
"Jangan cemberut nanti cantiknya hilang," Alno mencubit pipi Vira gemas.
"Kak!" Vira menyingkirkan tangan sang Kakak dari wajahnya.
"Sekarang makan!" Perintah Alno
"Nanti."
"Baiklah, berarti kamu mau Kakak menyuapimu seperti tadi?"
Wajah Vira memerah, "Aku akan makan sekarang," Vira mengambil piring yang sudah Alno letakkan kembali di atas meja.
Alno terus memandangi adiknya yang sedang memakan makanannya.
Dipandang seperti itu, tentunya membuat Vira gugup.
"Kak jangan melihatku seperti itu!" Protes Vira pada Kakaknya.
"Kenapa? Malu? Tidak perlu malu, dulu juga tidak malu," jawab Alno enteng.
"Dulu sama sekarang beda Kak, jadi jangan sama-samain," Vira kesal saat Kakaknya membandingkan dirinya antara dulu dan sekarang.
"Uhuk, uhuk,"
"Makanya makan dulu baru nanti bicara, tersedak kan jadinya," omel Alno memberikan segelas air putih pada Vira.
Cepat Vira mengambil minuman itu dan langsung meneguknya.
Bagaimana bisa Alno menyalahkan Vira yang bicara sambil makan, Vira juga tidak akan bicara jika Alno tidak terus memandanginya yang membuat Vira jadi grogi dipandang seperti itu oleh pria yang disukainya.
Vira pun diam dan melanjutkan makannya dengan tenang, sekali-kali melirik Alno yang masih saja betah memandanginya.
Alno mengambil piring Vira yang sudah tidak ada makanan tersisa di atasnya, kemudian menaruhnya di atas nampan beserta dengan gelasnya.
__ADS_1
"Katanya tidak lapar, tapi piringnya mengkilat," sindir Alno yang kemudian bangun dari duduknya, lalu membawa peralatan bekas makan Vira keluar kamar.
Vira hanya memanyunkan bibirnya mendengar perkataan Alno yang Vira yakin memang sengaja menyindirnya.
Tak lama Alno kembali menuju ke ranjang dimana disitu Vira sedang duduk bersandar memainkan ponselnya.
Vira menoleh sekilas kemudian kembali disibukkan dengan ponsel.
"Kenapa Kakak kemari lagi?" Tanya Vira tanpa mengalihkan pandangan.
Alno duduk di samping Vira ikut bersandar bedanya Vira melipat kedua kakinya sedangkan Alno membiarkan kakinya berselonjor.
"Ayo kita menikah!" Kata Alno hingga Vira refleks menjatuhkan ponsel yang tadi dipegangnya.
"Kak apa yang tadi Kakak katakan? Aku tidak salah dengar?" Vira menoleh dan kini menatap Kakaknya.
"Kamu tidak salah dengar Vira, Kakak memang ingin menikahimu," Alno kini duduk menghadap Vira dan menggenggam tangan gadis itu yang sepertinya masih terkejut atas apa yang baru saja dikatakannya.
"Kenapa? Kamu mau bilang kita Kakak adik lagi, Kakak sudah tahu Vira, Mama sudah menceritakan semuanya ke kakak, Mama bilang Kakak bukan anak kandung Mama dan Papa, jadi Kakak bisa menikahimu," kata Alno menatap dalam ke mata Vira.
Flashback
"Banyak hal yang akan Alno jelaskan sama Mama, tapi sebelumnya Alno minta maaf karena sudah membawa Kimmy kemari tanpa meminta izin pada Mama lebih dulu," ucap Alno merasa bersalah.
"Kenapa minta maaf sama Mama, seharusnya kamu minta maaf sama Vira," ucap Jasmine menatap putranya sendu.
"Maksud Mama, kenapa aku harus minta maaf sama Vira?" Tanya Alno memandangi sang Mama meminta penjelasan pada apa yang baru saja Mamanya katakan.
"Karena Vira yang pasti paling terluka melihatmu membawa seorang perempuan ke rumah ini, sekarang Mama tanya siapa gadis itu? Apa dia kekasihmu?"
"Bukan Ma, lagian kenapa Vira terluka, seharusnya dia senang karena Alno tidak mengganggunya lagi," jawab Alno ada kesedihan yang terpancar dalam matanya.
"Apa kamu masih mencintai Vira sampai saat ini?"
