
"Ah Vira kamu jangan salah paham, aku tidak bermaksud untuk mencuri dengar pembicaraan kalian, aku cuma tadi tidak sengaja," kata Kimmy menatap Vira merasa bersalah.
Vira menatap Kimmy sekilas, kemudian dirinya berlalu begitu saja tanpa menanggapi apa yang Kimmy katakan.
Kimmy menghela nafas panjang, setelah kepergian Vira. Kemudian dirinya melanjutkan niatnya, untuk ke kamar Alno.
Tok
Tok
Kimmy mengetuk pintu kamar Alno yang sudah terbuka lebar.
Dapat Kimmy lihat Alno yang sedang duduk di atas ranjang menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan kini menatapnya.
Kimmy tersenyum, "Boleh aku masuk?" Tanya Kimmy meminta izin sebelum dirinya benar-benar masuk ke kamar pria itu.
Alno hanya mengangguk, sementara itu, Kimmy berjalan mendekat dan duduk di samping Alno yang masih menatap kosong ke arah depan, karena dirinya tadi hanya menoleh sebentar saja saat melihat kehadirannya.
"Aku tidak apa-apa," kata Kimmy kemudian.
Alno spontan menatah ke arah Kimmy, "Maksud kamu?" Tanya Alno bingung dan itu terlihat jelas dari kernyitan di dahinya.
"Aku tadi tanpa sengaja mendengar perbincangan kalian, hmm maksud aku kamu dan Vira, jadi aku akan pergi dari sini, aku tidak mau hubungan kamu dan Vira jadi menjauh karena aku Rae, aku sudah menganggapmu seperti Kakak aku sendiri, aku tahu kamu mencintai Vira, jadi aku tidak mau merusak apa yang menjadi kebahagiaanmu," Kimmy menggenggam Alno yang kini tampak kacau.
__ADS_1
Kimmy tahu bagaimana perasaan Alno saat ini, dan tadi yang diminta Vira pasti akan menyulitkan laki-laki yang sudah beberapa tahun ini menjaganya.
"Maafkan aku, juga maafkan Vira, aku.."
"Tidak apa-apa Rae, aku tahu bagaimana perasaan Vira, mungkin dia takut aku menjadi.. maaf ancaman dalam hubungan kalian," kata Kimmy menjeda ucapannya tidak enak pada Alno.
Alno menghela nafas, ditatapnya Kimmy dengan penuh rasa bersalah. Alno kemudian mengacak rambut Kimmy, "Baiklah, tapi biar aku yang menyiapkan tempat tinggalmu, sekali lagi aku minta maaf, dan terima kasih karena mau mengerti," ucap Alno penuh ketulusan.
"Hmm masalah tempat tinggal, itu terserah kamu saja, aku tidak masalah," ucap Kimmy dengan senyum yang menghiasi sudut bibirnya
"Dan lagi kamu tidak perlu terus meminta maaf, santai saja, sungguh aku tidak apa-apa, oh ya aku tadi kesini mau ambil tas yang ketinggalan disini kemarin," ucap Kimmy setelah ingat tujuan dirinya ke kamar Alno.
"Oh itu, tuh di sebelah kiri, kamu ambil sendiri saja ya," ucap Alno membiarkan Kimmy mengambil barangnya sendiri.
Kimmy menatap Alno cukup lama sebelum dirinya mengambil barangnya dan segera keluar ketika mendapati Alno yang diam merenung.
***
Saat ini, Vira sedang duduk di taman, untuk sekedar menenangkan pikirannya. Tiba-tiba, kembarannya datang menghampirinya dengan wajahnya yang kusut, dan Vira tahu pasti penyebab Vier seperti itu, siapa lagi jika bukan karena Sheira, kekasih Vier sekaligus teman sekelasnya sewaktu SMA.
"Kenapa?" Tanya Vira berbasa-basi saat melihat Vier yang duduk di bangku kayu samping dirinya duduk.
Vier merebut jus jeruk yang dipegang Vira dan langsung meneguknya.
__ADS_1
Vira mencebikkan bibirnya kesal, saat minumannya harus tandas dalam sekejap mata.
"Ambil sendiri kenapa Vier, bukan langsung merebut punyaku, udah gitu dihabisin lagi, gak disisain bahkan setetes saja," ucap Vira dengan bibirnya yang mengerucut.
