
Tok
Tok
Suara pintu terdengar diketuk dari luar.
Ceklek
Tak lama seorang wanita cantik keluar, dengan wajahnya yang tampak segar, dengan handuk kecil di kepalanya.
"Maaf Rae, aku tadi sedang mandi, makanya lam," ucap Kimmy yang membuka pintu itu lebar-lebar membiarkan Alno masuk ke dalam kamarnya.
Alno pun masuk dan duduk di sofa yang berada di kamar tamu yang sekarang menjadi kamar Kimmy.
"Ada apa Rae?" Tanya Kimmy melihat wajah Alno yang tampak kusut.
Alno menghela nafas panjang, "Maafkan aku, kamu pasti terkejut karena aku tadi tiba-tiba seperti itu, perasaanku benar-benar kacau melihat Vira seperti itu, awas saja jika aku menemukan ba**jingan itu, aku tidak akan sungkan lagi untuk menghabisinya," geram Alno mengepalkan tangannya erat.
Kimmy menghampiri Alno dan duduk di samping pria itu, "Tidak apa-apa Rae, aku mengerti, aku tahu bagaimana perasaan kamu, apalagi aku juga tahu kalau kamu sangat mencintai Vira," Kimmy kini duduk menghadap Alno dan menatap tepat di manik mata pria itu.
"Tapi Rae, bolehkah aku bertanya? Kenapa kamu mengotot sekali ingin menikahi Vira? Rae sungguh itu bukan keputusan yang terbaik, hal itu bukan tanggung jawabmu sama sekali, maaf bukannya aku ada maksud apa-apa, tapi coba pikirkan Rae bagaimana dengan perasaan Vira? Bisa jadi dia akan meragukan perasaan cintamu, dia pasti akan menganggapmu hanya kasihan padanya, dan Vira akan lebih tersiksa, dia pasti akan tertekan nantinya, jadi sebelum kamu benar-benar mengambil keputusan itu, coba kamu pikirkan baik-baik. Kamu juga tidak perlu menuruti perkataan Bibi Jasmine, aku rasa Bibi Jasmine itu egois, dia menjadikan kamu sebagai pelindung putrinya, mungkin saja dia takut jika Vira jadi bahan cemoohan orang lain, makanya Bibi Jasmine meminta kamu untuk menikahi Vira agar nama baiknya tetap terjaga, karena jika nanti terjadi apa-apa dengan putrinya, sudah ada kamu yang menjadi suaminya, dan hanya kamu yang mengemban tanggung jawab itu sendiri. Aku tahu kamu dibesarkan di keluarga ini, mereka menyayangimu, tapi lihatlah saat terjadi masalah dengan putrinya mereka seolah ingin kamu membalas budi dengan menikahi putrinya yang bahkan sudah bekas orang lain, eh maaf atas kata-kataku yang kurang sopan, maksudku itu hanya perumpamaanku saja."
Alno mengepalkan tangannya semakin erat.
"Breng**k!" Ucap Alno mengeluarkan semua amarahnya.
Kimmy terkejut akan respon Alno, tapi dirinya dengan segera bisa menetralkan keterkejutannya.
"Ini bukan masalah balas budi atau bukan, bagaimana jika nanti hal yang terjadikan kemarin membuahkan hasil? Bagaimana jika Vira sampai hamil?" Alno mengacak rambutnya frustasi, hanya memikirkannya saja, membuat dirinya benar-benar stres.
__ADS_1
"Jadi, belum ada yang tahu? Baguslah jika seperti itu, dan tunggu saja, sampai hal itu benar-benar menjadi kenyataan," gumam Kimmy tersenyum dalam hatinya.
"Kamu dengar tidak? Kenapa malah melamun?" Tanya Alno yang mendapati orang yang disampingnya justru terdiam menatap lurus dengan pandangan kosong.
"Iya Rae, aku dengar kok, aku hanya sedang berpikir saja, hmm Rae, bagaimana jika kita coba cari pelakunya lebih dulu, kita mulai dari melihat cctv di hotel itu," ucap Kimmy memberikan Alno saran.
"Tapi aku ada urusan hari ini, aku harus menjemput Zeline. Karena Mama dan Papa akan mengantarkan Vira," ucap Alno menundukkan kepalanya dan menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
"Mengantar Vira? Oh ya bagaimana keadaan Vira setelah kejadian itu?" Tanya Kimmy dengan raut wajah yang terlihat khawatir.
