
"Kenapa kalian menggangguku!" Marah orang itu.
"Tuan gadis yang satunya terus berontak,"
"Buat dia diam dan bawa pergi dari tempat ini! Dia akan menjadi yang berikutnya, ingat jangan sentuh dia sebelum aku!" Peringat orang itu pada kedua orang yang bisa Alma tebak adalah bawahannya.
"Hei kau!" Pria itu memanggil petugas kebersihan. "Kau lepas semua pakaian gadis di dalam," ucapnya pada gadis itu.
"Lakukan dan diam!" Pria itu memberi uang tips, dan gadis itu segera masuk melaksanakan perintah pria itu.
"Tuan kenapa tidak Anda yang melepaskannya saja, bukankah nanti Anda akan…"
"Sudah kalian diam saja, aku tidak ingin repot-repot membukanya, sekarang kalian lakukan tugas kalian!" Setelah mengatakan itu pria itu kembali masuk ke dalam.
Bertepatan itu gadis kebersihan keluar dari dalam kamar. Alma langsung menerobos masuk dan mengunci pintu dari dalam, pria itu sedang memfoto Vira dalam yang hanya tertutup selimut.
"Siapa kau?" Teriak pria itu merasa terkejut akan kedatangan Alma.
"Tidak penting, berikan ponselmu sekarang!" Alma mencoba merebut, tapi tidak berhasil.
Pria itu tersenyum menyeringai dan menunjukkan ponselnya dari jauh, "Terlambat gadis cantik," pria itu sudah lebih dulu mengirim foto yang diambilnya.
"Rupanya kamu salah masuk ke kandang harimau, daripada kedatanganmu sia-sia, bagaimana jika kita bersenang-senang, kamu ingin lebih dulu darinya? Tidak apa-apa dengan senang hati."
"Cuih," Alma meludah di lantai, dirinya benar-benar muak mendengar ucapan pria itu.
"Wow, sepertinya kamu menantangku sayang," ucap pria itu yang mendekat ke arah Alma.
Dengan cepat Alma menendang perut pria itu, hingga pria itu kesakitan.
Alma dengan segera memungut baju-baju Vira. Tapi pria itu kembali menyerang dengan memeluk Alma dari belakang.
__ADS_1
"Ternyata kamu bersemangat juga gadis cantik," ujar pria itu tertawa.
Alma menginjak kaki pria itu cukup keras, menangkis, menyikut dan membanting tubuh pria itu hingga pria itu hingga tidak bergerak lagi.
Alma kemudian menyeret pria itu keluar, dengan susah payah akhirnya Alma berhasil membawa keluar tubuh pria itu yang sudah tidak berdaya.
"Alma kau baik-baik saja?" Robby berlari ke arah Vira dengan raut wajah khawatir.
"Kak untung kau datang, tolong bawa pria ini!" Ucap Alma meminta tolong pada Robby.
"Tapi kamu…," ucapan Robby segera dipotong Alma.
"Aku harus mengikuti dua orang lainnya kak, aku yakin belum terlalu jauh, Kak tolong ya, dan kau keluarlah!" Kata Alma yang tanpa sengaja ada yang bersembunyi di balik dinding.
"Cepat keluar!" Teriak Alma geram.
Seseorang yang dimaksud Alma segera berjalan mendekat tubuh yang gemetar dan wajah yang pucat.
"Kau mengerti tidak?" Bentak Alma dan gadis itu mengangguk dengan cepat.
Alma mengambil ponselnya ternyata mati hingga Alma meminta ponsel Robby, mengetikkan sesuatu disana dan menunjukkan wajah keluarga Vira, hingga gadis itu mengerti dan mengingatnya, setelah itu Alma mengembalikan ponsel Robby dan menepuk bahu pria itu yang sedari tadi hanya memperhatikannya.
"Kak tolong ya bawa dia, dan terima kasih, aku harus pergi dan menyelamatkan Sisil," ucap Alma yang langsung berlari menuju mobilnya untuk mengejar dua orang yang menahan Sisil.
