
"Tadi mobil siapa?" Tanya Alno ke Vira yang masih ada di depan mengantarkan Ken dan adik-adiknya.
Vier sudah masuk lebih dulu, bilangnya mau tidur siang, dan Vira hanya mengiyakan saja.
Bukan menjawab pertanyaan Alno, Vira justru memandangi seseorang di samping Alno dengan barang belanjaannya.
Kimmy tersenyum, "Aku sama Rae habis belanja," beritahunya pada Vira.
"Oh," kata Vira mengangguk-anggukan kepalanya lalu berlalu meninggalkan keduanya.
"Vira tunggu! kamu belum menjawab pertanyaan Kakak," Alno menahan pergelangan tangan Vira yang hendak berlalu.
"Siapa tadi yang datang? Jangan bilang kamu membawa pria kemari disaat tidak orang di rumah ini," ucap Alno marah.
"Kata siapa tidak ada orang, disini ada Bibi, apa Bibi bukan orang?" Jawab Vira tenang.
Kimmy menatap Vira dan Alno, "Aku ke kamar dulu," pamitnya pada mereka berdua memberi keduanya waktu untuk mengobrol.
"Lepas Kak!" Kata Vira mencoba melepaskan cekalan tangan Kakaknya.
"Vira kamu kenapa sih? Jangan kekanak-kanakan! Sebelumnya kamu tidak pernah seperti ini, jangan bilang ini masih karena Kimmy, kakak sudah jelaskan sama kamu semuanya, kenapa kamu tidak mengerti?" kata Alno dengan nada tinggi.
Vira menatap Kakaknya dengan penuh amarah, dengan sekuat tenaga dia menepis tangan Kakaknya dan Vira akhirnya berhasil.
"Kakak masih bertanya aku kenapa, seharusnya aku yang bertanya Kakak itu kenapa? Aku kekanak-kanakan ya memang, terus kenapa? Dan ya sebelumnya aku tidak seperti ini, mau tahu kenapa? Dulu aku biasa-biasa saja, karena aku tidak memiliki perasaan apapun pada kakak, dan sekarang..," teriak Vira, dirinya menarik nafas sebentar, menjeda ucapannya yang terasa tercekat di tenggorokan.
"Semua sudah berubah Kak, semua tidak seperti dulu, bahkan perasaanku ke Kakak sudah berubah, dan salahkah aku tidak suka melihat Kakak bersama perempuan lain, disaat ada rasa cinta dihatiku untuk Kakak, bagaimana Kakak sendiri, bukankah Kakak juga marah jika aku bersama pria lain, kenapa aku tidak boleh?" Ucap Vira dengan suara yang mulai merendah.
__ADS_1
"Vira kakak sudah jelaskan ke kamu, semuanya sudah Kakak katakan tanpa ada yang kakak tutupi, apa kamu belum juga mengerti," Alno mengusap wajahnya frustasi, dia tidak menyangka jika Vira akan bereaksi seperti ini.
"Ya, Kakak memang sudah menjelaskan semuanya, tapi Kak..," sudahlah, aku lelah membahas ini berulang kali, dan akhirnya masih sama, terserah Kakak aja," Vira kali ini benar-benar meninggalkan Kakaknya.
Vira berlari menaiki anak tangga, menuju ke kamarnya, ditutup pintu dan di kuncinya, tubuh Vira meluruh begitu saja, tubuhnya masih bersandar pada pintu.
Vira menepuk dadanya yang terasa sesak. "Kenapa rasanya seperti ini? Sakit, sakit sekali," Vira mendongak berharap air mata yang sudah penuh di pelupuk matanya tidak terjatuh.
"Apa Kak Alno tidak tahu, apa Kakak begitu bo*doh sampai tidak tahu jika aku sakit melihatnya bersama perempuan lain, kenapa Kak? Kenapa kakak tidak mengerti perasaanku?" Air mata yang ditahan Vira sedari tadi nyatanya kini terjatuh juga, Vira tidak bisa menahannya lagi.
Apalagi saat tadi Alno sampai semarah itu, Alno yang selalu berbicara lembut, bahkan tadi sampai berbicara dengan suara tinggi padanya.