Alno menggeleng, "Entahlah, tidak bisa dikatakan baik juga," jawab Alno lemas dengan posisi yang masih sama.
"Semoga Vira baik-baik saja dan tidak trauma ya atas kejadian itu, oh ya jika kamu memang butuh bantuanku, aku akan membantu sebisanya. Jadi apa ada yang bisa aku bantu?" Kimmy menatap pria di depannya iba.
"Jadi kamu bisa membantuku?" Alno mengangkat kepalanya menatap Kimmy.
"Iya, aku akan membantumu, jadi apa yang bisa aku bantu," ucap Kimmy serius.
Kimmy mengangguk, "Kamu tenang saja aku pasti akan berusaha mendapatkannya," jawabnya meraih tangan Alno dan menggenggamnya.
"Terima kasih, maaf jadi merepotkanmu," ucap Alno merasa tidak enak.
"Kamu kayak sama siapa saja, kamu tidak perlu merasa tidak enak begitu, aku memang ingin membantumu," kata Kimmy terdengar tulus.
"Terima kasih sekali lagi, oh ya nanti kita pergi sama-sama saja, kamu tidak apa-apakan nanti aku turunkan di hotel?" Tanya Alno.yang sudah berdiri hendak keluar dari kamar Kimmy.
"Iya tidak apa-apa, santai saja, ya sudah aku juga mau bersiap dulu," ucap Kimmy yang juga ikut berdiri.
Sebelum benar-benar keluar, Alno menatap ke sekeliling kamar Kimmy dan berjalan memperhatikan seluruh isi kamar.
__ADS_1
"Kenapa?" Tanya Kimmy tidak nyaman saat Alno menyusuri isi kamarnya.
"Tidak apa-apa, apa kamu nyaman tinggal disini?" Tanya Alno menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Kimmy yang berdiri di belakangnya.
"Nyaman kok, tenang saja, aku bersyukur karena keluargamu mau menampungku," kata Kimmy dengan wajah yang menunduk.
"Kenapa berbicara seperti itu? Jangan pernah berbicara seperti itu lagi ya," Alno memegang kedua bahu Kimmy.
"Maaf, aku hanya teringat dengan masa lalu, dimana tidak ada seorangpun yang mau menampungku," Kimmy mengangkat kepala dan berusaha untuk menatap ke dalam manik mata Alno.
"Semua sudah berlalu, tidak ada gunanya juga menyesalinya, ibarat kata nasi sudah menjadi bubur. Hmm ya sudah kamu bersiap saja dulu!"
Kimmy mengangguk, Alno yang hendak melangkah keluar, pandangannya tidak sengaja melihat ponsel Kimmy di atas meja nakas, hingga Alno pun berjalan ke meja tersebut.
"Ponsel kamu kenapa?" Tanya Alno yang sudah memegang ponsel Kimmy dan memperhatikannya.
"Ah itu tadi tidak sengaja terjatuh," Kimmy mengambil ponsel yang ada di tangan Alno dan kembali meletakkannya di atas meja.
"Tidak apa-apa kok masih bisa dipakai, layar saja yang memang retak, tapi masih berfungsi dengan baik," Kimmy tersenyum menandakan bahwa memang dirinya baik-baik saja.
"Ya sudah nanti kita sekalian beli, aku juga mau bersiap lebih dulu," kali ini Alno benar-benar keluar pergi meninggalkan kamar Kimmy.
Kimmy menghembuskan nafas panjang, setelah melihat Alno pergi.
*
*
Sementara di tempat lain, tempat yang sudah sangat tua, bahkan banyak sekali sarang laba-laba di berbagai tempat. Dan di tempat ini, Sisil kini tengah berlari berusaha untuk segera keluar dari tempat mengerikan itu, bersama seorang gadis yang tadi menyelamatkannya.
__ADS_1
"Selamatkan kami Tuhan," sepanjang jalan Sisil merapalkan dia seperti itu, berharap mereka berdua akan keluar dengan selamat.
"Apa masih lama?" Ucap Sisil merasa putus asa, karena sejak tadi mereka berdua belum juga menemukan jalan keluarnya. Dan Sisil dibuat ketakutan saat tiba-tiba di belakangnya ada suara menggelegar yang meminta dirinya dan penyelamatnya berhenti.