My Lovely Sister

My Lovely Sister
Bab 75


__ADS_3

Satu bulan kini tak terasa, Vira dan Alno menjalani rumah tangganya, bahkan kehidupan mereka terasa lengkap dengan kehadiran janin di rahim Vira.


Ya Vira dinyatakan hamil, dan usia kandungannya sudah masuk di minggu ke 5. Semenjak kehamilan Vira, Alno lebih over protektif kepada istrinya. Alno tidak ingin terjadi sesuatu dengan istri tercinta dan juga anak mereka.


"Sayang kamu yakin akan ikut ke tempat Ken? Lebih baik tidak usah ya, aku tidak mau terjadi apa-apa denganmu dan anak kita.


"Tapi Kak, aku tidak enak."


"Bibi, Paman dan Ken pasti akan mengerti jika kita tidak hadir, kamu dengar sendiri bukan bisa bahaya jika kamu harus naik pesawat di usia kandungan kamu yang masih sangat rentan, aku tahu kamu tidak mengalami morning sickness seperti wanita hamil kebanyakan, tapi tetap saja perjalanan cukup jauh bisa membahayakan anak kita" sedari tadi Vier terus membujuk istrinya dan memberikan pengertian pada Vira.


"Baiklah aku tidak ikut, tapi Kak Alno harus tetap ikut!" Ucap Vira tidak ingin ditolak.


Alno menghela nafas, bagaimana dirinya bisa ikut, sementara istrinya di rumah sendirian, apalagi semua anggota keluarga juga ikut ke negara tempat Ken tinggal selama ini. Karena Ken akan melangsungkan pernikahannya seminggu lagi. 


Terlalu mendadak sebenarnya, tapi tiba-tiba itulah kabar yang Papanya dengar dari Opanya. 


"Tapi sayang.."

__ADS_1


"Tidak ada tapi-tapian, tidak enak juga kan Kak, jika kita berdua tidak hadir di hari bahagia Ken, setidaknya salah satu dari kita bisa hadir," ucap Vira yang kini gantian membujuk Alno untuk ikut dan hadir di acara pernikahan sepupunya.


"Baiklah," pasrah Alno pada akhirnya.


"Tapi Cinta akan menemanimu," ucap Alno dan Vira dengan antusias mengangguk. 


"Ya sudah, Kakak buatin s*s* dulu buat kamu," kata Alno turun dari tempat tidur menuju ke dapur, membuatkan s*s* hamil untuk istrinya.


Tapi langkah Alno terhenti saat melihat ke arah pintu samping yang terbuka lebar.


Alno berjalan mendekat, menghampiri adiknya.


"Sedang apa malam-malam begini?" Tanya Alno menepuk bahu adiknya.


"Sedang berpikir," jawab Vier yang mendongak menatap langit yang tidak terlihat gelap, tidak ada bulan maupun bintang disana.


"Kenapa lagi? Sheira?" Tanya Alno yang kini sudah menebak pikiran adiknya.

__ADS_1


"Bukankah setelah kejadian makan malam itu, Kakak dengar kalian sudah berbaikan?" Alno tahu itu, karena Vira bercerita padanya, bahwa istrinya melihat Vier dan Sheira sedang makan siang bersama tiga hari setelah acara makan malam dengan keluarganya gagal.


"Memang, tapi sudah seminggu ini Sheira menghilang, bahkan dia tidak memberi kabar apapun, kenapa aku begitu tergesa-gesa saat itu? Apa mungkin Sheira menjauhiku karena kejadian itu?" Kata Vier mengusap wajahnya kasar.


Alno mengernyitkan dahinya bingung, "Maksudnya bagaimana? Memangnya apa yang terjadi?" Tanya Alno yang begitu penasaran maksud perkataan adiknya.


