My Lovely Sister

My Lovely Sister
Bab 50


__ADS_3

"Alno apa maksud kamu sayang? Ada apa dengan Vira? Katakan pada Mama, tidak akan terjadi apa-apa pada Vira kan? Katakan Alno!" Jasmine mendekat dan  mengguncang tubuh putranya.


Alno menggeleng, "Alno tidak tahu Ma," lirih Alno dengan kepala menunduk, tak lama Alno kembali mengangkat kepalanya dan menatap mata Mamanya yang kini sudah meneteskan air mata.


"Ma Alno janji akan pastikan jika Vira akan baik-baik saja," kata Alno mencoba menenangkan Mamanya.


Stevano menghampiri Jasmine dan membawa ke dalam pelukannya, sementara William sudah sibuk dengan telepon yang entah dia menghubungi siapa.


"Alno pergi dulu Ma, Alno akan berusaha membawa Vira kembali dalam keadaan baik-baik saja," dengan terburu-buru Alno melangkah.


"Mama mau ikut mencari Vira," kata Jasmine memutuskan dan Alno hanya bisa mengangguk pasrah.


Keempat orang itu, Stevano, Jasmine, William dan juga Alno berjalan cepat menuruni anak tangga, ingin segera mencari Vira.


Saat di lantai bawah mereka bertemu dengan  Vier yang berjalan masuk bersama Zeline.


"Opa!" Teriak Zeline dan langsung memeluk William, kemudian Zeline bergelayut manja di lengan Opanya itu.


"Cucu Opa gak terasa uda sebesar ini," ucap William mengecup puncak kepala cucunya.


Vier mendekat dan mencium punggung tangan William, kemudian mengacak rambut Zeline yang masih bergelayut manja di lengan Opanya.


"Vier tinggal ke kamar dulu ya," kata Vier setelahnya.


"Kami mau pergi dulu ya sayang," kata Jasmine yang mencoba untuk tidak panik.


Vier mengangguk. Tapi Zeline malah merengek pada Opanya.


"Opa mau pulang sekarang? Kan kita baru saja bertemu, Opa disini saja ya, Zeline kan masih kangen sama Opa, jarang-jarang loh Opa datang kemari, Opa selalu sibuk dengan Alvin," ucap Zelin mengerucutkan bibirnya merasa iri pada anak Bibinya itu yang bisa begitu dekat dengan Opanya.

__ADS_1


William mengangguk, memberi isyarat pada Anak, menantu dan cucunya untuk pergi tanpanya.


Stevano yang mengerti pun pamit dan mencium pipi putrinya sebelum pergi, diikuti oleh Jasmine dan Alno yang juga melakukan hal yang sama.


Zeline membawa William untuk duduk dan mendengar ceritanya. Sedangkan Stevano, Jasmine dan Alno segera bersiap untuk keluar mencari Vira.


"Rae!" Kimmy berlari menghampiri Alno, Jasmine dan Stevano saat mereka bertemu di halaman rumah.


"Paman, Bibi!" Sapa Kimmy sopan.


Jasmine mengangguk dan tersenyum singkat, sementara Stevano hanya membalas sapaan Kimmy dengan wajah datarnya.


"Kalian mau kemana? Hmm sepertinya aku lihat sangat buru-buru," tanya Kimmy penasaran pasalnya mereka setengah berlari untuk menuju ke mobil seperti ada sesuatu yang mendesak.


"Kami akan.." saat Alno akan menjawab pertanyaan Kimmy, ponsel Alno bergetar. 


Alno kemudian menghubungi orang kepercayaannya tapi sayangnya tidak mendapatkan jawaban.


"Si*al!" Umpat Alno kemudian segera masuk ke dalam mobil, Stevano dan Jasmine juga ikut masuk, begitupun dengan Kimmy yang ikut masuk dan duduk di samping Jasmine yang ada di belakang, sementara Stevano duduk di samping putranya.


"Kenapa?" Tanya Stevano begitu mereka sudah di dalam mobil.


Alno memberikan ponselnya kepada Papanya, rahang Stevano mengeras dengan wajah yang memerah, menahan marah. Jasmine yang melihat Suaminya saat ini, seperti melihat Stevano yang dulu. Dan Jasmine yakin ada sesuatu di ponsel Alno hingga membuat Suaminya seperti itu.


