My Lovely Sister

My Lovely Sister
Bab 70


__ADS_3

"Calista? Ada apa dengan Calista? Apa kau bertemu dengannya hingga kamu mengenalnya?" Tanya William begitu terkejut saat mendengar Alno menyebut nama Calista, entah darimana cucunya itu mengenal Calista.


Alno pun menceritakan semuanya, William mengangguk mengerti.


"Tapi Nak, Calista adalah wanita yang baik, kurasa tidak mungkin.."


"Alno akan menyelidikinya Opa, tapi bisakah Opa beritahukan ada masalah apa antara keluarga kita dengan Calista?"


"Calista itu…," William menerawang jauh menceritakan semua yang dia tahu kepada cucunya siapa Calista, orang tuanya, dan ada hubungan apa antara Calista dan keluarga mereka. tanpa terlewat sedikitpun.


"Begitulah Nak ceritanya," William menatap cucunya begitu usai menceritakan apa yang ingin cucunya ketahui. 


Alno kini sudah sedikit mengerti setelah mendengar cerita William dan mungkin karena hal itulah yang membuat Kimmy memiliki dendam pada keluarganya.


Kini Alno sudah memiliki beberapa bukti dan saksi, Alno ingin segera menuntaskan masalah ini, dia tidak ingin berlarut-larut dengan masalah yang membuatnya harus menguras pikiran dan tenaga, bahkan harus rela mengorbankan perasaan orang-orang disekitarnya. Alno harap semua bersabar, bukan hanya orang-orang yang ada di sekitarnya yang menginginkan hal ini cepat selesai, karena Alno pun juga ingin begitu. 


William menepuk bahu Alno, "Opa tahu, kamu bisa menyelesaikan semuanya, ayo keluar Oma sama istrimu pasti sudah menunggu kita," William beranjak dari duduknya dan keluar terlebih dahulu meninggalkan Alno dengan berbagai macam pikiran.


Seseorang menggenggam tangan Alno, membuat Alno terkejut dan langsung menoleh ke sampingnya.


"Sayang? Sejak kapan berada disini?" Tanya Alno pada Vira yang tiba-tiba sudah duduk di sampingnya.


"Dari tadi, Kakak melamun lagi? Apa ada masalah? Jika ada Kakak bisa menceritakannya padaku, bukankah sepasang suami istri seharusnya saling berbagi, terbuka dan tidak menutupi apapun," ujar Vira menatap suaminya.


"Sayang apapun yang terjadi kedepannya kamu harus selalu percaya pada Kakak ya, kamu harus yakin jika Kakak melakukan ini demi kita semua, ada hal yang Kakak pikirkan tapi Kakak tidak bisa menceritakan semuanya sekarang, pelan-pelan dan Kakak janji akan menceritakan semuanya tanpa menutupi apapun," Alno membawa Vira ke dalam pelukannya, pelukan yang membuatnya merasa tenang.


"Sudah siap?" Tanya Alno melonggarkan pelukannya.

__ADS_1


"Hmm iya, tadi Opa dan Oma langsung pergi, Oma minta maaf karena tidak berpamitan langsung pada Kak Alno, karena sedari tadi Kak Alno ditungguin tidak datang-datang," cerita Vira tentang apa yang terjadi sebelum dirinya memutuskan menyusul suaminya.


"Oh iya tidak apa-apa, Kakak yang harusnya minta maaf pada Oma, ya sudah ayo!" Alno meraih tangan Vira dan menggandengnya keluar, menuju mobilnya untuk pulang ke kediaman Stevano yang ada di pinggiran kota.


Para pelayan hanya menunduk hormat setiap berpapasan dengan anak-anak Tuan dan Nyonya itu, jarang sekali mereka datang dan hanya disaat-saat tertentu saja.


Alno langsung menjalankan mobilnya untuk segera pulang. Alno menyalakan musik, dan sepanjang perjalanan mereka habiskan waktu dengan bernyanyi bersama, hingga tak terasa, mobil yang Alno kendarai sudah ada di pelataran rumah orang tuanya.


Alno turun lebih dulu, kemudian berlari kecil membukakan pintu untuk istrinya. 


"Terima kasih," ucap Vira tersenyum dan keduanya kini tampak berjalan bersama memasuki rumah.


