My Lovely Sister

My Lovely Sister
Bab 42


__ADS_3

"Vira tunggu!" Teriak Alno begitu mendapati Vira yang pergi dari ruang makan.


Alno segera menepis pelan tangan Kimmy yang berada di wajahnya, kemudian segera menyusul Vira.


Belum melangkah jauh, tangan Alno sudah lebih dulu dicekal oleh Vian.


"Vian lepasin, kakak mohon, untuk kali ini saja, setelah itu Kakak janji akan jelasin semua," sorot mata Alno terlihat penuh permohonan saat menatap sang adik yang terlihat mengeraskan rahangnya, dan Alno pastikan jika Vian kini tengah sedang menahan amarahnya.


Jasmine yang melihat ada ketegangan di antara kedua putranya, langsung mendekat, memegang tangan Vian yang mencekal tangan Alno, kemudian menurunkannya perlahan.


"Biarkan Kak Alno mengejar Kak Vira, sayang," ucap Jasmine dengan sorot penuh permohonan.


Vian pun langsung melepaskan tangannya,dan berlalu begitu saja.


"Vian!" Panggil Stevano, tapi panggilan Stevano sama sekali tidak digubris oleh Vian.


Alno pandangi punggung adiknya yang kini sudah menghilang di balik tembok. Alno menghela nafas berat.


Bukan ini yang Alno ingin Alno lihat ketika pulang, tapi berjanji dalam hati jika dia akan menyelesaikan semuanya.


"Ma, Alno kejar Vira dulu," Alno kemudian segera bergegas keluar setelah mendapat anggukan kepala dari mamanya.


Sesampainya di depan rumah, Alno edarkan pandangannya, mencari dimana keberadaan adiknya. Tak butuh waktu lama Alno menemukan apa yang dia cari.


Alno mendekat dan menghampirinya. Kemudian duduk di samping adik tercintanya itu. Vira saat ini sedang duduk di taman di samping rumahnya, taman yang Mama dan dirinya rawat, karena Vira sangat menyukai Bunga seperti Mama dan Papanya.


Vira hanya melirik sekilas ketika merasa ada orang yang duduk di sampingnya.


"Kenapa terburu-buru keluar?" Tanya Alno penuh dengan suara yang teramat lembut.


Vira hanya diam saja, tidak peduli dengan pertanyaan Kakaknya, Vira mencoba mengabaikan keberadaannya.


"Kamu marah sama Kakak?"

__ADS_1


Vira tetap diam saja.


"Maafkan Kakak Vira jangan seperti ini please!"


Agaknya Vira masih enggan untuk berbicara dengan Kakaknya.


Alno menghela nafas, sepertinya cara inu tidak berhasil untuk membuat adiknya sekaligus gadis yang dia cintai bersuara. Tapi Alno tidak akan menyerah, hanya karena Vira tidak merespon ucapannya.


"Kamu tidak khawatir nih sama Kakak, lihatlah wajah Kakak, bukankah ketampanan Kakak jadi berkurang jika seperti ini," Alno terus saja berbicara.


"Kamu masih cinta Kakak kan, walaupun wajah Kakak seperti ini?" Sepertinya Alno masih saja terus membicarakan ketampanannya ini tanpa berniat membujuk Vira agar tidak marah lagi.


"Oh jadi kamu gak cinta lagi nih sama Kakak?"


Kenapa ucapan Alno jadi ngawur seperti ini membuat Vira yang di sampingnya tidak lagi sabar untuk berbicara.


"Gak mungkin kamu gak cinta sama Kakak, kali ini Kakak yakin kamu cinta banget sama Kakak, kamu cemburu kan? Iya Kakak sangat yakin jika saat ini kamu merasa cemburu."


"Siapa juga yang cemburu, kakak jangan ngaco deh kalau ngomong, jadi orang kok ya percaya dirinya tinggi banget gitu," kata Vira mencebikkan bibirnya.


"Oh kamu gak cemburu, padahal Kakak kira kamu cemburu, kakak sudah seneng banget loh tadi, saat melihat  kamu cemburu," kata Alno dengan entengnya.


Vira menatap kesal Kakaknya, sejak kapan kakaknya ini memiliki rasa kepercayaan diri seperti ini, pikir Vira dalam hatinya.