"Sayang ada apa?" Tanya Jasmine yang semakin khawatir.


"Kita akan tahu setelah sampai," jawab Stevano menutup wajahnya, dia merasa gagal menjaga Putrinya.


"Kamu sudah tahu Al dimana Vira?" Tanya Jasmine merasa sedikit lega, tapi juga merasa begitu cemas entah karena apa, apalagi saat melihat wajah Suami dan Putranya.

__ADS_1


"Iya Ma, tapi Alno mohon Mama jangan terkejut dan tetap tenang ya, jangan sampai Vira merasa bersalah dan menyalahkan dirinya sendiri," kata Alno mencoba tenang, walaupun sejujurnya dalam hatinya Alno tidak bisa bersikap seperti itu.


Alno menoleh ke arah papanya yang masih menutup wajah dengan kedua tangannya, tubuh Stevano bergetar, Alno yakin Papanya kini menangis, dan Alno baru melihatnya kali ini.


"Maafkan Alno Pa, bukan Papa yang gagal, tapi Alno, Alno.." ucap Alno dalam hati sampai kehabisan kata-kata tidak tahu harus mengatakan apa-apa lagi, sungguh dirinya merasa bersalah. Seharusnya Alno tadi mengejarnya, kalau tidak Alno bisa saja mengikutinya dan mengawasi dari jauh, tapi Alno lebih memilih menyuruh orang kepercayaannya, Sungguh Alno menyesal. Tapi apa gunanya menyesal sekarang, disaat semuanya sudah terlanjur terjadi, benar kata yang mengatakan bahwa penyesalan itu terjadi belakangan, ya seperti yang saat ini tengah Alno rasakan.


Alno melirik Kimmy yang ada di belakang, dia tampak diam sambil menatap semua orang satu persatu dengan raut bingung, tapi Alno tidak ingin menjelaskan, walaupun mungkin dia nanti akan bertanya. 


Alno mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, yang dia inginkan saat ini adalah segera sampai di tempat Vira berada, Alno ingin segera merengkuh tubuh gadisnya, tiba-tiba Alno menggeleng, yakinkah Alno jika Vira sekarang masih gadis, apalagi setelah melihat foto-foto yang orang asing kirimkan dimana Vira tertidur lelap di bawah selimut? Bahkan Alno bisa menebak jika dibawah selimut itu hanya ada tubuh polos Vira.


Alno memukul setirnya saat mengingat foto itu, sampai-sampai ketiga orang lainnya di dalam mobil terlonjak karena begitu terkejut.


"Brengsek! Aku akan pastikan jika menemukanmu, akan aku kirim langsung ke neraka," ucap Alno tersenyum sinis seperti Iblis. 


Kimmy bahkan bergidik ngeri saat melihat Alno seperti itu, sosok Alno yang lain yang tidak pernah Kimmy lihat.


Stevano juga mengepalkan tangannya erat, seakan ingin menghabisi orang itu dengan tangannya langsung, kali ini dia tidak akan membiarkan orang itu bebas setelah apa yang dia lakukan pada Putrinya.


.


.


"Akh!" Vira menjerit saat menyadari bahwa dirinya tidak mengenakan pakaian apapun. Vira begitu panik hingga tanpa sadar air matanya terjatuh begitu saja.


"Kenapa? Kenapa ini harus terjadi padaku? Apa salahku? Siapa kau sampai melakukan ini padaku? Argh!" Teriak Vira meremas rambutnya sendiri cukup kuat hingga di telapak tangannya dipenuhi rambutnya yang rontok. 


Vira terus menangis dan menangis tanpa henti, sia-sia dia menghapus air matanya karena air mata yang lain terus turun tanpa mau berhenti.


Vira bangun dan memeluk lututnya, mengeratkan selimut untuk menutupi tubuh polosnya, Vira kini semakin terisak, Vira berusaha mengingat yang terjadi yang ada hanya kepalanya yang semakin sakit, Bahkan tangan Vira tidak mau turun dari kepalanya, terus menarik rambutnya benar-benar merasa frustasi karena rasa sakit dan dadanya yang terasa sesak. Hingga tiba-tiba ada orang yang mendobrak pintu, hingga membuat Vira semakin mengeratkan selimut di tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2