
"Apa maksud Kak Alno?" Tanya Sisil yang belum mengerti perkataan Alno bahkan laki-laki itu terlihat sangat marah padanya.
"Kak!" Alma mencoba menenangkan bosnya yang sudah seperti Kakaknya sendiri.
Alno menatap Alma tajam, dia masih marah pada gadis itu.
"Bagaimanapun Sisil tidak tahu itu, apa Kakak lupa, Sisil juga baru saja kembali ke negara ini? Kak Alno tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Sisil," ujar Alma yang sepertinya tidak terintimidasi pada tatapan Alno yang tajam bahkan gadis itu masih terlihat tenang berhadapan dengan Alno yang penuh dengan amarah.
Sekali lagi ucapan Alma benar, rasanya Alno tidak bisa berpikir dengan benar jika ini menyangkut orang yang disayanginya.
Alno menghela nafas untuk kesekian kali, "Kafe itu tidak ada lagi ada sudah sejak beberapa bulan yang lalu, kabarnya bangkrut dan ditutup," katanya dengan nada suara yang sudah merendah.
"Kak maaf, aku benar-benar tidak tahu," kata Sisil merasa bersalah.
"Robby!" Teriak Alno memanggil salah satu orang yang tadi berjaga di depan ruangan tempat Sisil ditahan.
"Iya Tuan," orang itu berlari cepat ke arah Alno.
"Cari seseorang untukku! Semua tentangnya harus kau beritahukan kepadaku! Perintah Alno pada orang kepercayaannya yang lain selain Alma.
"Lihat saja aku akan membuat hidupnya hancur karena sudah berani-beraninya mengusik orang yang aku cintai," gumam alno, mengepalkan kedua tangannya sangat erat menahan amarahnya.
"Baik Tuan," setelah mendapat perintah itu, orang yang bernama Robby pun segera pamit melaksanakan perintah.
"Kak," Sisil terus menatap Alno, baru kali ini Sisil melihat sisi lain Alno, bahkan Sisil takut melihat Alno yang seperti itu, karena biasanya walaupun Alno adalah seseorang yang jarang berbicara dan terkesan cuek dan dingin, tapi sekali bicara Alno tetap dengan suaranya yang lembut.
"Kak maafkan aku, aku benar-benar minta maaf," Sisil benar-benar merasa bersalah, walaupun bukan sepenuhnya kesalahannya. Akan tetapi bagaimanapun, Sisil adalah orang yang terakhir pergi bersama Vira. Dan semua yang terjadi benar-benar di luar dugaannya. Tapi tetap saja Sisil harus meminta maaf kepada Alno dan juga Vira sahabatnya.
"Alma sekarang jelaskan, apa yang terjadi?" Alno sama sekali tidak menanggapi ucapan Sisil, dia hanya meliriknya sekilas, setelah itu menatap Alma, meminta penjelasan gadis yang sudah satu tahun ini bekerja dengannya.
__ADS_1
"Aku tahu keberadaan mereka saat di hotel," jawab Alma.
Flashback
"Halo Kak," ucap Alma begitu menjawab panggilan dari Alno.
"Kamu awasi dia!" Ucap Alno dari seberang telepon dan langsung memutuskan panggilan sepihak.
"Kebiasaan," Alma mendengus kesal begitu dengan tiba-tiba panggilan terputus.
Alma pun mengikuti kemana Vira membawa mobilnya, "Sebuah kafe?" Gumam Alma di dalam mobilnya yang melihat Vira turun dari mobil dan masuk ke dalam kafe itu.
Alma melihat sekeliling, dirinya tampak merasa ada yang janggal. Akhirnya Alma pun ikut turun dan mengikuti Vira masuk.
Alma sedikit duduk lebih jauh dari tempat duduk Vira, agar Vira tidak melihatnya.
Alma melihat Vira dan temannya yang sudah ada di sana lebih dulu berpelukan, dan berbicara apa, Alma tidak terlalu jelas mendengarnya.