"Ya sudah jika kamu tidak cemburu, Kakak akan kembali ke dalam, katanya tadi Kimmy mau ngobatin luka Kakak, jelas saja Alno berbohong, lukanya tadi sudah diobati oleh Mamanya tapi jika Vira memang ingin mengobatinya lagi, dengan senang hati Alno akan membiarkan hal itu terjadi" Alno kemudian bangun dari duduknya.


Tapi dengan cepat Vira menahan Alno. "Biar aku saja yang obati," kini Vira sudah mengajukan dirinya dan dalam hati Alno bersorak bahagia.


Alno kemudian meraih tangan Vira dan membawanya masuk kembali ke dalam rumah dengan menggandengnya.


Begitu masuk, suasana rumah sudah tampak sepi, mungkin mereka semua sudah mulai melakukan aktivitasnya masing-masing.


"Kok sepi, kemana ya semua orang?" Tanya Vira dengan pandangan menyusuri setiap sudut rumahnya.

__ADS_1


Sepertinya Vira sepemikiran dengan Alno, buktinya Vira mengatakan apa yang  Alno pikirkan tadi. "Bukankah kita benar-benar jodoh?" Alno terkekeh geli saat mengatakan itu dari dirinya sendiri, walaupun hanya terucap dalam hati.


"Mungkin mereka semua sudah memulai aktivitasnya sayang."


Mendengar kata sayang dari bibir Alno saat ini kenapa Vira merasa wajahnya memanas, padahal dulu biasa-biasa saja, apa karena kini dia menganggap Alno sebagai seorang pria yang dicintainya bukan lagi sebagai kakaknya?


"Kamu melamun?" Alno kini menoleh dan menatap Vira saat Vira tidak merespon apa yang tadi dikatakannya.


"Hah tidak, hanya saja kenapa aku tidak melihat Vier juga," kata Vira memberi alasan.


"Oh Vier hari ini menemui Kakek, dia akan mulai belajar mengurus perusahaan Kakek," jawab Alno yang memang tahu karena Papanya sudah memberitahu.


Vira menatap kakaknya, "Dari Mana Kakak tau, kakak baru saja pulang kenapa sudah tahu tentang hal itu, kenapa aku malah tidak tahu apa-apa," protes Vira karena kakaknya lebih banyak tahu daripada dirinya.


"Kenapa kamu iri karena Kakak lebih tahu apapun darimu," rasanya Alno sudah bisa membaca apa yang ada dipikiran gadis yang dia cintai itu.


"Tidak, aku tidak iri, hanya saja heran karena kakak lebih tahu," jawab Vira jujur.


Alno tersenyum dan mengacak rambut Vira.


"Papa sudah memberitahu Kakak," jawab Alno jujur, dan Vira hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


Mereka kini sudah sampai di kamar Alno. Alno duduk di atas ranjang seperti perintah adiknya. Membiarkan adiknya menelusuri kamarnya mengambil peralatan p3k.


Setelah menemukan apa yang ingin diambilnya, Vira langsung membawanya ke tempat Alno berada. Vira kemudian berdiri di hadapan Alno, sedikit mengangkat wajah Alno dan mulai mengobati lukanya.


Vira terkejut, saat Alno melingkarkan kedua tangannya di pinggang rampingnya. Tapi hanya sebentar, setelah itu Vira tampak fokus mengobati luka Kakaknya. Dan Alno jangan tanyakan lagi dia sedang apa, karena saat ini Alno sedang menatap intens wajah adiknya yang tepat ada di depan wajahnya hanya berjarak beberapa senti saja. Alno tidak akan melewati begitu saja momen yang menurutnya manis ini.


"Selesai!" Kata Vira setelah selesai mengobati lukanya. 


Tak lama pandangan keduanya bertemu, jantung Vira berdegup lebih kencang dari biasanya. Sungguh Vira merasa gugup saat ini. Vira memundurkan wajahnya, tapi dengan cepat tangan Alno menarik tengkuknya. Kedua bibir itu kembali menyatu untuk kesekian kalinya.


Vira yang awalnya hanya diam saja, kini membalas ciuman Alno. Keduanya sama-sama terhanyut, setelah merasa kehabisan nafas baru pagutan bibir itu terlepas. Alno membersihkan sisa salivanya di bibir Vira dengan ibu jarinya.

__ADS_1


"I love you Zavira Anderson" 


__ADS_2