My Lovely Sister

My Lovely Sister
Bab 98


__ADS_3

"Kenapa belum tidur?" Tanya Alno pada sang istri yang masih duduk sambil membaca buku seputar kehamilan.


Vira menggeleng, "Kenapa Kak?" Tanya Vira karena tadi adiknya Zeline datang ke kamarnya dan bilang jika papa mereka memanggil Alno.


"Tidak apa-apa, hanya membahas tentang Vier," kata Alno yang kemudian ikut merebahkan diri di samping istrinya.


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Vier? Apa benar wanita yang dinikahi Ken adalah Sheira?" Tanya Vira menatap suaminya yang kini berbaring dengan posisi menyamping sehingga kini mereka saling berhadapan.


"Iya," ucap Alno dengan lirih, kemudian dia berganti posisi terlentang, hingga Alno bisa menatap langit-langit kamarnya.


Vira mengikuti apa yang suaminya lakukan, "Vier pasti tidak baik-baik saja Kak, walaupun dia bersikap biasa saja, tapi kenyataannya pasti tidak seperti itu, kenapa? Kenapa jika Sheira lebih memilih Ken, kenapa dia harus membuat Vier menunggu? Bukan menunggu dengan waktu yang sebentar tapi lama, bahkan sangat lama, jika dia lebih menyukai Ken, bukannya dia harus katakan dari awal,  setidaknya rasa sakit yang Vier rasakan tidak sampai separah ini," ucap Vira sendu.


"Dan kenapa Ken setega itu sama Vier, bukankah kita ini saudara, tapi kenapa Ken mengkhianati Vier?" Vira kini sudah meneteskan air matanya membayangkan bagaimana rasanya jadi Vier.


Alno yang menyadari istrinya menangis langsung merengkuhnya, mendekap ke dalam rasa nyaman yang dia berikan. Alno bahkan hanya diam saja, membiarkan istrinya yang terus mengeluarkan kata apa saja yang ada di dalam pikirannya.


"Sekarang Vier dimana Kak? Semenjak aku pulang aku tidak pernah melihatnya," Tanya Vira melepaskan pelukannya dan memandang suaminya.


"Vier tidak tinggal disini lagi sayang, dia memutuskan tinggal di apartemen yang baru dibelinya."


"Sejak kapan?" 


"Sejak kepulangan kami, katanya dia ingin sendiri," ucap Alno yang kemudian kembali tidur dengan posisi menghadap istrinya.


"Kamu percaya sama Vier kan?"


Vira pun mengangguk, "Ya aku percaya kalau Vier bisa menjalaninya, Vier akan baik-baik saja seiring berjalannya waktu," kata Vira yang juga ikut membalik badannya.


Alno mendekat dan memeluk sang istri, "Sekarang lebih baik kita tidur," katanya kemudian keduanya pun memejamkan matanya.


*


*


*

__ADS_1


"Kamu yakin sayang, akan menemuinya?" Tanya Alno sambil menatap sang istri yang tengah memakaikan dasi untuknya.


"Iya Kak, aku ingin semuanya selesai, dan tidak ada yang mengganggu pikiranku lagi," ucap Vira yakin.


"Sudah," tambahnya kemudian merapikan jas sang suami.


"Tapi sayang…"


"Kalau Kakak khawatir aku akan meminta Cinta menemaniku, aku sudah kirim pesan semalam, katanya Cinta bisa sehabis nanti pulang kuliah," ucap Jasmine yang melihat ada kekhawatiran di raut wajah suaminya.


Vira paham akan itu, pasti ada ketakutan tersendiri yang Alno rasakan saat bilang dirinya akan pergi.


"Kak, aku pasti baik-baik saja," kata Vira kembali meyakinkan suaminya.


Alno menghela nafasnya berat, "Baiklah tapi Vian juga akan menemani kalian, nanti Kakak akan menghubunginya," kata Alno pada akhirnya.


"Tapi Kak, Vian…"


"Aku yakin Vian mau, sudahlah ayo kita sarapan," ajak Alno pada Vira cepat, sebelum istrinya itu sempat protes pada keputusannya tadi.


Alno pun dengan sangat hati-hati menuntun istrinya turun dari tangga menuju ke dapur.


"Sepertinya kita nanti harus pindah ke kamar bawah sayang, aku tidak mau jika kamu nanti kelelahan naik turun tangga, kasihan juga nantinya baby kita," ucap Alno sembari berjalan melewati tangga menuju ke lantai pertama.