Sedangkan Robby membawa pria yang hampir saja berbuat sesuatu kepada Vira dan Sisil bahkan Alma. Saat kepergian kedua orang tadi, gadis itu pun memutuskan untuk masuk ke dalam kamar dimana Vira berada, tapi urung saat dia mendengar suara orang berlari mendekat, membuat gadis itu kembali bersembunyi di balik dinding yang tidak jauh dari kamari itu.
Memastikan jika dia memang keluarga yang tadi fotonya ditunjukkan untuknya, gadis itu pergi meninggalkan tempat itu, dengan rasa bersalah yang menyusup ke dalam hatinya. Bagaimanapun dia sama-sama seorang perempuan, tapi dengan teganya dia hendak menghancurkan hidup perempuan lain.
Pandangan Alma tertuju pada sebuah mobil yang Alma yakini adalah mobil yang membawa Sisil. Dengan cepat Alma mengikuti mobil itu. Tapi Alma tetap menjaga jarak agar mereka tidak tahu jika dirinya mengikuti.
Jalanan sudah begitu jauh dari posisinya tadi tapi mobil itu terus melaju, melewati jalan berbatu, dengan samping kiri dan kanannya tampak hanya tanah dengan rerumputan yang tumbuh cukup tinggi.
__ADS_1
Hingga tak lama, mobil itu berhenti di depan bangunan kuno, menyeret Sisil hingga langkah gadis itu terseok-seok.
Alma terus mengikuti dengan mengendap-endap, hingga dirinya melihat, Sisil dimasukkan ke sebuah ruangan, dan menguncinya dari luar. Satu orang pergi meninggalkan satu yang lainnya untuk berjaga. Dan saat itulah kesempatan Alma untuk menyerang. Awalnya pria itu kalah, hingga membuat Alma lengah dan tidak sadar jika pria itu membawa pisau, membuat tangannya tergores bahkan cairan merah pun merembes membasahi pakaiannya. Alma tidak menyerah, dengan menahan sakit, Alma tetap melawan pria itu, hingga pria itu jatuh terkapar.
Brak
Dengan kasar Alma mendobrak pintu dan menemukan Sisil di dalam sana.
Flashback off
"Jadi kamu sempat ke hotel itu?" Tanya Alno melihat Alma.
"Iya Kak, dan aku yakin tidak terjadi apapun dengan Vira, aku benar-benar minta maaf," Alma menunduk merasa bersalah.
"Kau tahu Alma, aku sampai ingin menghabisimu saat ini juga jika benar-benar sesuatu terjadi pada Vira, bahkan aku tidak peduli lagi siapa orang tuamu?" Ucap Alno jujur.
"Maaf Kak," Alma menundukkan wajahnya, benar jika sesuatu terjadi pada Vira disaat dirinya pergi, maka apa yang harus dia katakan? Bahkan dengan menyalahkan dirinya sendiri, Alma juga tidak akan bisa tenang.
"Sudahlah, jadi kamu sudah menangkap pria itu bukan?" Tanya Alan mendengar dari cerita Vira tadi.
"Iya Kak, dia ada di tempat biasa, Kak Bimo sedang mengintrogasinya tapi dia tidak mau berbicara apapun, dia benar-benar setia sampai menutup mulutnya rapat, walaupun Kak Bimo sudah memberikan pelajaran padanya," ucap Vira menjelaskan.
"Baiklah, aku akan temui dia, kau ikut aku sekarang," perintah Alno agar Alma menemani Alno menemui pria yang sudah berbuat kurang ajar pada wanita yang dicintainya.
Alno akan membuat pria itu merasakan akibatnya karena sudah berani menyentuh miliknya.
Alma mengangguk dan mengikuti langkah Alno keluar dari ruangan itu.
"Lepaskan dia dan antarkan kembali ke rumahnya dengan selamat," Alno memerintah salah satu orangnya yang menjaga kamar itu.
"Baik Tuan," jawab orang itu bersiap untuk melaksanakan perintah Tuannya.
__ADS_1
Sisil yang mendengar itu langsung berteriak, "Kak tunggu!" seketika ucapan Sisil langsung, menghentikan langkah Alno.