"Aku haus, ada minuman di depan mata, kenapa harus susah payah bikin dulu," jawab Vier cuek.
"Ya kan bukan kamu yang bikin, tapi Bibi dan kamu hanya menunggu saja sampai Bibi selesai membuat, terus membawanya kemari," kata Vira masih saja tidak terima karena minumannya dihabiskan oleh Vier.
"Kelamaan," Vier kemudian membaringkan tubuhnya terlentang dengan menekuk lutut, karena bangku yang mereka duduki tidak terlalu panjang, dengan berbantalkan paha Vira, Vier menatap langit yang kini tidak panas juga tidak terlalu mendung.
"Dulu waktu kecil, aku sangat berharap agar cepat tumbuh dewasa, karena aku pikir jika kita sudah besar, kita bisa melakukan apapun yang tidak bisa dilakukan anak kecil, kita bisa menjaga Mama dan Papa, Kakek dan Nenek juga Opa dan Oma, aku pikir menjadi dewasa adalah awal kebahagian kita, ternyata aku salah, nyatanya menjadi dewasa tidak semenyenangkan itu, banyak peristiwa dan kejadian yang ternyata membuat kita merasakan sakit dan terluka, banyak hal yang perlu kita pikirkan kedepannya, banyak hal yang bisa menguras pikiran kita, dan juga saat menjadi dewasa, kita justru semakin jauh dengan orang-orang yang awalnya dekat. Mereka sudah sibuk dengan dunianya masing-masing, sehingga waktu bertemu pun akan semakin menipis. Andai waktu bisa diulang, rasanya aku tidak ingin cepat-cepat tumbuh besar," kata Vier memejamkan matanya.
Vira mengelus rambut Vier dengan penuh kelembutan. "Tidak boleh bicara seperti itu, lagian tidak mungkin waktu bisa diputar kembali, menjadi besar dan dewasa kan memang sudah prosesnya, jadi tidak bisa disesali seperti itu, masalah pasti ada, bahkan sebelum kita menjadi dewasa, tapi berhubung dulu kita masih kecil, ya kita tidak terlalu menanggapinya, jika ada masalah yang besar, ini bagi-bagi anak-anak ya, hmm pastinya juga penyelesaiannya dibantu orang tua, tapi kan sekarang kita sudah besar, ya kita harus belajar bertanggung jawab dengan menyelesaikan masalah kita sendiri, tidak mungkin kan jika kita terus membebani orang tua dengan masalah yang kita punya? Intinya menjadi besar dan dewasa membuat kita banyak belajar, membuat kita yang tidak tahu menjadi tahu, membuat kita jadi orang yang lebih bertanggung jawab lagi, sebenarnya semua juga berdasarkan pada diri kita, banyak juga Kok, banyak orang yang bertambah besar tapi tidak bisa berpikir secara dewasa. Dan sebaliknya ada anak yang usianya di bawah kita justru bisa berpikir dewasa, intinya itu semua tergantung pada diri kita sendiri. Dan untuk yang terakhir kamu bilang, kamu memang benar, karena bukan cuma kamu yang merasakannya, aku pun juga. Semakin dewasa kita semakin jauh dari orang-orang. Ya ini mungkin kepada seperti kalimat ada pertemuan pasti ada perpisahan, dan semua itu tergantung kitanya juga, bagaimana usaha kita setelah perpisahan itu, apa kita masih berhubungan, atau mungkin memilih jalannya yang tinggal jauh hingga akhirnya hilang komunikasi."
Vier menatap tepat di wajah Vira, "Sejak kapan nih kamu jadi bijak kaya gini," Vier yang gemas menarik hidung mancung Vira yang kini memerah akibat ulah Vier.
"Apaan sih!" Vira menurunkan tangan Vier dari hidungnya, "kamu aja yang baru tahu, padahal sejak dulu aku adalah gadis yang bijak," kata Vira membanggakan dirinya sendiri.
"Iyain aja deh, biar kamunya senang," Vier kali ini mencubit pipi Vira.
"Vier!" Teriak Vira saat Vier bangun dari rebahannya, dan Vira pun langsung mengejar Vier.
Tanpa mereka sadari ada seseorang yang menatap mereka tidak suka.
__ADS_1