My Lovely Sister

My Lovely Sister
Bab 99


__ADS_3

"Vira!" Terlihat seorang gadis melambaikan tangan padanya.


Vira tersenyum lalu menghampiri gadis itu, "Hai Sisil," ucap Vira menyapa wanita yang tadi memanggilnya, yang ternyata adalah Sisil.


"Maaf aku tidak datang sendiri, aku mengajak adik-adikku," ucap Vira merasa tidak enak pada temannya itu.


"Hmm tidak apa-apa Kok, aku mengerti, Kak Alno pasti khawatir jika kamu pergi sendiri seperti dulu," kata Sisil maklum.


"Oh ya kenalkan ini Vian dan Cinta," kata Vira memperkenalkan kedua orang yang menemaninya.


"Sisil, hmm ini Melviano?" Tanya Sisil menatap pria yang kini lebih tinggi darinya. Sisil kemudian mengulurkan tangannya. 


"Hmm," jawab Vian hanya dengan gumaman, kemudian tanpa dipersilahkan, dia langsung duduk tanpa membalas uluran tangan Sisil.


"Vian!" Kata Vira mencubit perut adiknya yang dirasa tidak sopan.


"Apa sih Kak," ucap Vian tidak peduli dengan tatapan tajam kakaknya.


"Yang sopan!" Perintah Cinta dan membuat Vian langsung menoleh ke arah gadis itu.


Vian pun dengan terpaksa menjabat tangan teman kakaknya itu.


"Cinta Kak," kini giliran Cinta yang menyambut uluran tangan Sisil.


Sementar Sisil melihat Cinta dari atas sampai bawah, seperti pernah bertemu dengannya, tapi entah kapan.


"Kenapa Kak?" Tanya Cinta yang merasa diperhatikan oleh Sisil.


"Tunggu! Kamu bukannya…"


"Vian tadi kamu katanya mau ke toilet," potong Cinta cepat. Dan Vian hanya mengernyitkan dahi bingung.


"Tidak, aku tidak ingin ke toilet," jawab Vian karena dirinya memang tidak ingin ke tempat yang dimaksud Cinta tadi.


"Tidak, kamu tadi jelas-jelas bilang mau ke toilet, iya kan Kak Vira? Kata Cinta mengedipkan sebelah matanya meminta dukungan Vira.


Vira hanya menatap Cinta, tidak mengerti maksud gadis itu.


"Hmm, terima kasih untuk waktu itu," lanjut Sisil karena mereka hanya saling pandang satu sama lain.

__ADS_1


"Terima kasih? Terima kasih untuk apa? Apa sebelumnya kalian pernah bertemu?" Tanya Vira bingung. Dan pertanyaan Vira sudah mewakili Vian, sehingga laki-laki itu tidak perlu bertanya lagi.


"Ah, waktu itu mobil Kakak ini mogok dan aku memberinya tumpangan, hmm iya kan Kak," ucap Cinta memberi kode pada Sisil, Cinta berharap mengerti kode yang diberikannya.


"Oh, iya waktu itu aku menumpang di mobil Cinta," jawab Sisil yang untungnya mengerti kode yang diberikan Cinta padanya.


"Oh, jadi karena itu, kalian saling kenal?" Vira menatap Sisil dan Cinta bergantian dan keduanya mengangguk.


Cinta merasa lega dan memberi isyarat pada Sisil, bahwa dirinya berterima kasih. Dan Sisil pun mengangguk mengerti.


"Ayo!" Vian tiba-tiba menarik Cinta.


"Kemana?" Tanya Cinta sedikit mendongak menatap pria itu yang sudah berdiri.


"Tadi kau bilang mau mengantarku ke toilet, ya sudah ayo!" 


"Tidak mau." 


"Bukannya tadi kamu yang ngotot minta aku ke toilet, sekarang giliran aku beneran mau ke toilet kamu justru menolaknya."


"Ya sudah, kan kamu tadi yang bilang tidak mau ke toilet, jadi tawaran untuk mengantarmu sudah kadaluarsa," ucap Cinta melepaskan tangan Vian dari tangannya.


Vian hanya mendengus kesal dan akhirnya menarik tangan Cinta agar pergi dari sana.


"Hmm biarkan saja mereka, mereka sudah terbiasa seperti itu," jawab Vira yang memang sudah sering melihat adiknya dan Cinta seperti itu.


"Pasti mereka saling cinta," gumam Sisil yang masih bisa didengar oleh Vira.


"Hahaha, kamu salah, Cinta itu sukanya sama Zio, kamu ingat dia kan?" Vira tertawa saat sahabatnya itu salah menebak.


