
"Apa mereka sedekat itu?" Ucap Vira sangat pelan.
"Hmm kenapa?" Kimmy menatap Vira yang tampak murung.
"Hah kenapa apanya?"
"Tidak, sepertinya tadi kamu seperti ngomong sesuatu," jawab Kimmy menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Oh tidak, aku tidak bilang apa-apa, oh ya aku ke kamar dulu ya, sudah mengantuk, sebaiknya Kak Kimmy juga istirahat," Vira meninggalkan Kimmy yang hanya mengangguk.
Dengan perlahan Vira melangkahkan kakinya menaiki anak tangga, sesampainya di atas, Vira melihat pintu kamar Vier sedikit terbuka.
Vira masuk ke dalam kamar dengan pelan. Tampak gorden jendela yang berterbangan seperti melambai-lambai tertiup angin yang berhembus dari pintu yang terbuka.
Vira mengedarkan pandangan mencari keberadaan saudara kembarnya. Di atas tempat tidur tidak ada, di kamar mandi pun kosong dan bisa Vira tebak jika Vier pasti saat ini ada di balkon kamarnya.
Vira berjalan menuju balkon, dan tampak seorang pria yang menumpukan kedua tangannya di pembatas balkon dengan pandangan yang mengedar ke seluruh penjuru taman rumahnya.
Vira mendekat dan berdiri di samping Vier dengan tangan yang disilangkan di depan dada karena udara malam yang kini terasa dingin hingga menusuk kulit.
"Belum tidur?"
Tanpa menoleh, Vier pun tahu siapa yang bertanya.
"Belum ngantuk, kamu sendiri kenapa belum tidur? Jangan terlalu banyak berpikir, cukup jalani saja seperti air mengalir," kata Vier yang kembali memberikan nasihat kepada Vira.
"Ya jika semua semudah yang kamu katakan, pasti aku tidak akan memasukkan hal-hal seperti itu ke dalam pikiran, tapi kenyataannya apa yang kita jalani tidak sama seperti logika yang bekerja. Kamu mudah berbicara seperti itu, sangat mudah karena sampai saat ini hubungan kamu dan Sheira selalu baik-baik saja, hingga jujur hal itu membuatku merasa iri pada hubungan yang kalian jalani," kata Vira yang jujur.
__ADS_1
Berpacaran dari SMA, hubungan kembaran dengan kekasihnya selalu baik-baik saja, mereka jarang sekali bertengkar, apalagi hanya karena masalah yang sepele, intinya mereka berdua selain saling mencintai juga saling mengerti, membuat hubungan mereka bisa bertahan hingga selama ini.
Vier tersenyum miris," Apa yang kau lihat hanya seperti itu, nyatanya semua tidak seindah seperti apa yang dilihatnya, orang luar yang menyaksikan hanya bisa menilai dari apa yang dilihatnya, mereka tidak tahu saja, jika yang terlihat baik-baik saja ternyata tetap saja ada sesuatu yang sebenarnya tidak baik-baik saja."
Vira menoleh dan sedikit mendongak menatap Vier yang lebih tinggi darinya dari arah samping.
"Memangnya ada masalah antara kamu dan Sheira?" Tatap Vira penuh tanya.
Vier menggeleng, "Entahlah, bisa dibilang masalah mungkin bukan, tapi jika dibilang bukan aku menganggap ini masalah yang membuat hubungan kita ya seperti itu," kata Vier tidak menjawab dengan jelas.
"Maksudnya?" Vira kini menyandarkan tubuhnya di pembatas balkon agar dirinya bisa sepenuhnya melihat Vier.
"Sampai sekarang kita masih backstreet di depan keluarga Sheira, Sheira selalu beralasan jika aku ingin mengantarnya ke rumah ataupun menjemputnya dari rumah, selama ini jika kita akan jalan atau kemanapun, Sheira selalu memintaku ke tempat yang sudah ditentukannya, dan saat aku bilang ingin ketemu orang tuanya, dia selalu bilang jika orang tuanya tidak mengizinkannya berpacaran. Kamu sangat tahu kan Ra, jika aku dan Sheira sudah berpacaran cukup lama, 7 tahun bukanlah waktu yang sebentar, aku ingin serius padanya dan langkah awal aku ingin mengenal orang tuanya, keluarganya, tapi Sheira seakan tidak mengizinkan aku melakukan itu, dengan sikap Sheira yang seperti itu membuat aku jadi ragu akan perasaannya," Vier menatap kosong ke langit yang kini tampak gelap, bulan dan bintang seakan bersembunyi mengikuti suasana hati Vier saat ini.