Tok
Tok
Brak
Brak
"Vira buka dulu! Kakak bisa jelaskan semua, ini tidak semua yang kamu pikirkan, Kamu dengerin Kakak dulu sayang, Kakak minta maaf karena tadi sudah membentakmu, Vira sayang please buka pintunya!" Ucap Alno yang tiada henti-hentinya mengetuk kamar Vira.
Tak lama pintu terbuka, tapi bukan pintu kamar Vira, melainkan pintu dari kamar sebelahnya, pintu kamar Alno. Di situ Alno berdiri dengan melipat tangannya di depan dada menatap Alno dengan tajam.
"Sudah puas, itu salahmu Kak! Kakak egois, Kakak ingin dimengerti tapi Kakak sendiri tidak mau mengerti perasaan Vira," Vier tersenyum sinis.
"Vier, Kakak sudah bilang ke kamu, Kakak berhutang nyawa Vier, Kakaknya meninggal karena Kakak, Kakak hanya memenuhi keinginan terakhirnya untuk menjaga dia Vier," Alno benar-benar frustasi, dirinya tidak tahu lagi harus berbuat apa. Alno akui dirinya salah, tapi dia juga tidak bisa mengabaikan Kimmy begitu saja, setelah mengingat bagaimana dia bercerita tentang hidupnya selama ini.
__ADS_1
"Ya aku tahu itu, tapi apa Kakak tidak sadar dengan sikap Kakak yang terlalu baik padanya, bisa menumbuhkan harapan padanya, bagaimana jika dia salah mengartikan kebaikan yang Kakak berikan padanya, dan berakhir dengan dia jatuh cinta pada Kakak? Coba Kakak pikirkan hal itu sebelum bertindak, tidak ada yang murni hubungan antara laki-laki dan perempuan, karena bisa dipastikan jika salah satunya memiliki perasaan, dan jika bukan Kakak orangnya, bisa saja dia kan?" Sekarang Kakak coba renungkan apa yang tadi sudah aku katakan," Vier kemudian kembali menutup pintu kamarnya.
Alno terdiam dengan segala pikiran yang memenuhi otaknya. Kepalanya yang menunduk dia sandarkan pada pintu kamar Vira yang masih tertutup.
Tok
Tok
Kini ketukan pintu terdengar melemah, Vira mencoba menahan dirinya agar tidak mudah luluh.
"Vira maafkan Kakak, Vira please! Kakak tau Kakak salah. Sekarang buka pintunya!" Alno terus saja memohon agar Vira mau membuka pintu untuknya.
"Pergilah Kak, aku mau istirahat!" Secarik kertas keluar dari celah bawah pintu.
"Vira ada yang ingin Kakak bicarakan dulu," Alno berteriak menjawab tulisan dari Vira.
"Kakak, aku mau istirahat, tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan," Alno membaca kertas kedua yang diberikan oleh Vira.
"Vira jangan seperti ini!"
Beberapa waktu menunggu, Alno tidak lagi mendapatkan jawaban dari Vira.
Alno menghela nafas berat, dan akhirnya pergi dari sana menuju ke kamarnya. Alno menutup pintu dan menguncinya, pikirannya benar-benar sangat lelah.
Alno merebahkan dirinya di atas ranjang dengan posisi telentang, tangan kiri dilipat sebagai bantalan dan tangan kanannya terlipat di atas dahinya, Alno menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong, "Maafkan Kakak Vira, Kakak sungguh-sungguh minta maaf," gumam Alno memejamkan matanya.
Setelah Alno mengingat sesuatu, Alno meraba-raba atas kasur mencari ponselnya yang tadi di lemparnya dengan asal. Alno mencari nomor ponsel seseorang dan langsung menghubunginya. Alno duduk bersandar sembari panggilan ponselnya terjawab, hingga tak lama panggilan pun terhubung, dan Alno terlihat berbicara serius dengan orang di seberang telepon, sesekali Alno mendengarkan dengan ekspresi yang berubah-berubah kadang terlihat mengernyitkan dahi, marah, dan sedih. Setelah berbicara hampir 10 menit, panggilan pun berakhir, Alno kembali melempar asal ponselnya.
__ADS_1
Alno kembali memejamkan matanya, berharap semua akan baik-baik saja, terutama hubungannya dengan Vira, Alno benar-benar tidak ingin menyakiti perasaan Vira, tapi Alno juga tidak punya pilihan lain, ada tanggung jawab yang harus dia pikul, dan Alno tidak bisa jika tidak peduli.