
"Akh!" Vira berteriak karena terkejut, bahkan jantungnya kini berpacu dengan cepat saat tiba-tiba ada yang memeluknya dari arah belakang.
Sementara itu orang yang memeluk Vira, menutup mulut Vira dengan telapak tangannya.
"Sayang, jangan berteriak, ini Kakak."
Vira berbalik badan sembari melepas tangan yang tadi membekapnya.
"Kak Alno? Apa yang Kakak lakukan disini?" Tanya Vira panik.
"Bagaimana jika ada yang tahu? Kak lebih baik sekarang Kakak keluar dari kamar Vira," Vira mendorong pelan tubuh Kakaknya agar keluar dari kamar.
Tapi tenaga Alno lebih besar, saat Vira mendorongnya, tubuh Alno justru masih diam di tempatnya, tidak bergeser sedikitpun.
Alno bahkan kini memeluk tubuh adiknya. "Kakak sangat merindukanmu sayang!" Kata Alno yang semakin mengeratkan pelukannya.
"Tapi Kak..
"Please sayang, biarkan seperti ini,"
Vira akhirnya pasrah dan membiarkan Alno memeluknya. Jujur Vira juga sangat merindukan pria ini.
"Sudah!" Kata Alno melepaskan pelukannya beberapa menit kemudian.
"Sudah jam dua lebih, kakak mengantuk," Alno pun kemudian berjalan ke tempat tidur berukuran Queen size milik adiknya dan berbaring di sana.
Vira melotot, dan langsung menyusul Kakaknya.
"Kakak apa yang Kakak lakukan disini? Kalau kakak mengantuk lebih baik kembali ke kamar Kakak sekarang, jangan tidur disini!" Kata Vira menggoyang-goyangkan tubuh Alno yang justru memejamkan matanya.
"Kak!" Vira sangat kesal karena perkataannya sama sekali tidak digubris oleh Alno.
"Akh!" Vira terpekik kaget karena Alno tiba-tiba menarik tangannya hingga berakhir Vira terbaring di samping Alno.
"Kakak lepas!" Vira meronta, berusaha untuk bangun.
Bukannya melepas Alno justru membalik tubuh Vira hingga menghadap ke arahnya. Menarik pinggang gadis itu membuatnya semakin menempel di badannya.
__ADS_1
"Kak!"
"Tidur sayang sudah malam, mmm maksud Kakak sudah hampir pagi," kata Alno masih dengan mata terpejam.
"Tapi Kak.."
"Jangan banyak gerak Vira!" Kata Alno yang nyaris seperti orang mengigau.
Vira langsung mematung, Vira tahu maksud Kakaknya mengatakan itu, hingga Vira pun akhirnya hanya menurut, Vira bahkan sampai menahan nafasnya agar tidak mengganggu tidur Kakaknya dengan tangan yang masih melingkar di pinggangnya. Kaki Alno juga ada diatas kaki Vira, menjadikan tubuh Vira seperti guling.
Dengan posisi sedekat itu Vira bisa dengan jelas mendengar jantung Alno yang berdebar kencang, tak hanya Alno, bahkan jantung Vira sendiri pun sudah seperti orang yang tengah lari maraton.
Beberapa menit berlalu, tapi mata Vira tak kunjung bisa terpejam, Vira pun masih betah berbaring dalam posisi yang sama dan tidak bergerak sama sekali, seperti perintah Kakaknya tadi.
Tak lama terdengar dengkuran halus dari Alno yang menandakan bahwa pria itu sudah tertidur. Ditatapnya wajah sang Kakak yang terlihat imut saat tertidur seperti itu, bahkan tanpa sadar jemari tangan Vira terangkat dan dengan perlahan menyentuh bulu mata Alno yang tampak lentik untuk ukuran seorang laki-laki.
Vira menelusuri setiap bagian dari wajah Kakaknya yang kini tampak tenang dalam tidurnya. Dari menyingkirkan rambutnya yang menutupi dahi, kedua mata, hidung serta terakhir pada bibir yang sudah beberapa kali menciumnya, mengingat kejadian itu ada semburat merah di kedua pipi Vira.
"Akh!" Ringis Vira saat jari yang masih betah singgah di bibir Alno itu digigit, siapa lagi pelakunya jika bukan Alno, karena dikamar itu hanya ada mereka berdua, dan tidak mungkin Vira menggigit jarinya sendiri, itu bukan kebiasaannya.
"Ka..kakak belum tidur?" Tanya Vira gugup.
"Kakak sudah tidur, tapi kamu malah ganggu tidur Kakak," Alno menatap Vira dengan sorot mata yang dalam.
"Ma..maaf Kak, aku.."