"Apa kamu tahu alasan Sheira seperti itu?"
Vira mengerjap mendengar jawaban Vier, "Maksud kamu, Kakak Sheira mengatakan pada orang tuanya agar Sheira tidak diizinkan berpacaran?"
Vier menggeleng lagi, "Bukan karena itu."
"Terus tadi kamu bilang karena Kakaknya itu maksudnya apa?" Tanya Vira yang sudah tidak sabar ingin mendengar jawaban Vier segera.
Dalam hati Vira merasa kesal karena Vier tidak langsung memberikan penjelasan secara rinci dan hanya menjelaskan setengah-setengah saja, membuat Vira harus sabar, Vier sedang galau, dan untuk menghadapinya dibutuhkan kesabaran.
"Intinya karena Sheira sangat menyayangi kakaknya, Kakaknya belum menikah dan dia ingin Kakaknya menikah lebih dulu, itu yang selalu dia bilang, untuk alasan yang lebih jelasnya aku tidak pernah mengerti karena Sheira tidak pernah mengatakannya," Vier kemudian menatap Vira yang masih menatapnya.
"Mungkin Sheira punya alasan yang kuat kenapa dirinya mengambil keputusan itu, atau kalau tidak kamu bisa bicarakan kepada Kakaknya, mungkin saja Kakaknya akan mengerti dan tidak keberatan jika kalianlah yang lebih dulu menikah," Vira memberikan saran kepada kembarannya.
__ADS_1
Vier tampak mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti, "Kamu benar, tidak ada salahnya aku mencoba menemui Kakaknya," Vier seperti baru saja mendapatkan angin segar di tengah tanah yang gersang mendapat saran kembarannya yang patut dicoba.
"Oh ya bagaimana kamu dan Kak Alno?" Kini Vier mengalihkan pembicaraan membahas tentang Vira, setelah dirinya sudah menemui solusi untuk menyelesaikan masalahnya.
Vira mengedikkan bahunya, kemudian berbalik badan, tangannya terulur dan menengadah, tetes-tetes air membasahi telapak tangannya.
"Apa kamu masih memikirkan apa yang tadi aku katakan?"
"Vira menggeleng, "Seperti apa yang tadi pernah aku katakan."
"Wah Hujan turun, bagaimana jika lebih baik kita masuk?" Vira mendorong tubuh Vier agar segera masuk tanpa menunggu persetujuan saudaranya itu,dan begitu keduanya masuk, Vira menutup dan mengunci pintu balkon.
Vier lebih dulu melangkah dan duduk di atas tempat tidurnya. Tak lama Vira menyusul dan ikut duduk di sebelah Vier.
"Aku tidak ingin melarangmu lagi, lupakan ucapanku sebelumnya, kamu berhak bahagia, Kak Alno juga sudah menceritakan semuanya padaku, perjuangkan pada apa yang memang ingin kamu dapatkan, aku akan selalu mendukungmu," ucap Vier dengan tiba-tiba.
Vira menatap Vier seakan belum percaya pada apa yang baru saja Vier ucapkan.
"Vier terima kasih, terima kasih karena mendukung dan percaya padaku. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana jika kamu masih dengan pemikiranmu yang sebelumnya," lirih Vira apalagi saat dirinya mengingat perkataan Vier sebelumnya.
"Aku belum lama menyadarinya bahwa bagaimanapun aku tidak boleh egois hanya dengan pemikiranku saja, yang aku ingin adalah melihat kamu bahagia Ra, karena kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku, aku akan mendukung apapun keputusanmu kedepannya, yang terpenting itu memanglah sesuatu yang terbaik."
Vira langsung memeluk Vier, dan Vier pun membalas pelukannya. Setelah itu Vira berpamitan untuk kembali ke kamarnya.
Dengan perasaan penuh kelegaan Vira melangkahkan kakinya menuju ke kamar. Vira membuka pintu dan langsung masuk ke dalamnya dan saat kembali melangkahkan kakinya untuk menuju ke tempat tidur, Vira begitu terkejut ketika tiba-tiba ada seseorang yang memeluknya dari belakang.
__ADS_1