"Boleh juga Kak," ucap Vira menyetujui ucapan suaminya tadi.


"Ya sudah, nanti Kakak akan meminta pelayan untuk memindahkan barang-barang kita."


Vira pun mengangguk mengerti. Mereka berdua pun akhirnya sampai di ruang makan dan banyak makanan sudah tersaji disiapkan oleh pelayan. Alno menarik kursi untuk istrinya duduk, setelah memastikan Vira duduk, Alno pun menarik kursi untuk dirinya sendiri sementara Vira mengambilkan makanan untuknya dan dirinya, setelahnya mereka pun makan dengan tenang.


"Kakak berangkat dulu ya sayang," pamit Alno. Kini Vira sedang mengantarkan suaminya sampai ke depan.


"Iya, Kakak hati-hati," jawab Vira yang kemudian mencium punggung tangan suaminya. 


"Hmm jaga diri baik-baik di rumah, jika nanti jadi pergi, jangan lupa kabari Kakak," ucap Alno kemudian mencium bibir istrinya sekilas dan Vira hanya tersenyum.

__ADS_1


"Ya sudah, Kakak berangkat," pamitnya lagi lalu mencium kening Vira lama.


Alno pun berjalan ke mobil dan menjalankannya. Vira memandangi kepergian suaminya sambil melambaikan tangannya, sampai mobil yang dikendarai Alno meninggalkan pelataran rumahnya.


Setelah melihat suaminya sudah pergi, Vira pun kembali masuk.


***


Seorang pria kini berjalan masuk ke dalam ruang kerjanya, setelah selesai rapat.


Begitu pintu dibuka dilihatnya ada seseorang yang duduk di sofa di ruang kerjanya.


"Kak Alno? Kapan Kakak kesini? Kenapa tidak memberitahuku dulu?" Tanyanya.


Alno menoleh, "Kapan kamu pulang Vier? Mama sangat merindukanmu? Tanyanya kepada pria yang bernama Vier.


"Kamu tahu, Mama merasa kesepian sekarang, Kakak dan Kak Vira sudah pindah, dan sekarang kamu pun memutuskan tinggal terpisah," tambah Alno lagi.


Vier berjalan dan duduk di sofa single, menyandarkan tubuhnya menatap langit-langit ruangan kerjanya.


Vier hembuskan nafasnya setelah menghirupnya dalam-dalam.


"Kakak tahu, aku sedang sibuk menjalankan perusahaan Kakek, jadi…"


"Itu hanya alasanmu saja Vier," potong Alno cepat.


"Kau gunakan itu sebagai alasan untuk kamu pergi dari rumah, kau pikir kami semua tidak tahu alasan yang sesungguhnya, kau tidak percaya kepada kami," ucap Alno dengan perasaan kecewa yang mendalam.


"Kak bukan seperti itu," ucap Vier mengelak atas tuduhan Kakaknya. "Aku…" ucapnya menggantung tidak bisa meneruskan kata-katanya.


"Kenapa? Benar bukan apa yang kakak katakan? Sudahlah Kakak mau pulang, jangan lupa kamu harus datang di hari ulang tahun pernikahan mama dan papa," ucap Alno yang kemudian bangkit dan keluar dari ruang kerja adiknya itu.


"Maafkan aku Kak, bukan tidak percaya, hanya saja aku merasa malu, aku mungkin mengecewakan kalian semua, intinya ada hal yang tidak bisa hanya untuk dijelaskan saja" ucap Vier yang kini menatap pintu ruangannya yang kembali tertutup.


"Kami tidak kecewa Vier, sama sekali tidak, kami hanya tidak menyangka jika ternyata selama ini kamu menjalani hubungan yang menyakitkan, kami tidak tahu apa-apa, jika sebenarnya kamu terus terluka," ucap Alno yang mendengarkan ucapan Vier, dibalik pintu ruangan kerja adiknya, setelah mengucapkan itu, Alno pun kini baru benar-benar pergi dari situ.

__ADS_1


Alno kemudian mengambil ponselnya menghubungi seseorang. "Kamu nanti temani Kakakmu bersama Cinta," ucapnya kemudian dan setelah itu, panggilan pun berakhir dan Alno kembali memasukkan ponsel ke dalam saku celananya.


__ADS_2