
"Baiklah Pa," jawab Alno setelah cukup lama berpikir.
"Bagus, mulai besok kamu ikut Papa ke kantor, dan.." Stevano menjeda ucapannya.
"Kamu harus menahan diri Al, sampai kalian benar-benar sudah menikah, Papa tidak ingin hal ini terjadi lagi, dan jelaskan pada Vian kebenarannya, Papa yakin dia akan menjaga Vira dan menjauhkannya darimu, jika dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Maaf Pa, Ma, tapi Alno bersumpah, Alno dan Vira tidak melakukan apapun tadi malam, kita hanya tidur," jawab Alno yakin.
"Iya sekarang, dan kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi nanti, jadi jangan kecewakan Papa dan Mama," Stevano kemudian menepuk pelan bahu Putranya dan meninggalkannya. Tanpa Alno menjelaskan baik Stevano dan Jasmine tahu jika tidak terjadi apa-apa diantara mereka, tapi tetap saja mereka harus memperingati Alno tentang itu.
Jasmine kini mendekat menghampiri putranya, diraih dan digenggamnya tangan sang putra sambil tersenyum penuh kelembutan.
"Kita obati dulu sayang lukamu," kata Jasmine kemudian menuntun putranya untuk duduk di atas tempat tidur Vira, Jasmine kemudian berjalan menuju tempat dimana kotak p3k di simpan, diambil dan dibawanya. Jasmine duduk dan mulai mengobati luka pada wajah Putranya dengan pelan.
Alno meringis, tapi berusaha untuk tetap tenang.
"Kamu harus lebih berusaha sayang, kamu tahu kenapa Vira belum bisa menerimamu? Karena dia belum yakin, jadi bikin dia yakin dan percaya bahwa kamu benar-benar mencintainya, Mama yakin dia akan luluh dan menerimamu. Tapi ingat, jangan pernah buat Putri Mama menangis, boleh buat menangis tapi karena bahagia, dan juga jangan buat Putri Mama kecewa dan terluka, karena Mama tidak tahu harus berbuat apa, jika sampai hal itu terjadi, karena kalian berdua anak-anak Mama, Mama menyayangi kalian tanpa membedakan. Jika kamu salah Mama akan menegurmu dan begitu sebaliknya, jika Vira yang salah Mama juga akan menegurnya. Perjuangan kamu masih panjang sayang, dan jangan sampai lengah, bahwa kehidupan pernikahan tidak seindah yang kalian bayangkan, kadang ada sesuatu yang mengujinya dan itu tergantung bagaimana kalian nanti menghadapinya. Tapi Mama berharap kalian akan bisa melewatinya dengan baik, berpisah selama 6 tahun itu pasti membuat ada jarak di antara kalian, jadi hilangkan jarak itu dulu, untuk membuat Vira yakin akan cintamu," ucap Jasmine dengan tatapan teduhnya setelah mengobati luka Alno.
Alno memeluk Mamanya, "Terima kasih Ma, karena mendukung Alno, terima kasih Mama sudah merawat dan membesarkan Alno dengan baik, terima kasih, sudah melahirkan gadis yang cantik dan menempatkannya di sisi Alno. Alno janji tidak akan mengecewakan Mama dan Papa, Alno janji tidak akan menyakiti dan membuatnya terluka, Alno akan menjaganya seperti selama ini Mama dan Papa menjaga kami selama ini."
__ADS_1
"Bukan Mama tidak percaya sama Alno, tapi boleh Mama minta sesuatu pada Alno?" Tanya Jasmine menatap putranya setelah pelukan itu terlepas.
Alno mengangguk tanpa ragu.
"Alno jangan banyak berjanji ya, terutama pada Vira, cukup berusaha aja, kita kadang tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya, kadang ada sesuatu yang datang tiba-tiba tanpa kita duga, yang membuat kita tidak bisa menepati janji, walaupun terkadang itu demi orang yang kita sayang, tapi nyatanya hal itu justru tanpa sengaja membuat orang yang kita sayang terluka, maukan turuti keinginan Mama ini?" Tanya Jasmine yang kini sudah menggenggam erat tangan putranya.
