My Lovely Sister

My Lovely Sister
Bab 66


__ADS_3

"Kenapa?" Alno berbalik badan dan menatap Sisil.


"Tolong izinkan aku bertemu Vira, aku akan menjelaskan semua padanya, aku mohon Kak, aku tidak mau Vira salah paham padaku, aku tidak mau hubungan persahabatan kita pecah karena salah paham ini," ucap Sisil memohon pada Alno untuk bertemu dengan Vira.


"Hmm tapi nanti, aku sendiri yang akan mengantarkan Vira sendiri," ucap Alno yang kini tahu bahwa Sisil tidak bersalah, tapi Alno akan tetap waspada sebelum pelaku sebenarnya tertangkap.


Sisil terdiam kemudian mengangguk, "Baiklah," pasrahnya yang kemudian mengikuti orang utusan Alno yang akan mengantarkan dirinya kembali.


"Tetap awasi dia!" Bisik Alno pada orang utusannya.


Pria itu mengangguk kemudian menunjukkan jalan keluar kepada Sisil.


Sisil sesekali menoleh ke arah belakang dimana yang dia lihat kini hanya punggung Alno yang menjauh. Sisil menghela nafas, kemudian kembali menatap ke depan melanjutkan langkahnya untuk keluar dari tempat itu.


Alno menendang kaki kursi orang yang saat ini duduk di atasnya dalam posisi terikat, hingga kursi itu berguling ke samping.


Pria itu terbangun dan menatap Alno, wajahnya sudah hampir tidak terbentuk karena hampir seluruhnya terpenuhi lebam, dari bekas pelajaran dari Robby dan orang utusan lainnya.


Alno mencengkram dagu pria itu dan menatapnya tajam.


Bug


Ini karena kau telah memasukkan sesuatu ke dalam minuman wanitaku.


Bug


Ini karena kamu membawanya ke hotel.


Bug


Ini karena tangan kotormu menyentuh wanitaku.


"Alma!" Alno memanggil Alma.


Dan Alma yang mengerti langsung memberikan benda yang ditunjuk Alno.


Plak


Plak

__ADS_1


Dengan penuh amarah, Alno memukul tangan pria itu dengan rotan.


"Aku akan membuat ini tidak berfungsi lagi karena sudah menyentuh istriku," ucap Alno dengan senyum menyeringai.


Sisi lain yang orang lain tidak pernah tahu Alno yang bisa berbuat seperti itu.


"Cepat katakan siapa yang menyuruhmu melakukan itu, jika kau mengatakannya, aku akan meringankan hukumanmu, jika tidak mau memberitahu, mungkin besok hanya tinggal namamu saja," ancam Alno agar pria itu takut dan mengatakan siapa dalang dibalik penjebakan istrinya.


*


*


"Kenapa sayang?" Tanya Tiffa yang melihat cucunya sedari tadi terus mondar-mandir tidak jelas.


Vira menggeleng, "Tidak apa-apa Oma," Vira tersenyum kemudian kembali duduk di samping Tiffa.


"Nungguin suami ya?" Ledek Tiffa pada Vira.


"Hmm tidak," Vira memalingkan wajahnya yang memanas.


"Bilangnya tidak, tapi lihatlah wajah kamu sudah memerah tuh," Tiffa tidak henti-hentinya menggoda Vira.


"Sudah ah Oma, Vira mau tidur dulu, Oma juga istirahat ya," kata Vira mencium pipi Tiffa sebelum dirinya beranjak bangun dan pergi ke kamarnya.


"Iya Oma, aku nunggu Kak Alno saja, nanti biar makan sama-sama," kata Vira menunjukkan senyum manisnya. "Ya sudah, Vira ke kamar dulu," pamitnya lagi sebelum dirinya benar-benar meninggalkan Tiffa.


Tiffa tersenyum, untuk kesekian kalinya dia bersyukur masih bisa melihat cucu-cucunya tumbuh besar bahkan sampai menikah.


"Apa Kak Alno beneran nemuin Kimmy. Kenapa tadi buru-buru sekali? Apa sebegitu pentingnya Kimmy bagi Kak Alno, hingga bahkan Kak Alno sampai meninggalkan aku demi dirinya?" Gumam Vira dan tanpa sadar air mata menetes begitu saja.


Karena kelelahan menangis Vira akhirnya terlelap begitu saja. 


Sret 


Suara pintu dibuka bahkan tidak mengusik tidur Vira. Alno pandangi wajah istrinya yang sembab, di usapnya sisa air mata sambil menyingkirkan helaian rambut yang menutupi sebagian wajah cantik itu.