Alma mendapat telepon dari Robby, begitu dijawab, hanya tertulis menghubungkan di layar ponselnya, Alma keluar untuk mencari sinyal, begitu diluar yang cukup jauh dari kafe, panggilan baru bisa terhubung. Di dalam teleponnya, Robby memberitahu Alma bahwa dia ada di tempat yang salah, tempat itu sudah bangkrut dan cukup lama ditutup."
Robby tahu itu setelah melacak keberadaan Alma yang memang masih dalam pengawasannya. Alma satu-satunya gadis yang bekerja bersamanya, selain itu Alma yang paling muda diantara mereka semua, hingga Robby masih terus memantaunya, untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.
"Kak Rob serius?" Tanya Alma memastikan informasi yang diberikan Robby.
"Makasih Kak infonya," kata Alma yang langsung mematikan panggilan dan kembali masuk ke dalam, tapi saat di dalam Alma tidak melihat keberadaan Vira maupun Sisil.
"Kemana mereka?" Alma bertanya entah pada siapa.
Alma mencari-cari sekitar kafe itu, tetapi semua kosong, bahkan orang-orang yang berpakain sebagai pekerja kafe pun sudah tidak ada.
__ADS_1
"Alma kenapa kamu begitu ceroboh," gumam Alma menyalahkan dirinya sendiri.
Alma mengacak rambutnya frustasi, kemudian menghubungi Robby kembali.
"Kak Rob, lacak keberadaan Vira sekarang!" Alma memutuskan panggilan dan berlari menuju mobilnya mengitari tempat itu, mencoba mencari Vira dan temannya yang mungkin belum jauh sambil menunggu kabar dari Robby.
Alma kemudian menghubungi Alno, panggilan tersambung, dan Vira langsung mengatakan apa yang terjadi bahkan sebelum Alno mengucapkan halo.
"Kak, saat ini Vira dalam dari pengawasanku," ucap Alma dengan panik.
Apa Vira menghilang dari pengawasanmu?" Panik Alno hingga berteriak, dari seberang telepon hingga Vira sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Aku tidak mau tahu, kamu harus segera menemukannya, kamu tahu Vira bisa saja kena bahaya, aku tunggu kabar baik darimu segera" setelah mengatakan itu Alno segera mengakhiri panggilan .
"Bagaimana Kak Rob?" Tanya Alma kembali menghubungi Robby menanyakan hasilnya.
"Dia ada di sebuah hotel bintang lima lumayan jauh dari tempat itu, Kakak akan share lokasinya."
"Makasih Kak," Alma akan segera memutus panggilan, tapi mengurungkannya saat mendengar Robby kembali berbicara.
"Alma hati-hati," pesan Robby dan setelahnya panggilan keduanya terputus.
Alma mempercepat laju kendaraannya, agar segera sampai ke tempat tujuannya.
Setelah sampai di sebuah hotel yang dimaksud Robby seperti lokasi yang dikirimkan pria itu, Alma segera berlari masuk, awalnya Alma cukup sulit masuk ke tempat itu, karena receptionist di hotel itu tidak mau bekerja sama. Tapi akhirnya receptionist itu memberinya informasi saat Alma mengatakan bahwa dia adalah adalah anggota keluarga Anderson bahkan memberikan bukti yang menunjukkan bahwa Alma bagian dari keluarga itu.
Alma sampai di tempat dan kini posisinya tidak jauh dari dua kamar yang ditunjukkan oleh receptionist, satu kamar dijaga oleh dua orang di depannya dan satu lagi tidak ada yang menjaga.
Alma lebih dulu mengamati kedua kamar itu. Ingin tahu keadaan di sekitarnya dulu, baru dia memikirkan cara untuk bertindak.
__ADS_1
Tak lama dua penjaga tadi masuk, saat pintu terbuka, Alma bisa melihat Sisil yang terus memberontak dan berteriak, sampai salah satu dari orang itu menutup mulut Sisil, kemudian satu orang lagi keluar dan mengetuk pintu kamar satunya, seseorang keluar dari dalam dan berteriak marah.