
"Mama dan Papa beneran akan pulang sekarang? Vira ikut ya, Vira bakalan bosan Ma disini, karena tempat ini jauh dari keramaian," Vira terus saja merengek meminta untuk ikut pulang bersama Mama dan Papanya yang kini sudah tampak siap.
Bahkan Vier, keluarga Paman Jason, Kakek dan Neneknya, Oma dan Opanya semua sudah kembali lebih dulu. Dan kini hanya tinggal Stevano dan Jasmine. Itulah kenapa Vira ingin ikut pulang karena seluruh keluarganya sudah tidak ada yang disana.
Stevano dan Alno sedari tadi hanya melihat dan mendengar kedua wanita yang sangat mereka cintai itu berbicara.
"Sayang lebih baik kamu disini dulu, menghabiskan waktu kalian berdua, bukannya jika di rumah ada yang bisa saja mengganggumu," bisik Jasmine di telinga putrinya.
Vira tampak berfikir dan mengangguk setuju, bahkan terlihat sangat bersemangat pada apa yang Mamanya katakan.
Stevano dan Alno mengernyitkan dahi bingung, pasalnya tadi keduanya sudah membujuk Vira berkali-kali tapi Vira tidak mau mendengarkan, dan sekarang saat berbicara sama Mamanya, Vira justru langsung setuju dan bahkan terlihat begitu senang, entah apa yang dibisikkan oleh Jasmine.
Stevano dan Alno saling pandang kemudian sama-sama mengedikkan bahunya acuh.
"Ya sudah, Mama dan Papa pulang dulu ya, kalian baik-baik disini," pamit Jasmine kepada putra dan putrinya.
"Iya Mama dan Papa hati-hati," ucap Alno dan Vira bersamaan.
Stevano dan Jasmine kemudian masuk ke dalam mobil, melambaikan tangan pada Vira dan Alno, yang dibalas juga dengan lambaian tangan keduanya yang menyaksikan mobil yang membawa Mama dan Papanya berlalu meninggalkan mansion yang besar itu.
"Ayo masuk!" Ajak Alno begitu mobil yang membawa Mama dan Papanya sudah tidak terlihat lagi.
Vira mengangguk dan mengikuti Suaminya masuk, "Kak, aku mau ke taman yang di sana dulu," Vira meminta izin kepada Alno untuk pergi ke taman yang dilihatnya kemarin.
Alno mengangguk, "Tapi jangan lama-lama ya, sebentar juga langit juga akan gelap," kata Alno yang melihat jika sekarang sudah menunjukkan pukul 5 sore.
"Hmm baiklah," jawab Vira yang memang masih merasa canggung bersama Alno hanya berdua, makanya dia memutuskan untuk pergi ke taman yang dilihatnya. Di rumahnya sekarang memang ada taman tapi tidak seluas di tempat ini, dan pertama kali melihatnya Vira sangat suka.
"Dan juga biarkan para pelayan menemanimu di sana," kata Alno yang menunjuk sekitar lima pelayan untuk menemani istrinya.
"Tapi Kak.." Vira yang hendak protes mengurungkan niatnya begitu Alno menatapnya tajam yang berarti bahwa suaminya itu tidak menerima penolakan.
"Baiklah," ujar Vira yang hanya bisa pasrah dan mengalah.
__ADS_1
Akhirnya Vira dengan beberapa pelayan yang mengikutinya di belakang, berjalan melangkahkan kaki mereka menuju taman buatan Jasmine dulu.
Sementara Alno mengambil ponsel yang ada di saku celananya, setelah tadi sang Mama mengembalikannya.
Diaktifkannya ponsel yang memang kemarin sengaja dimatikan. Dan begitu menyala, banyak pesan dan pemberitahuan panggilan tak terjawab berdesakan masuk memenuhi memori ponselnya. Termasuk dari orang-orang suruhannya dan juga Kimmy.
Alno membuka pesan yang Kimmy kirim terlebih dahulu.
"Rae kamu kemana saja? Kenapa sampai sekarang belum kembali? Rae kau baik-baik saja kan? Rae aku sudah menemui pemilik hotel untuk meminta izin melihat rekaman saat kejadian itu, sebelumnya aku minta maaf, kita kalah cepat, kata petugas hotel sudah ada yang lebih dulu mengambil itu, dan kamu tahu Rae saat aku tanya siapa yang mengambilnya, mereka tidak tahu pasti tahu siapa orang itu, tapi yang jelas dia adalah seorang gadis," tulis Kimmy di pesannya memberitahu Alno.
"Rae!"