Belum selesai dengan perkataannya bibir Alno sudah lebih dulu mendarat di bibir Vira. Bibir gadis yang sudah menjadi candu untuknya, hingga tidak cukup hanya sekali saja mencium bibir yang bagi Alno terasa manis, bibir yang pertama kali diciumnya, dan Alno janji juga akan menjadi yang terakhir kalinya.
Vira masih mempertahankan akal sehatnya, dan mendorong bahu Alno. Pagutan bibir mereka terlepas.
"Sekarang tidurlah, Kakak janji tidak akan melakukan apapun," kata Alno menyudahi ciuman mereka, membawa kepala Vira agar berbantalkan lengannya dan tangan satunya melingkar di pinggangnya.
Vira masih menatap sang kakak tanpa berkedip. Alno kembali membuka matanya. "Tidur sayang, ini hampir jam 3 pagi. Kakak ingin tidur disini sambil memeluk kamu hanya itu saja, kalau tidak Kakak akan..." Kata Alno sengaja menggantung ucapannya sambil menatap dalam ke manik mata gadis yang ada dalam pelukannya.
Vira pun langsung memejamkan matanya, takut Kakaknya akan kembali menciumnya dan yang lebih menakutkan lagi Kakaknya akan., Vira langsung menggeleng pelan mengusir pemikiran tentang apa yang mungkin terjadi jika Vira tidak langsung tidus saat ini juga.
Alno terkekeh melihat tingkah adiknya yang langsung ketakutan atas apa yang tadi Alno katakan, dan bisa Alno tebak jika saat ini pasti adiknya sedang membayangkan apa yang tadi dikatakannya, terlihat dari Vira yang tampak menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.
__ADS_1
Dikecupnya lagi bibir Vira sekilas, sebelum akhirnya Alno kemudian ikut terpejam saat merasa Vira sudah terlelap, dan dipeluknya semakin erat tubuh Vira seakan takut terlepas.
"Have a sweet dream, Viraku sayang," Alno mengecup kening Vira lama dan kemudian dirinya memutuskan untuk menyusul Vira ke alam mimpi.
***
"Loh Kak Alno sama Vira mana? Kok belum turun? Katanya Kak Alno hari ini ikut ke kantor Papa," tanya Jasmine yang entah kepada siapa, mungkin antara Vier,Vian atau Zeline.
"Zeline sayang coba sana kamu bangunin Kak Alno dan Kak Vira!" Pinta Jasmine pada putri bungsunya.
"Biar saya saja Bi," Kimmy berdiri dan mengajukan diri.
"Tidak perlu, biar aku saja," Vian kemudian berdiri dan langsung pergi menuju kamar kedua kakaknya.
***
"Kenapa Ma?" Tanya Stevano yang sudah rapi dengan setelan jas berwarna hitam, dengan di dalamnya kemeja warna putih, dilihat Stevano masih tampak tampan, tapi masih ada yang kurang dari tampilan Stevano hari ini.
"Kenapa dasinya tidak dipakai?" Tanya Jasmine begitu melihat suaminya sudah tampak rapi tapi dasi yang harusnya menggantung di kerah kemejanya justru menggantung di lengan kanannya.
Stevano hanya tersenyum dan mendekat ke arah istrinya yang baru saja selesai menyiapkan hidangan di meja makan.
Dikecupnya kening istrinya, kemudian diberikannya dasi yang belum terpasang kepada Jasmine.
Sudah tahu apa yang harus dilakukan Jasmine langsung menerima dasi itu.
"Kan kamu bisa memasangnya sendiri sayang, dulu aja apa-apa sendiri, bahkan jika istrinya menyentuh sedikit saja langsung marah-marah pakai acara bilang "Siapa kau berani menyentuhku?" kata Jasmine sambil menirukan ucapan suaminya dulu sewaktu baru awal-awal menikah.
Stevano hanya terkekeh dan mencium pipi istri tercintanya gemas, tak berakhir di pipi saja, Stevano juga menghadiahkan istrinya ciuman di bibirnya.
"Giliran dicium saja langsung diam," kata Stevano yang langsung mendapat cubitan di pinggangnya.
"Diam, jika tidak diam, lebih baik ini pasang sendiri!" Jasmine menyerahkan dasinya dengan cemberut, bagaimana tidak, Stevani mengatakan itu di depan anak-anaknya, kan Jasmine jadi merasa malu.
"Jangan begitu dong sayang, ya sudah aku akan diam, jadi tolong pasangin ya, ya" bujuk Stevano sambil mengedipkan matanya.
Jasmine mengambil kembali dasi tadi dan memasangkannya. Saat masih fokus dengan apa yang dilakukannya, mereka semua langsung terkejut dan dibuat panik saat tiba-tiba mendengar suara ribut-ribut dari lantai atas.
__ADS_1