"Maafkan Kakak karena sudah membuatmu menangis seperti ini, Kakak tidak mau melibatkanmu dengan masalah ini takut kamu cemas sayang, terlebih lagi Kakak tidak ingin terjadi sesuatu padamu," Alno mencium kening Vira cukup lama.


Kelopak mata Vira bergerak, terlihat Vira mengerjapkan matanya, menyesuaikan pandangan dengan cahaya yang menyinari kamarnya.

__ADS_1


"Kak Alno sudah pulang?" Vira bangun dan duduk menatap Alno yang menatapnya.


"Maaf Kakak udah ganggu tidur kamu, kamu tidur lagi aja, Kakak mau membersihkan diri dulu ya," Alno beranjak, tapi Vira menahan tangan suaminya.


"Kakak sudah makan?" 


Alno menggeleng, dirinya memang belum makan, kejadian tadi sudah menguras waktunya hingga dia tidak kepikiran untuk makan.


"Ya sudah aku siapkan makan untuk Kakak ya," kata Vira yang akan turun dari tempat tidurnya.


"Tidak perlu, kamu istirahat saja, biar nanti Kakak minta tolong pada pelayan," ucap Alno yang kasihan melihat istrinya masih mengantuk.


Vira mendesah kecewa, dirinya melepas tangan Alno kembali membaringkan badannya membelakangi Alno.


"Ra, kenapa?" Alno kembali duduk di tepi ranjang, ketika melihat bahu istrinya bergetar. Alno yakin jika saat ini Vira kembali menangis.


"Sayang kenapa menangis?" Tanya Alno yang kini bisa mendengar isakan istrinya. Alno menarik tubuh Vira, agar dia bisa melihat wajah sang istri.


Berhasil kini posisi Vira sudah telentang dan Alno bisa melihat wajah istrinya yang sudah di banjiri air mata.


Alno ikut berbaring dan memeluk istrinya. "Jangan menangis please! Maaf kakak sudah membuat kamu menangis," ucap Alno pelan kini posisi mereka sudah saling berhadapan.


Alno memeluk Vira erat, "Kenapa? Apa karena kakak tadi pergi? Oke Kakak salah, kakak minta maaf, kakak tadi sudah pergi ninggalin kamu cukup lama, jangan menangis lagi, ya?" Alno mengusap punggung istrinya.


"Sudahlah, Kakak sana mandi dulu! Aku  tidak apa-apa," jawab Vira yang mendorong tubuh Alno menjauh.


"Sayang?"


"Benar Kak, aku tidak apa-apa," kata Vira mencoba tersenyum sambil menghapus air matanya.


"Sudah sana!" Perintah Vira yang melihat suaminya tidak juga beranjak.


Alno menghela nafasnya, "Ya sudah, Kakak mandi dulu ya," ucapnya kemudian mencium kening Vira dan Vira spontan memejamkan mata.


Begitu Alno masuk ke dalam kamar mandi, Vira turun dan menuju ke dapur untuk memanaskan makan malam untuknya dan juga sang suami.


Sementara Alno di kamar mandi, shower menyala mengguyur badannya yang masih mengenakan celana panjang.


Alno menyugar rambutnya ke belakang, perkataan Alma kembali teringat, "Kak, apa tidak sebaiknya Kakak sudahi hubungan Kakak dengan Kimmy, Kakak tahu jelas, maksud dia mendekati Kakak. Sangat berbahaya mempertahankan dia di sekitar Kakak, terlebih lagi Kak Alno sudah menikahi Kak Vira, Kak Alno seharusnya bisa menjaga perasaannya, tidak ada seorang istri yang baik-baik saja, jika suaminya dekat dengan wanita lain yang bukan siapa-siapanya, ya walaupun Kak Alno bilang jika Kakak menganggapnya adik, tapi kenyataan tidak bisa diubah jika dia hanya orang asing Kak, oke aku percaya mungkin Kakak tidak akan jatuh cinta padanya, tapi bagaimana jika terjadi yang sebaliknya? Bagaimana jika dia yang jatuh cinta pada Kakak? Kakak pikirkan hal itu baik-baik, jangan sampai alasan kakak itu menjadi bumerang bagi rumah tangga sendiri."

__ADS_1


Argh


Teriak Alno mengusap wajahnya kasar, Alno harus segera menyelesaikan ini semua.


__ADS_2