"Dua minggu lalu, aku melamarnya, menunggunya menemui keluarga kita dulu rasanya bukan pilihan yang baik, hingga aku memutuskan langsung melamarnya, dan setelah itu aku akan membawanya kembali untuk dipertemukan dengan keluarga kita, tapi nyatanya dengan tindakanku yang terkesan tergesa-gesa itu, justru membuat Sheira semakin menjauh, Sheira menolakku Kak, aku kira Sheira bakal langsung menyetujuinya, apalagi melihat hubungan kita yang sudah terjalin cukup lama. Selama ini yang menjadi alasan Sheira menolak ajakanku untuk menikah adalah Kakaknya. Dia bilang dia ingin melihat Kakaknya sudah ada yang menjaga dan terakhir dia bilang, Kakaknya sudah memiliki kekasih dan dalam waktu dekat akan bertunangan. Dan saat itu Sheira tidak bisa datang, karena bertepatan hari itu adalah hari pertunangan Kakaknya, dia minta maaf karena lupa memberiku kabar dan aku mencoba mengerti keadaannya, kami pun akhirnya berbaikan. Dan aku senang saat mendengar itu, hingga aku memutuskan untuk segera melamarnya, tapi dia menolakku, dan kali ini aku tidak tahu alasan kenapa dirinya menolakku, aku menghubunginya tapi nomornya tidak aktif dan aku mencoba mencari tahu alamat rumahnya, setelah aku tahu dan datangi rumahnya, Sheira dan juga keluarganya sudah pergi dua hari yang lalu, dan hal itu Sheira benar-benar tidak memberitahuku, lantas aku harus bagaimana Kak? Aku kira percintaanku akan berjalan lancar, aku kira hubungan kita yang cukup lama, bisa berakhir di pernikahan dan bahagia, tapi lihatlah apa yang terjadi? Kadang aku iri dengan Kakak dan Vira, Kakak dan Vira tidak berpacaran tapi akhirnya kalian menikah dan sekarang hidup bahagia. Bahkan Ken, aku tidak pernah mendengar dia memiliki kekasih, tapi lihatlah Kak, dia justru sebentar lagi akan menikah, tapi aku.." Vier rasanya tidak sanggup lagi meneruskan ucapannya.


Sementara Alno hanya diam saja, dia bingung harus mengatakan apa, terlebih lagi dia tidak merasakan apa yang saat ini adiknya rasakan.


"Vier Kakak tahu kamu kuat dan Kakak yakin kamu bisa melewatinya, mungkin banyak rintangan dalam kisah cintamu saat ini, tapi kamu harus percaya jika suatu saat kamu akan tetap menikah dan bahagia bahkan memiliki anak-anak yang lucu," kata Alno mencoba menenangkan adiknya. "Walaupun mungkin bukan dengan Sheira, karena Kakak yakin banyak gadis diluar sana yang menyukaimu dan lebih menghargaimu, tidak seperti Sheira yang hanya bisa menyia-nyiakan rasa cintamu yang begitu besar padanya," tambah Alno berucap dalam hatinya menatap sendu adiknya yang sering terlihat kacau belakangan ini.


"Dan kamu tidak perlu iri dengan kisah cinta orang lain, karena apa? Yang kamu lihat belum tentu itu kenyataannya. Kamu selalu melihat kisah cinta orang lain tampak bahagia, tapi sebenarnya kamu tidak tahu berapa ujian yang harus mereka hadapi untuk mencapai kebahagian itu. Karena sebenarnya bahagia adalah sesuatu hal yang bisa kita ciptakan sendiri. Kamu berkata seperti itu, karena kamu belum pernah menjadi mereka, dan jika pun kamu menjadi mereka, kamu belum tentu bisa seperti mereka dalam menghadapi ujian cintanya, dan begitupun sebaliknya jika orang lain menjadi kita, belum tentu mereka bisa seperti kita. Saran Kakak, kamu bicarakan baik-baik pada Sheira, minta penjelasan padanya, minta dia memberitahu apa alasan dia menolak kamu, dan perbaiki semuanya. Jika Sheira ingin kamu mengerti dirinya, maka dia harus menceritakan apa yang ada di dalam hati dan pikirannya, karena kamu tidak bisa dengan sendirinya membaca pikiran dan hatinya. Jika semua tidak bisa diperbaiki, lebih baik kamu akhiri saja hubungan yang hanya terus membuatmu terluka, karena bukan cuma Sheira yang harus selalu dimengerti tapi kamu juga, jika Sheira selalu maunya dimengerti sementara dirinya tidak bisa mengerti kamu, berarti dia adalah orang yang egois."


"Ya ampun!" Alno menepuk dahinya pelan saat mengingat sesuatu.


"Kamu istirahat, Kakak ke dalam dulu!" Ucap Alno yang langsung berlari meninggalkan Vier sendiri.

__ADS_1


__ADS_2