My Lovely Sister

My Lovely Sister
Bab 74


__ADS_3

"Kenapa Ma?" Bisik Vira pada Jasmine sebelum akhirnya duduk di sebelah Mamanya.


"Mama tidak tahu, sepertinya Vier gugup, selain itu Mama perhatikan Vier juga terlihat gelisah," Jasmine menjawab Vira dengan suara yang dibuat sepelan mungkin.


"Kenapa? Gugup?" Tanya Alno menepuk pelan bahu Vier dan duduk di sampingnya.


"Nih hapus keringatmu!" Vira memberikan kotak tisu pada saudaranya.


Vier pun langsung menerima dan menghapus keringat yang bercucuran menetes dari dahinya. Jujur dirinya benar-benar gugup saat ini padahal selama ini dirinya selalu bisa mengatasi dengan mudah kegugupannya tapi tidak untuk saat ini. 


Vier terus menatap jam di dinding, jarum panjang jam terus berjalan bahkan jarum pendek pun ikut bergerak perlahan, tapi orang yang mereka tunggu-tunggu dari sejam yang lalu tidak juga datang, bahkan masakan hasil tangan lincah Mamanya pun kini telah dingin.


Vier menyalakan ponselnya, tidak ada satupun pesan yang masuk.


"Coba kamu hubungi!" perintah Jasmine pada putranya.


"Tidak aktif Ma," ucap Vier putus asa karena sudah berkali-kali menghubungi Sheira tapi nomor ponsel kekasihnya justru tidak aktif.


Stevano dan Jasmine saling pandang, begitupun Alno dan Vira. Baru kali ini mereka melihat Vier sekacau ini.


Jasmine bangun dari duduknya menghampiri Vier yang duduk di seberangnya.


"Sayang mungkin Sheira berhalangan untuk hadir, dia mungkin ada kepentingan mendesak yang tidak bisa ditunda, jadi dia tidak bisa kemari, tidak apa-apa lain kali kita bisa adakan pertemuan lagi, jangan sedih seperti itu dong," ucap Jasmine memeluk putranya.

__ADS_1


Jasmine memberi isyarat putrinya agar memanaskan makanan, Vira pun langsung beranjak dengan dibantu suaminya memanaskan semua makanan yang tersaji di atas meja.


"Sekarang kita makan ya!" Ucap Jasmine melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Vier menghapus air mata yang entah sejak kapan mengalir membasahi wajah tampan putranya.


"Dia sepertinya memang tidak ada niat menjalani hubungan yang serius dengan Vier, jika dia tidak mau, kenapa tidak katakan sedari awal saja, maafkan Vier Ma, maaf padahal seharian ini Mama sudah meluangkan waktu Mama untuk menyiapkan semua ini, tapi dia sama sekali tidak menghargai kerja keras Mama, dia membatalkan janji bahkan tidak memberi kabar apapun," air mata Vier kembali jatuh apalagi saat mengingat bagaimana usaha dia untuk membujuk kekasihnya, dan betapa senangnya dia setelah akhirnya Sheira menghubunginya dan mau bertemu dengan keluarganya.


Tapi semua akhirnya sia-sia, perjuangannya, usaha keras Mamanya dan juga waktu yang sudah diberikan keluarganya untuk menyambut kedatangannya. Untung saja Vier tidak menghubungi Kakek Nenek, ataupun Oma dan Opanya untuk ikut hadir, jika hal itu terjadi, Vier tidak tahu lagi harus menghadapinya dengan cara apa.


Semua kini menatap Vier sendu. Mereka tidak menyangka bahwa Vier akhirnya menunjukkan kerapuhannya.


"Sayang, jangan bicara seperti itu, manusia kadang hanya bisa berencana, tapi kadang pula semua berjalan tidak sesuai dengan apa yang kita rencanakan," kata Jasmine menggenggam tangan putranya.


"Sekarang kita makan ya," kata Jasmine yang melihat semua makanan sudah dipanaskan dan kembali tersusun di meja.


Jasmine kini menarik kursi di samping putranya dan duduk di sana. Kemudian mereka pun makan dengan hening, semua orang tampak sibuk dengan pikirannya masing-masing.


*


*


Saat ini istrinya sedang berdiri di balkon kamarnya.