Rumah tampak sepi, jelas saja karena di jam segini biasanya, semua orang di rumah itu melaksanakan aktivitasnya masing.


Pelayan di rumah itu berlari tergopoh-gopoh menyambut kedatangan Alno dan Vira. Pelayan memberikan isyarat pada Alno, jika ada hal yang ingin diberitahukannya. Alno yang mengerti isyarat itupun mengangguk.


"Hmm ya sudah," jawab Vira yang kemudian dirinya langsung menaiki anak tangga menuju ke lantai atas.


Sesampai di depan kamar, Vira tampak bingung, Vira berjalan mondar-mandir di depan pintu dari yang satu ke pintu yang di sebelahnya.


"Ke kamar yang mana ya? Kamarku atau kamar Kak Alno," gumam Vira yang masih saja menimbang ke kamar mana dirinya akan masuk, setelah berpikir cukup lama, Vira pun memutuskan untuk memasuki kamarnya, bagaimanapun semua barangnya masih ada di kamar miliknya.


Sementara itu, Alno mengajak pelayan yang selama ini dia tugaskan memata-matai Kimmy ke belakang rumah.


"Tuan, tadi Nona Kimmy tadi pagi-pagi sekali, setelah mendapatkan telepon langsung pergi begitu saja, dan sampai sekarang belum kembali, saya tidak mengikutinya karena saya kira dia akan kembali lagi, ternyata dia sudah membawa barang-barangnya hingga tidak ada yang tersisa. Maafkan saya Tuan, saya benar-benar tidak tahu," lapor pelayan itu yang  merasa bersalah karena tidak menyadari Kimmy yang pergi dari rumah.


Alno menghela nafasnya perlahan dan mencoba tersenyum, bagaimanapun Alno tidak bisa menyalahkan pelayan itu sepenuhnya, karena mereka juga harus melakukan tugasnya sendiri, tidak hanya tugas yang Alno berikan.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Bi, saya yakin akan menemukannya kembali walaupun harus mencari ke lubang semut sekalipun."


"Ya sudah Tuan, kalau begitu saya permisi dulu," pelayan itu pun pamit dan kembali melakukan tugasnya.


*


*


"Kakak!" Teriak seorang gadis yang melihat tubuh seorang lelaki yang tergeletak di jalanan dengan banyak cairan merah di kepalanya.


Tiba-tiba seseorang mendekapnya dari samping, dekapan yang kedua kalinya dia dapatkan, selain pria yang tergeletak itu, dekapan hangat oleh dua orang itu yang tidak dia dapatkan dari siapapun termasuk keluarganya sendiri. 


"Maafkan aku, maaf, ini semua salahku, jika saja dia tidak menolongku, dia pasti…" seorang pria yang mendekap gadis itu benar-benar merasa bersalah. Bahkan gadis itu dapat merasakan tubuh pria yang mendekapnya gemetar hebat.


Isak gadis itu terdengar menyayat saat pria yang tadi mendekapnya melepaskan pelukan dan menggenggam tangan lelaki yang dipanggilnya Kakak, setelah kakaknya tadi meminta pria itu untuk menjaganya. Hingga tangan Kakaknya terkulai begitu saja.


Tangis gadis itu semakin kencang kala mengantarkan kepergian lelaki dengan kepala yang dia letakkan di atas kedua pahanya. Tidak peduli jika pakaian yang dikenakan ikut kotor karena cairan berwarna merah itu.


"Kenapa? Kenapa kau meninggalkanku sendiri Kak? Kenapa kau tega, aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi," gadis itu menangis tersedu-sedu.


"Aku janji, aku akan menjagamu seperti pesan yang disampaikannya, kamu tidak perlu khawatir, kamu tidak seperti apa yang kamu katakan tadi, kamu tidak sendiri, aku akan menjadi keluargamu, dan keluargaku juga akan menjadi keluargamu," ucap pria itu dengan sungguh-sungguh untuk menebus rasa bersalahnya.


Gadis itu menoleh, dan menatap pria disampingnya. Bola mata yang kini memancarkan sorot kesedihan itu menatap penuh harap, bahwa dia akan mendapatkan seperti apa yang pria itu katakan.


"Namaku Raefalno, kamu juga bisa menganggapku sebagai Kakakmu," ujar pria itu memperkenalkan dirinya.


 

__ADS_1


__ADS_2