
"Hal yang lebih penting? Memangnya ada apa Kak? Tidak terjadi sesuatu kan?" Tanya Vira pada suaminya.
Vira tahu, jika suaminya bilang penting, itu berarti memang penting, apalagi saat suaminya sampai menelponnya di saat dia sedang menghadiri sebuah acara keluarga.
"Kamu satu kelas juga kan dengan kekasih Vier?" Tanya Alno membuat Vira mengernyitkan dahi di seberang telepon, karena suaminya itu, tiba-tiba menanyakan kekasih saudara kembarnya.
"Iya kami satu kelas, memangnya kenapa? Maksud aku kenapa Kak Alno menanyakan Sheira?"
"Entahlah, Kakak hanya ingin tahu saja."
"Apa terjadi sesuatu pada Vier?"
"Kakak rasa Vier seperti habis bertemu Sheira, tapi Kakak tidak tahu dimana, Vier terlihat aneh."
"Ya sudah dulu ya sayang, Papa menelepon," ujar Alno kemudian mematikan panggilan dan bergantian menelpon Stevano yang tadi menelponnya.
"Belum Ma, aku kira tadi papa" kata Alno saat Jasmine bertanya apa dirinya sudah menemukan keberadaan Vier atau belum.
"Apa?" Teriak Alno dan kemudian memutar balikkan mobilnya.
Alno masuk ke gedung yang sekarang sudah sepi, ya karena acara diakhiri secara tiba-tiba, saat terjadi keributan.
"Alno kamu sudah datang sayang, ayo cepat," ajak Bunga yang sepertinya memang menunggu kedatangan Alno.
Dapat Alno lihat, disana hanya ada orang tuanya dan Pamannya, serta Zio dan juga adiknya Vian yang sedang…, dengan cepat Alno menghampirinya, dan menarik tubuh Vian yang saat ini ada diatas tubuh Ken, Vian sedang menghajar Ken.
"Vian apa-apaan kamu?" Alno menahan tubuh Vian yang kembali meronta ingin dilepaskan.
Stevano, Max dan Zio tadi sudah coba untuk memisahkan mereka tapi tidak berhasil, Bahkan Max pun sampai terkena pukulan keponakannya yang terlihat marah saat ini.
Stevano dan Zio bahkan di dorong Vian saat mencoba mencegahnya untuk memukul Ken.
Hingga Bunga menahan putra keduanya agar tidak lagi ikut campur, dia tidak ingin kedua anaknya sampai terluka karena amarah Vian. Jasmine menangis saat suaminya masih terus berusaha menahan putra mereka, hingga Jasmine memutuskan menelpon Alno menggunakan nomor suaminya.
"Lepaskan Kak, aku harus memberinya pelajaran, dia telah menyakiti Kak Vier," teriak Vian yang belum puas untuk menghajar Ken.
"Vian!" Teriak Alno karena Vian terus saja berontak.
"Cukup Vian!" Kata Jasmine berteriak mendekati kedua putranya.
Hingga Vian pun akhirnya berhenti mendengar teriakan mamanya, tapi tatapannya ke Ken masih sangat tajam.
__ADS_1
Sejujurnya Alno masih bingung dengan apa yang terjadi, tadi di telepon mamanya juga belum menjelaskan apa-apa.
"Kita pergi sekarang!" Kata Alno menarik tubuh Vian yang kini hanya pasrah.
Stevano dan Jasmine pun meminta maaf kepada Max dan Bunga, ikut berpamitan mengikuti kemana Alno akan pergi.
Keempatnya pun masuk ke dalam mobil Alno, dan tanpa banyak kata, Alno membawa keluarganya dan menghentikan mobilnya saat sampai di sebuah rumah yang cukup mewah.
"Ayo turun!" Alno menyeret adiknya yang kini hanya bisa pasrah.
"Al ini?" Tanya Jasmine menatap rumah yang ada di depannya.
"Ini rumah yang Alno tinggali sewaktu tinggal disini Ma," jawab Alno yang mengerti maksud ucapan mamanya.
"Alno akan jelasin nanti, sekarang kita masuk," ucap Alno yang kemudian mengajak keluarganya masuk.
Seorang pelayan menyambut mereka, pelayan yang Alno percayai menjaga rumah itu, selama Alno tidak ada.
Stevano dan Jasmine pun hanya menurut saat Alno menarik tangan Vian untuk segera masuk.
