My Lovely Sister

My Lovely Sister
Bab 48


__ADS_3

Masih flashback


"Silahkan masuk!" Perintah Alno setelah membuka pintu mobilnya.


"Te..terima kasih Kak," jawab Sisil yang jantungnya saat ini berdebar semakin tak karuan.


Alno tersenyum, kemudian menutup pintu mobil dan berlari kecil menuju kursi kemudi.


Begitu masuk, Alno memasang sabuk pengamannya, kemudian menoleh ke sampingnya, dimana dia lihat, Sisil sahabat adiknya itu kini tengah menatapnya dengan tatapan memuja.


"Sisil" panggilan Alno membuyarkan pikiran Sisil yang dalam hatinya saat ini, sedang mengagumi Alno.


"Hah, i..iya Kak," Sisil menatap Alno, dan pandangan mereka bertemu.


"Pakai sabuk pengamanmu!" Ucap Alno meminta Sisil memakai sabuk pengamannya karena dia akan menjalankan mobilnya.


"Ah, i..iya Kak maaf," Sisil pun dengan cepat menuruti perintah pria yang begitu dia kagumi.


"Kenapa tidak Kak Alno saja yang pasangin seperti di drama yang selalu aku tonton?" harap Sisil dalam hatinya.


"Kita jalan sekarang ya," ucap Alno yang langsung diangguki oleh Sisil.


Setelah itu Alno pun langsung melajukan mobilnya, hingga tak lama mereka sampai di sebuah taman yang tampak sepi yang posisinya tidak jauh dari sekolah Sisil.


Jantung Sisil semakin berpacu lebih cepat, "Apa Kak Alno akan mengungkapkan perasaan padaku, hingga membawaku ke taman ini, ih Kak Alno ternyata romantis juga," batin Sisil berkata hingga tanpa sadar dirinya tersenyum.


Alno mengernyitkan dahi melihat Sisil yang senyum-senyum sendiri.


"Sisil!" Lagi-lagi gadis itu harus Alno panggil agar kembali ke dunia nyata.


"Iya Kak, kenapa?" Kata Lily yang tanpa sadar mengucapkan itu dengan sedikit berteriak.

__ADS_1


"Kita sudah sampai, kita bicara di taman saja, biar merasa nyaman," kata Alno yang kemudian turun terlebih dulu meninggalkan Sisil yang masih terdiam di tempatnya.


Sisil memegang dadanya, jantungnya seperti mau lompat dari tempatnya saja.


Perlahan Sisil turun dari mobil berjalan menghampiri Alno yang duduk di kursi besi panjang yang memang tersedia di tempat itu.


Alno tersenyum menyambut kedatangan Sisil. "Duduklah!" Perintah Alno yang dengan segera dituruti Sisil.


"Boleh Kakak minta nomor ponselmu?" Tanya Alno begitu Sisil sudah duduk di sampingnya.


Sisil melongo, bolehkah dia berteriak saat ini? Seorang Alno meminta nomor ponselnya secara langsung? Sisil benar-benar tidak menyangka. Sisil ingin Alno mengatakan hal itu sekali lagi, dan Sisil akan merekamnya, tapi apa Alno akan mau? Daripada harus malu, akhirnya Sisil menyimpan keinginannya itu hanya dalam hati.


"Apa tidak boleh?" Pertanyaan Alno membuyarkan lamunan Sisil.


"Oh, boleh Kok Kak, sangat boleh," Sisil mengambil ponselnya.


"Berapa nomor ponsel Kakak, biar saya catat," jari-jari Sisil sudah siap bergerak mengetikkan angka-angka yang akan Alno sebutkan.


Alno tersenyum kemudian mengambil ponselnya dan menyerahkan ponselnya itu kepada Sisil. Sisil menerima ponsel Alno bingung.


"Aku?" Sisil menunjuk dirinya sendiri, masih bingung dengan apa yang terjadi tadi yang begitu cepat.


"Iya, kamu saja yang tulis nomormu," kata Alno yang seakan tahu kebingungan Sisil yang tergambar jelas di wajah gadis itu.


Tangan Sisil gemetar menerima ponsel Alno, Alno bahkan sampai menggelengkan kepalanya melihat itu, Alno tidak tahu alasan kenapa Sisil seperti itu, apalagi jika bukan karena dirinya.


Sisil dengan usaha yang keras akhirnya bisa mengetikkan nomornya, dan kemudian kembali menyerahkan ponsel Alno.


