
"Kenapa aku bisa lupa?" Alno terus merutuki dirinya sendiri sepanjang jalan, yang sampai lupa jika dirinya tadi turun untuk ke dapur membuatkan s*s* untuk istrinya.
Dengan berjalan tergesa-gesa, Alno menuju dapur, istrinya pasti sudah lama menunggunya.
"Loh sayang belum tidur?" Tanya Jasmine yang ternyata juga ada di dapur.
"Belum Ma, mau buatin s*s* buat Vira dulu, Mama sendiri kenapa belum tidur?"
"Ini!" Jasmine menunjukkan botol minuman yang berisi air penuh.
"Persediaan di kamar habis, makanya Mama ambil," jawab Jasmine.
"Ya sudah Mama balik ke kamar dulu ya," pamit Jasmine pada putranya dan berjalan meninggalkan Alno.
Tapi langkah Jasmine terhenti saat mengingat sesuatu, "Oh ya, Vira bagaimana? Dia tidak ikut kan? Sebenarnya Mama kasihan juga kalau dia tidak ikut, tapi mau bagaimana lagi ini demi dia sendiri anak kalian, hmm kalau tidak, bagaimana kalau kamu juga tidak perlu ikut? nanti biar Mama jelasin sama Bibi Flo dan Paman Max, pasti mereka mengerti," ujar Jasmine memberikan saran.
"Hmm pengennya Alno juga begitu sih Ma, Alno mau jaga Vira saja, tapi Viranya yang tidak mau, dia bilang salah satu diantara kami, setidaknya ada yang hadir di pesta pernikahan Ken, Alno sudah berusaha menolak, tapi tetap saja Vira inginnya seperti itu, Alno jadi tidak bisa berkata apa-apa lagi, apalagi Mama tahu Vira saat ini sangat sensitif."
"Hmm iya juga sih, Tapi bagaimana dengan Vira? Mama tidak tega meninggalkannya sendiri, walaupun beberapa pengawal sudah ditugaskan, tapi tetap saja Mama khawatir," kata Jasmine mengungkapkan kecemasannya.
"Mama tidak perlu khawatir, Alno sudah ada jalan keluarnya, lebih baik Mama istirahat sekarang, urusan Vira serahkan sama Alno ya," kata Alno meminta Mamanya istirahat, dia tidak ingin Mamanya banyak pikiran.
"Baiklah, kamu juga istirahat, kita mau ambil jam penerbangan pagi, jadi jangan sampai nanti kamu bangun kesiangan," pesan Jasmine sebelum akhirnya dirinya masuk ke kamarnya.
Alno lagi-lagi merutuki dirinya sendiri karena untuk kedua kalinya dirinya lupa membuat s*s* untuk Vira.
Dan dengan gerakan cepat, Alno segera membuat s*s* yang sudah dua kali dia lupakan.
Alno kemudian berjalan dengan tergesa-gesa menuju kamarnya, berharap istrinya belum tidur dan masih menunggunya.
"Kakak kenapa lama sekali?" Tanya Vira yang sudah kesal menunggu Alno.
Sebenarnya Vira tadi ingin menyusul suaminya tapi Vira urungkan, karena jika suaminya tahu, bisa-bisa besok Alno tidak akan membiarkan Vira keluar dari kamarnya.
"Maaf sayang, tadi Kakak melihat Vier jadi Kakak samperin dia dulu," ucap Alno berbicara jujur.
__ADS_1
"Ya sudah lain kali jangan seperti itu, aku sudah mengantuk tapi Kakak lama sekali," kata Vira dengan mengerucutkan bibirnya.
Cup
Alno langsung mengecup bibir itu, membuat Vira langsung tersenyum.
"Ya sudah sini aku minum!" Ucap Vira kemudian meminta gelas yang Alno pegang.
Alno pun memberikannya, "Diminum sampai habis ya, biar anak kita sehat," kata Alno sambil mengelus perut istrinya yang masih rata.
"Iya Papa," jawab Vira menirukan suara anak kecil dan membuat Alno tertawa akan tingkah istrinya.
"Ya sudah, Ayo tidur!" Kata Alno mengambil gelas di tangan istrinya yang sudah kosong, meletakkannya di atas meja kemudian membantu istrinya berjalan menuju tempat tidur.
Vira berbaring begitupun dengan Alno yang ikut merebahkan diri di samping Vira sambil memeluknya erat.
*
*
Mereka berdua saat ini duduk di rerumputan sebuah taman yang luas, sayang sekali taman itu tampak sepi padahal udara di sana sangat segar karena masih banyak pepohonan yang rimbun.
"Hmm apa ya?" Vira terdiam seolah-olah sedang berpikir.
"Nanti saja deh, sini kaki Kakak diluruskan!" Pinta Vira dan Alno hanya bisa menurutinya.
Kemudian Vira pun berbaring di kaki suaminya, menatap langit yang tampak cerah, bahkan burung-burung beterbangan kesana kemari seolah sedang bermain-main menikmati hari yang cerah.
"Kak Alno ingin anak kita laki-laki atau perempuan? Tanya Vira mengelus wajah suaminya yang kini menunduk menatapnya.
"Laki-laki ataupun perempuan sama saja yang penting dia dan ibunya sehat," jawab Alno yakin.
Vira tersenyum mendengarkan jawaban suaminya.
"Hmm terus, Kak Alno mau kita punya anak berapa?" Tanya Vira malu-malu.
__ADS_1
"Hmm berapa ya?" Kini Alno yang tampak berekspresi seakan dirinya sedang berpikir.
"Ih Kak Alno lama."
"Sabar dong sayang, Kakak juga sedang berpikir, mmm berapa ya, mungkin 4 atau 5 biar ramai," jawab Alno menerawang jauh memikirkan jika hal itu benar-benar terjadi.
Kak lihat itu yang disana! Aku ingin itu Kak sekarang!" Ucap Vira merengek seperti anak kecil menunjuk stand penjual makanan yang ada di seberang jalan.
"Baiklah, apapun yang kamu mau sayang, ya sudah kamu bangun dulu, Kakak mau kesana," kata Alno membantu istrinya untuk duduk.
Alno pun berdiri dan berjalan menuju penjual makanan yang istrinya inginkan.
Vira melambai pada Alno yang sedang mengantri dan Alno membalasnya dengan senyuman.
Dengan membawa makanan yang istrinya inginkan, Alno berjalan cepat menghampiri Vira.
Tet
Tet
Ckit
"Awas Kak!" Teriak Vira yang melihat tiba-tiba mobil melintas dengan kecepatan tinggi hampir dekat dengan suaminya.
"Tidak!" Vira berteriak begitu keras, dan tiba-tiba..
Brak
Tubuh Alno tergeletak di jalan dengan cairan merah hampir di seluruh tubuhnya.
"Kak Alno!" Vira berlari dengan sekuat tenaganya. Tempat yang dekat dari jangkauannya terasa sangat jauh.
Tubuh Vira langsung merosot begitu saja, saat sudah sampai di hadapan suaminya yang tergeletak.
"Kak Alno! Bangun Kak! Tidak! Ini tidak mungkin! Kak Alno tidak mungkin meninggalkanku, Tidak mungkin, Tidak!" Vira berteriak dengan air mata yang sudah membanjiri seluruh wajahnya.
__ADS_1