"Selamat datang Tuan, Nyonya," kata pelayan itu menunduk hormat.
"Sudah Tuan."
"Baiklah Bibi bisa lanjutkan pekerjaan Bibi."
"Saya permisi dulu," pelayan itu pun pamit undur diri.
"Kak lepasin, aku bisa jalan sendiri," akhirnya Vian protes setelah cukup lama hanya diam dan menuruti kakaknya.
"Ayo, Pa, Ma!" Alno mengajak mama dan papanya masuk.
"Ayo kenapa kamu diam saja!" Ajak Alno yang melihat Vian diam sambil mengamati sekeliling rumahnya.
Vian menoleh dan mengikuti langkah kakaknya.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Alno menatap Stevano, Jasmine dan Vian bergantian.
Cukup lama Alno menunggu tapi semuanya tampak diam dan hanya ada raut kesedihan tergambar di wajah ketiganya.
"Kenapa kau memukul Ken?" Kini Alno menatap adiknya.
__ADS_1
"Dia pantas mendapatkannya."
"Kenapa? Kakak bertanya alasannya Vian!"
"Dia telah merebut kekasih Kak Vier bahkan menikahinya, dia telah mengkhianati dan menyakiti Kak Vier," jawab Vian dengan tatapan penuh amarah bahkan tangannya sudah mengepal erat.
"Ma? Pa?" Kini arah pandang Alno beralih ke orang tuanya, meminta penjelasan atas apa yang tadi adiknya katakan.
Jasmine mengangguk, istri Ken ternyata adalah kekasih Vier," kata Jasmine sendu.
"Maksud Mama dia Sheira?"
Jasmine kembali mengangguk, "Awalnya Mama tidak tahu, mereka selalu memanggilnya Adel, tapi siapa sangka dia dari Sheira, yang berarti dia adalah kekasih Vier, kita semua tahu, kita tidak pernah tahu bagaimana kekasih Vier, siapa nama lengkapnya? Karena Vier selama ini tidak memperkenalkannya kepada kita…"
"Bukan Kak Vier yang tidak memperkenalkannya pada kita Ma, tapi gadis itu yang tidak mau memperkenalkan dirinya. Vier selalu mengajaknya untuk bertemu dengan keluarga kita, tapi gadis itu yang selalu menolak dengan berbagai alasan, dan sekarang jelaskan alasannya, gadis itu memang berniat meninggalkan Vier dari awal," kata Vian meralat ucapan Mamanya dengan menggebu-gebu.
Alno mengurut pangkal hidungnya yang terasa berdenyut. Alno mencerna setiap ucapan Vian, dan Alno mengingat cerita Vier dan istrinya Vira tentang Sheira.
"Vian!" Tegur Stevano karena putranya itu memotong ucapan Jasmine.
"Maaf Pa, Ma, Vian hanya sangat marah padanya," ucap Vian melihat tatapan tajam papanya.
"Apa Mama dan Papa tahu alasan mereka menikah?"
"Kak untuk apa kau menanyakan hal itu? Apapun alasan mereka, yang kita tahu mereka sudah mengkhianati keluarga kita, dia telah menyakiti Kak Vier," jawab Vian lagi yang tidak bisa menerima alasan atas pengkhianatan yang telah Ken dan keluarga mereka lakukan kepada keluarganya.
Alno menghela nafas berat, apa yang adiknya katakan memang benar, apapun alasannya, mereka telah melukai perasaan adiknya.
"Baiklah, aku akan menyuruh orang untuk mengambil barang-barang kita dan pindahkan kesini. Malam nanti kita tinggal disini saja, dan besok kita akan segera pulang," ucap Alno memutuskan dan semuanya setuju.
Oh ya Zeline mana?" Tanya Alno yang tidak melihat keberadaan adik bungsunya sejak tadi.
"Zeline langsung dibawa Oma dan Opa tadi," kali ini Stevano yang menjawab pertanyaan Alno.
"Alno juga akan menyuruh orang untuk menjemput Zeline."
Lagi-lagi Stevano dan Jasmine hanya menyetujui apa yang putranya katakan. Keduanya benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
"Sekarang dimana Kak Vier? Apa Kakak sudah menemukan keberadaan Kak Vier?"
Stevano, Jasmine dan Alno saling pandang, karena hal tadi, membuat mereka lupa, tentang dimana keberadaan Vier sekarang.
__ADS_1