"Ini Kak!" Ucap Sisil menatap Alno yang kini tersenyum menatapnya.


"Makasih ya Sisil, hmm boleh gak Kakak minta tolong lagi?" Tanya Alno sedikit ragu, dia baru mengenal Sisil, bolehkah Alni percaya pada gadis yang baru dikenalnya itu? Tapi hanya ini satu-satunya cara.

__ADS_1


"Minta tolong apa Kak?" Tanya Sisil penasaran.


"Kakak ingin kamu bantu Kakak jagain Vira ya, hmm Kakak sih bisa saja minta tolong pada Vier ataupun Ken, tapi Vira lebih banyak menghabiskan waktu denganmu, mungkin Vier dan Ken bisa memantaunya tapi tidak setiap saat, dan Kakak juga minta kamu beritahu Kakak dan kiri foto atau apapun yang sedang Vira lakukan kepada Kakak," pinta Alno dengan tatapan memohon yang sangat jarang pria itu perlihatkan.


"Kenapa Kakak ngomong seperti itu? Kan Kakak bisa menjaga Vira sendiri. Memangnya Kakak mau kemana? Apa Kakak akan pergi?" Sisil menatap Alno, terlihat ada kesedihan yang terpancar di bola mata pria itu.


"Kakak besok akan pergi, makanya Kakak meminta tolong pada kamu, kamu bisa kan? Kakak tidak tahu harus minta tolong kepada siapa lagi," kata Alno yang sudah berkaca-kaca.


"Kakak mau pergi? Kemana? Kenapa sepertinya mendadak?" Sisil tidak bisa lagi menyembunyikan kesedihannya saat mendengar jika pria itu akan pergi.


"Kakak akan melanjutkan pendidikan di luar negeri, tolong ya, kakak harap kamu mau melakukan apa yang tadi Kakak minta, ini demi kebaikan Vira," ucap Alno dengan suara pelan yang bahkan Sisil di sampingnya tidak akan mendengar.


"Sebelumnya, Kakak mau berterima kasih padamu dan meminta maaf, karena sudah merepotkan," tambah Alno tulus.


"Bagaimana? Kamu mau kan?"


Dan Sisil mengangguk semangat, kemudian tersenyum.


"Baiklah, kakak hati-hati ya berangkatnya," putus Sisil kemudian.


Alno tersenyum dan mengangguk.


Flashback off.


Dan sejak saat itu, Sisil sudah seperti mata-mata bagi Alno, melaporkan setiap kegiatan apapun yang Vira lakukan kepada Alno. Dan semenjak itu, hubungan Alno dan Sisil semakin dekat, dan Sisil salah mengartikan kedekatan mereka, padahal dengan jelas setiap mereka berkomunikasi hanya tentang Vira, semua tentang Vira.


Perlahan Sisil merasakan ada yang aneh pada interaksinya dengan Alno. Lama-lama Sisil seperti merasakan sesuatu. Tapi Sisil selalu mencoba mengabaikan perasaan itu.


Hingga saat itu tiba, saat dimana Vira mengatakan bahwa dia dan Alno bukan saudara kandung di tambah lagi Vira pernah mengatakan bahwa Alno pernah menyatakan perasaan cinta padanya, dan Vira menyesal, karena sudah menolak Alno. 


Tubuh Sisil membeku seketika, jadi ini alasannya, alasan kenapa dia merasa ada yang aneh dengan interaksinya bersama Alno. Ternyata Alno sudah memiliki gadis pilihannya. Dan gadis itu adalah Vira. Sisil jadi tahu, kenapa Alno meminta dirinya melaporkan semua yang Vira lakukan dan alasannya ternyata hanya satu, bahwa Alno mencintai Vira.

__ADS_1


Dan setelah tahu Vira dan Alno bukanlah saudara kandung, Sisil pun menyerah dan memilih untuk pergi. Karena akan lebih sulit mendapatkan Alno jika pria itu sudah mencintai seseorang, yang tak lain adalah orang yang setiap hari dirinya laporkan, siapa lagi jika bukan Vira. 


Sejak tahu kenyataan itu, Sisil memutus kontak dengan Alno dan dirinya meninggalkan negaranya karena merasa begitu kecewa entah pada siapa, mungkin pada Alno atau mungkin lebih kepada dirinya sendiri yang tidak peka dari awal.


__ADS_2