Ssst! Sudah ya, kita bicarakan tentang kita saja, mereka tahu apa yang terbaik untuk diri mereka sendiri, jika menurut kita baik belum tentu itu baik buat mereka, dan begitupun sebaliknya, jadi kamu cukup percaya saja ya sama mereka," kata Alno menunduk kemudian mengecup puncak kepala istrinya.


"Iya Kak, aku percaya kok sama mereka."


"Kamu jangan terlalu memikirkan hal-hal seperti itu yang belum tentu terjadi hanya karena sebuah amsumsimu saja sayang, aku tidak mau kamu jadi banyak pikiran dan berpengaruh pada kesehatan kamu dan anak kita."

__ADS_1


"Baiklah suamiku sayang," kata Vira memeluk suaminya erat dan Alno pun membalas pelukan istrinya tak kalah erat.


__ADS_2