"Rae, juga sudah membaca pesanku segera hubungi aku yah,"
Alno hendak menelpon Kimmy, tapi sebelum itu, ada panggilan lain yang lebih dulu masuk, dan Alno pun langsung menjawabnya.
"Ya," jawab Alno.
"Maaf Tuan, gadis ini terus berteriak meminta agar berbicara dengan Anda," ucap salah satu orang Alno yang menghubunginya.
"Berikan ponselmu padanya," ucap Alno sambil menunggu seseorang yang tadi bilang ingin berbicara dengannya.
"Kak aku minta maaf Kak, aku minta maaf karena tidak bisa menjaga Vira, Kak bagaimana keadaan Vira sekarang? Vira benar-benar baik-baik saja kan Kak?" Tanya Sisil yang memang ada nada kekhawatiran di setiap kalimat yang dilontarkannya..
"Kak, Kakak percaya padaku kan Kak, Vira tidak akan salah paham dan mengira aku pelakunya kan Kak?"
"Kak sungguh bukan aku yang melakukannya. Aku berani bersumpah, aku juga tidak tahu apa yang mereka lakukan dan siapa orang itu," kata Sisil berusaha meyakinkan Alno.
"Kita bicarakan nanti," ucap Alno yang langsung mematikan panggilan.
Sisil mendesah kecewa, "Sepertinya Kak Alno tidak mempercayaiku," gumamnya pelan.
"Alma," Sisil bangun dari duduknya begitu pintu terbuka dan menampilkan sosok perempuan yang waktu itu menolongnya.
"Hmm, bolehkan aku memanggilmu hanya dengan nama saja, sepertinya usia kamu lebih muda dari aku," ucap Sisil ketika perempuan yang bernama Alma sudah berada di hadapannya.
__ADS_1
"Hmm terserah kamu saja, bagaimana, aku dengar dari mereka, kamu tadi menelepon Kak Alno?" Tanya Alma menunjuk para pria berpakaian serba hitam yang berjaga di depan pintu.
Sisil kembali menghela nafas kecewa. "Sepertinya Kak Alno tidak percaya padaku," ucap Sisil dengan suara yang begitu lirih.
Alma menarik kursi lain yang ada di ruangan itu, dan duduk berhadapan dengan Sisil.
"Boleh aku tahu apa yang sebenarnya terjadi saat itu, mungkin Kak Alno bukan tidak percaya sama kamu, tapi dia masih marah padanya dirinya sendiri, kamu tahu apa yang terjadi pada Vira saat itu benar-benar tidak bisa menoleransi pelakunya.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada Vira saat itu?" Tanya Sisil penasaran karena Alma bilang Sisil harus menjelaskan semuanya pada Vira dan Alno.
"Vira hampir saja dil*c*hkan oleh seseorang," jawab Alma mengingat kejadian itu.
Ponsel Alma berdering, "Sudahlah nanti kita sama-sama jelaskan pada Kak Alno apa yang terjadi sebenarnya, aku angkat telepon dulu," Alma bangun dari duduknya dan pergi meninggalkan Sisil kembali sendiri.
*
*
Sementara di tempat lain, Vira tampak menghirup dalam-dalam aroma bunga yang ada di depannya.
"Wangi," gumamnya.
Vira kemudian menoleh ke belakang ke arah para pelayan yang mengikutinya, tampak kelima pelayan itu terus saja menunduk, membuat Vira jadi canggung dan merasa tidak enak sendiri, dirinya bukan putri ataupun ratu dan rasanya tidak pantas jika diperlakukan seperti itu.
"Angkat kepala kalian!" Perintah Vira kepada para pelayan yang ditugaskan menemani dirinya.
"Maaf Nona, kami tidak berani," ucap salah satu pelayan yang Vira yakini sudah cukup lama bekerja disini.
Vira memanyunkan bibirnya tidak suka dengan jawaban pelayan itu.
"Ayolah Bi! Jangan seperti ini, aku ingin kita mengobrol dan rasanya tidak pantas jika kita mengobrol tapi kalian terus menundukan kepala," ucap Vira menatap mereka satu persatu.
Vira menghela nafas berat karena sepertinya perintahnya tadi tidak didengarkan sama sekali. Vira pun akhirnya memilih kembali melanjutkan kegiatannya melihat bunga-bunga.
"Kalian pasti yang menanami semua tanaman bunga di taman ini, hmm ini indah sekali," komentar Vira sambil kembali menghirup wangi bunga itu.
__ADS_1
"Bukan Kami Nona, Kami hanya merawatnya, yang membuat taman ini adalah Nyonya Muda, Nona," jawab pelayan yang tadi menjawabnya.
"Maksudnya Mama?" Tanya Vira menatap mereka satu persatu.