"Kak apa Vier akan baik-baik saja setelah ini? kenapa Sheira tiba-tiba membatalkan janjinya hingga membuat Vier jadi sedih? baru kali ini Vier menangis Kak, hatiku sakit melihatnya seperti itu," Vira berucap dengan bulir bening yang kini sudah lolos dari kedua matanya.

__ADS_1


"Sayang mungkin benar apa yang Mama katakan, Sheira ada kepentingan mendesak yang tidak bisa dia tinggalkan, makanya dia tidak jadi hadir, sudah jangan dipikirkan lagi, sebaiknya kita istirahat ini sudah malam," ucap Alno membalik tubuh istrinya hingga posisi mereka berhadapan.


"Tapi dari dulu Sheira memang tidak ingin bertemu dengan keluarga kita. Vier berulang kali membujuknya tapi Sheira selalu menolaknya. Apa kakak tahu, bahkan Vier tidak pernah tahu dimana rumah Sheira. Sheira tidak ingin Vier tahu rumahnya dan Vier menghargai itu semua, seandainya mencari tahu Vier mungkin bisa saja, tapi dia tidak mau, dia tidak mau melanggar privasi yang memang diinginkan Sheira. Yang Vier tahu Sheira mempunya Kakak perempuan yang disayanginya, kakaknya yang selalu ada untuknya disaat kedua orang tuanya sibuk, hingga Kakaknya tidak sempat untuk hanya sekedar urusan pribadinya, Sheiralah yang diutamakan, tetapi saat Vier bilang Sheira akan datang, melihat senyum Vier, aku juga ikut senang, kata Vier akhirnya Kakak Sheira memiliki kekasih dan mereka belum lama ini juga bertunangan, itulah yang membuat Sheira akhirnya mau datang, karena Sheira sudah merasa tenang ada yang menjaga Kakaknya. Tapi sekarang apa? Kenyataannya Sheira justru tidak datang, membuat Vier jadi sedih, mungkin aku jadi Vier juga sama akan berpikir seperti apa yang Vier katakan tadi, bagaimana tidak, jika selama ini Sheira menolak dan akhirnya mau, tapi tiba-tiba dengan kejamnya membatalkannya begitu saja tanpa memberitahu apapun. Itu sama saja menerbangkan Vier ke langit tapi langsung menghempaskannya ke dasar bumi, perasaan Vier pasti hancur Kak. Dan hatiku ikut sakit merasakan itu semua, aku tidak rela melihat Vier di perlakukan seperti itu."


Alno memeluk istrinya, istrinya bisa mengerti perasaan Vier lebih dari siapapun, karena Vira adalah kembarannya.


"Sayang, kita tidak tahu apa yang terjadi dengannya, mungkin saja ada situasi yang membuat Sheira seperti itu, kita tidak boleh langsung berburuk sangka terhadap orang lain. Terkadang kita sering salah menilai orang lain, yang awalnya kita kenal baik, belum tentu dia benar-benar baik, dan yang kita kenal buruk, belum tentu dia benar-benar buruk, kita tidak bisa berbuat apa-apa, karena bagaimanapun, Vier lah yang menjalani ini semua, kita hanya bisa mendukung apapun keputusan Vier, apa sayang mengerti?"


Alno melepaskan pelukan dan menatap Vira dengan tatapan lembut, diselipkannya rambut Vira yang menutupi sebagian wajah cantiknya.


Vira balas menatap tatapan suaminya, dan kemudian mengangguk. "Iya Kak aku mengerti."


"Ya sudah ayo sekarang kita istirahat, besok Kakak kan harus ke kantor, ada meeting juga jam 9 pagi," Ajak Alno kepada istrinya untuk masuk ke dalam kamar.


"Ayo!" 


Keduanya pun berjalan bergandengan masuk ke dalam kamar.


"Tunggu Kak, Kakak masuk aja dulu," ujarnya pada Alno sedangkan dirinya menutup pintu yang terhubung ke balkon.


Begitu berbalik, Vira dikejutkan keberadaan Alno yang ternyata masih ada di belakangnya.


"Kak, kamu mengejutkan saja, untung saja aku tidak jantungan, tadi kan aku sudah suruh untuk masuk duluan, tapi malah masih berdiri disini," gerutu Vira sambil memegang dadanya.

__ADS_1


"Akh!" 


Teriak Vira saat suaminya yang tiba-tiba mengangkat tubuhnya dengan tersenyum, mengabaikan gerutuan dirinya.


__ADS_2