"Tapi aku lihat adikmu sepertinya menyukai gadis itu."


Vira langsung menghentikan tawanya, dia kemudian melihat adiknya yang berjalan menjauh dengan tangan yang merangkul Cinta. 


"Kamu kenapa Vira, mm maaf jika aku salah, aku cuma menebak saja kok," kata Sisil merasa tidak enak karena setelah perkataannya tadi, sahabatnya  jadi terdiam.


"Tapi bagaimana jika tebakanmu benar?" Ucap Vira dengan suara begitu pelan nyaris tidak terdengar.


"Hah? Maksudnya bagaimana?" Tanya Sisil yang tidak mengerti ucapan Vira tadi.

__ADS_1


"Bagaimana jika Vian memang menyukai Cinta?" Kini pandangan Vira beralih ke arah Sisil.


"Ya bagus dong, memangnya kenapa? Kamu tidak setuju?" Sisil tidak mengerti apa yang Vira pikirkan sampai bertanya seperti itu, karena setahu Sisil  keluarga Vira tidak pernah memandang status orang lain.


"Bukan itu masalahnya, jika Vian menyukai dan suatu saat bersama Cinta, bukankah itu akan menyakiti perasaan Zio? Begitu juga sebaliknya, intinya baik Zio ataupun Vian pasti berujung saling menyakiti," kata Vira lirih.


Sisil pun akhirnya ikut terdiam, setelah tahu maksud perkataan sahabatnya.


"Kamu masih ingat Sheira kan?" Tanya Vira  pada Sisil.


"Sheira?" Tanya Sisil bingung  saat tiba-tiba, Vira menyebut nama itu.


"Hmm."


"Sheira kekasih Vier bukan?" Sisil memastikan jika memang Sheira itu yang  dimaksud Vira.


"Iya Sheira kekasih Vier, hmm kamu belum tahu jika Sheira belum lama ini menikah dengan Ken," beritahu Vira dan jelas saja itu membuat Sisil terkejut.


"Sheira kekasih Vier menikah dengan Ken? Keanu Anderson sepupu kalian?" Tanya Sisil memastikan berita yang baru didengarnya.


"Iya, makanya saat tadi kau bilang Vian menyukai Cinta, aku takut kisah itu akan terulang lagi."


"Tunggu, tunggu Ra, aku tidak mengerti, Sheira menikah dengan Ken, memang kapan dia putus dengan  Vier? Terus kok bisa setelah putus dari kembaranmu, dia malah  menikah dengan sepupumu?" 


"Lebih parah dari itu, Sheira bahkan belum putus dengan Vier."


"Maksudmu Sheira selingkuh dengan sepupu kekasihnya sendiri?"


"Entahlah aku tidak tahu apa yang terjadi, intinya Vier tahu Sheira dan Ken menikah, tepat di hari pernikahan mereka."


"Terus bagaimana dengan mereka? Mmm...maksudku bagaimana Vier saat ini?"


"Kamu sendiri bisa membayangkannya, tentu saja dia tidak baik-baik saja, tapi dia bisa berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa."


"Aku tidak tahu jika Sheira akan sekejam itu pada Vier. Padahal aku lihat Vier begitu menyayanginya, apa yang kurang coba, aku benar-benar tidak habis pikir, jika aku menjadi dia, aku pasti tidak akan menyia-nyiakan pria seperti Vier," ucap Sisil yang tampak greget begitu mendengar perbuatan Sheira terhadap Vier.


"Aku juga tidak pernah menyangka jika Sheira dan Ken akan menusuk Vier dari belakang, aku tidak pernah menyangka jika mereka akan mengkhianati Vier."


"Vier pasti bisa melewati ini semua, aku yakin itu, jadi kamu percaya saja sama dia, mungkin dia butuh waktu untuk menyembuhkan lukanya, ya walaupun mungkin luka itu bisa saja membekas, tapi kelak luka itu perlahan akan sembuh, jika sudah menemukan obat yang tepat. 

__ADS_1


"Iya kau benar, aku berharap Vier segera menemukan obat yang tepat," ucap Vira penuh harap. Akhirnya Vira merasa lega setelah bercerita pada Sisil.


"Oh ya Ra, tujuan aku ingin bertemu denganmu untuk meminta maaf atas apa yang terjadi padamu waktu itu, aku benar-benar tidak tahu jika akan terjadi hal seperti itu, aku benar-benar minta maaf karena tidak bisa membantumu," kata Sisil menggenggam tangan Vira menatap wajah Vira dengan perasaan harap-harap cemas menanti jawaban darinya.


__ADS_2