__ADS_1
Deg
Alno terkejut mendengar pertanyaan Mamanya, "Darimana Mama tahu tentang perasaanku, hanya Vira dan Bian yang tahu, jika Bian rasanya tidak mungkin, apa jangan-jangan Vira.."batin Alno berkata.
"Mama tahu karena Mama bisa melihatnya, sekarang jawab pertanyaan Mama apa kamu masih mencintai Vira sampai saat ini?"
Alno menunduk, "Maafkan Alno Ma, mungkin perasaan yang Alno miliki ke Vira akan mengecewakan Mama dan Papa, tapi Alno juga tidak tahu Ma, kenapa perasaan cinta ini tumbuh di hati Alno begitu saja, Alno sudah mencoba menepisnya tapi Alno gagal, hingga saat itu Alno mengatakan yang sebenarnya pada Vira, Vira marah, dan tentu saja Vira marah, karena bagaimanapun tidak pantas rasanya seorang Kakak mencintai adik kandungnya sendiri, tapi Alno harus bagaimana Ma? Alno juga tidak ingin seperti ini, tapi Alno juga tidak bisa menghapusnya begitu saja Ma, Alno mencintai Vira. Hingga akhirnya Alno memutuskan untuk pergi, berharap Alno bisa melupakan Vira namun nyatanya semakin Alno berusaha semakin Alno tidak bisa Ma, Alno harus bagaimana lagi?"
Jasmine memeluk putranya, Alno terlihat rapuh saat mengatakan perasaan yang dia miliki terhadap Vira.
"Alno, lihat Mama sayang!" Jasmine melonggarkan pelukan dan menangkup wajah Alno.
"Bukan hanya Alno yang merasakan seperti itu, Vira juga merasakan hal yang sama, saat kamu pergi, begitu Vira bangun tidur Vira mencarimu, dia bilang ke Mama, kenapa Kak Alno tega meninggalkannya, Kenapa Kak Alno pergi tanpa memberitahunya, Kak Alno pasti kembali kan, Kak Alno pergi bukan karena Vira kan, Vira terus berkata seperti itu sambil menangis di pelukan Mama. Kamu tahu sayang, Vira bahkan kehilangan semangatnya saat itu, Vira juga selalu membatasi dirinya terhadap teman-temannya terutama laki-laki. Hingga suatu malam, Mama tidak sengaja mendengar Vira menangis di kamarnya, Mama menghampirinya, tiba-tiba saja Vira bilang ke Mama, tentang kamu yang menyatakan perasaan terhadapnya, bahkan Vira bilang ke mama jika dia juga ternyata mempunyai perasaan yang sama."
"Maksud Mama?"
"Vira juga mencintai kamu sayang, dia bahkan menutup hatinya terhadap para pria yang berusaha mendekatinya," beritahu Jasmine saat teringat kejadian 5 tahun yang lalu.
"Tapi Ma, bukankah Vira sudah memiliki kekasih? Laki-laki yang waktu itu datang ke rumah sewaktu kelulusan SMA, dia kekasihnya kan?"
Jasmine menatap putranya dengan tatapan curiga, "Darimana kamu tahu ada yang datang saat itu?"
"Soal itu, Alno.."
"Jangan bilang jika kamu saat itu pernah kembali tapi tidak pulang ke rumah?" Jasmine kini menatap penuh selidik.
"Alno jawab Mama!"
"Iya Ma, maaf," kata Alno dengan suara yang teramat pelan.
"Waktu itu sebenarnya Alno memang ingin memberikan kejutan, Alno juga sangat merindukan Mama, Papa dan adik-adik. Tapi Alno melihat teman Vier itu mengajak Vira makan malam, dan Alno lihat jika pria itu menyatakan perasaannya kepada Vira. Alno cemburu dan sakit hati, Alno sudah pergi dua tahun tapi ternyata Alno benar-benar merasa tidak memiliki arti di hati Vira. Makanya setelah itu Alno langsung pergi lagi, Alno rasanya tidak sanggup melihat Vira bersama pria lain Ma, dan akhirnya Alno memutuskan untuk mencari pekerjaan di sana, berharap dengan bertambah lamanya Alno di negara orang, Alno bisa melupakan perasaan Alno terhadap Vira, tapi sampai sekarang Alno tidak bisa Ma, Alno pun tidak tahu lagi harus bagaimana?" tanpa terasa bulir bening jatuh membasahi pipi.
Jasmine kembali memeluk Alno, membiarkan putranya itu menumpahkan segala apa yang dirasakannya.
__ADS_1