Alno terdiam mencerna apa yang Mamanya katakan, kemudian Alno pun mengangguk, "Iya Ma, Alno akan berusaha, terima kasih karena Mama sudah mengingatkan Alno untuk yang satu ini, apa yang Mama katakan benar, Alno tidak boleh membuat orang yang kita sayang terbuai pada janji-janji yang kita ucapkan, karena kita tidak pernah tahu apa kita bisa menepati janji itu atau tidak kedepannya," ucap Alno. "Alno akan mengingat apa yang Mama katakan hari ini," tambahnya lagi dengan tersenyum.
"Dan seperti kata Papa tadi, jangan sampai Alno lepas kendali, walaupun kalian saling cinta, tapi kalian belum sah untuk melakukan hal seperti itu, Alno ngerti kan maksud Mama?"
"Alno mengerti Ma, Alno tidak akan melakukannya lagi, dan Alno tidak akan melanggar apa yang Papa dan Mama selalu ajarkan kepada kami," Alno kembali memeluk Jasmine.
"Alno menghela nafas, Alno akan berusaha Ma, tapi Alno juga tidak bisa mengabaikan Kimmy begitu saja, Kakak Kimmy sudah menitipkan Kimmy pada Alno," ucap Alno lirih.
Jasmine tidak bisa berkata-kata lagi, menghela nafas kemudian menepuk pelan bahu putranya. "Mama harap kamu bisa mengambil langkah yang benar di saat ada situasi terdesak yang membuatmu harus memilih, dan jangan sampai kamu menyesali keputusan yang kamu ambil," ucap Jasmine kemudian, dan meninggalkan Alno yang sedang berpikir apa maksud Mamanya berkata seperti itu.
"Mama sebaiknya kita makan dulu, tidak perlu menunggunya," kata Vian begitu melihat Mamanya.
Jasmine tersenyum, "Ya sudah kamu makan saja sayang, nanti kamu terlambat," kata Jasmine pada putranya itu.
__ADS_1
Tanpa banyak bicara lagi, Vian pun langsung memakan makanannya.
Vier menatap Mamanya, lewat tatapannya Vier seolah bertanya apa yang terjadi, setelah tadi menanyakan kepada Papanya, tapi Stevano hanya mengedikkan kedua bahunya, yang berarti Vier tidak mendapat jawaban dari pertanyaannya.
Jasmine tersenyum dan memberikan isyarat akan menjelaskannya nanti. Vier mengangguk seakan tahu apa yang Mamanya katakan.
Zeline masih acuh, dan fokus pada makanannya. Sementara Kimmy menatap keluarga itu satu persatu, dengan tatapan tak mengerti, Vira juga diam, sibuk dengan pikirannya.
Tak lama Alno datang. Melihat wajah Kakaknya, kini Vier sedikit tahu apa yang terjadi, tapi Vier ingin tahu detailnya, dan dia akan menunggu Mamanya menjelaskannya.
Vian langsung memalingkan wajahnya saat Alno menatapnya, Vian masih kesal pada Kakaknya yang satu itu, menurutnya Alno benar-benar sudah keterlaluan.
Suasana ruang makan kembali menegang, setelah tadi apa yang terjadi di kamar Vira, hawa dingin sangat terasa di ruangan itu, Stevano dan Jasmine sama-sama menghela nafas panjang.
Suasana semakin mencekam saat Kimmy tiba-tiba bangun dan mendekat ke arah Alno, kemudian meraih wajah pria itu dan mengecek setiap inci wajah pria di hadapannya.
"Apa yang terjadi? Kenapa bisa seperti ini Rae?" Ucap Kimmy penuh kekhawatiran.
Vira yang mendengar dan melihat itu, membanting sendok dan garpunya kemudian keluar meninggalkan ruang makan dengan orang-orangnya yang tampak saling pandang satu dengan yang lain.
__ADS_1